Dulu, aku tidak pernah mengerti. Kenapa kau lebih memilih balas budi daripada masa depanmu sendiri. Kini barulah aku pahami, kalau balas budi itu tidak bisa digantikan oleh apapun. Bebannya bisa dibawa hingga mati.
Beberapa tahun yang lalu, kuliah menjadi cita-cita yang harus aku kubur dalam-dalam. Tapi saat ini, kuliah menjadi aktifitas rutin yang enggan kujalani. Kenapa? Karena semua ini demi balas budi. Demi seorang sahabat yang kebaikannya sudah tak bisa kuhitung dengan jari, yang kebaikannya tak bisa kusebutkan dengan kata-kata.
Ketika dia memberi tawaran untuk kuliah, aku malah bingung harus menjawab apa. Bukannya aku tidak ingin kuliah, tapi masalahnya kondisi saat ini telah berbeda. Ketika Ibu tiada, maka hidupku juga berubah drastis, mau tak mau.
Kini, aku harus berperan sebagai Ibu Rumah Tangga yang harus memastikan kondisi rumah baik-baik saja. Mulai dari kebersihan, kenyamanan hingga makanan. Yup, sekarang aku harus menyiapkan makanan untuk orang seisi rumah. Bisa tidak bisa, aku harus turun ke dapur untuk memasak untuk mereka. Dengan memperhitungkan, kalau memasak itu bisa lebih irit dan jauh lebih hygenis, tentunya. Padahal biasanya, aku menyerahkan urusan masak memasak pada Ibu. Karena Ibuku paling pintar memasak, masakannya selalu enak. Paling, aku hanya membantunya sedikit.
Di sisi lain, aku juga harus tetap menjalankan tugasku sebagai freelancer, yakni admin di salah satu sekolah online milik seorang penulis terkenal di Indonesia. Biarpun penghasilannya tidak seberapa, tapi aku tetap senang menjalaninya. Karena jadwalnya bisa disesuaikan dengan kesibukan dan padatnya jadwal perkuliahan di kampusku
Terakhir, kuliahku.. Kampus memang kecil dan terhimpit, meski berada di tengah kota. Tapi kalau urusan tugas dan perkulian, jangan pernah ditanya. Kualitas lulusan kampus kami tidak bisa disepelekan, kami sanggup bersaing dengan para lulusan Universitas ternama.
Akan tetapi dengan kesibukanku sekarang, aku mulai miris. Rasanya sulit sekali untuk mengejar nilai maksimal seperti teman-temanku yang lain. Terlalu banyak hal yang kupikirkan, terlalu banyak hal yang berseliweran di kepala ini yang ingin kuselesaikan satu-persatu.
Terkadang, aku merasa tak sanggup dan ingin mengakhirinya sampai di sini. Apakah harus kukubur dalam-dalam saja semua mimpi ini? Toh, sudah aku alami seperti apa rasanya kuliah itu. Aku janji tidak akan menuntut atau beralasan dan tentunya tidak akan merasa penasaran lagi.
Tapi... jika aku menyerah begitu saja. Apa aku masih sanggup menemuinya dan mengemukakan alasanku. Apa aku tidak malu dengan semua kebaikannya? Rasanya sangat sulit kubayangkan, sungguh aku lebih merasa tidak sanggup lagi bila harus mengecewakan dirinya. Mungkin, aku harus bisa tetap bertahan semampuku. Semua ini, demi balas budi...
Bandung, Februari 2015
Jumat, 20 Februari 2015
Sebuah Protes Untuk Tuhan
Sebuah protes untuk Tuhan, rasanya kalimat itu pernah kubaca dalam blog
seorang teman.
Tapi entah kenapa, aku ingin menuliskannya sekarang. Dengan versi yang
berbeda tentunya.
Mungkin semua ini berawal dari kekecewaanku terhadap orang-orang di
sekelilingku.
Hya benar, mereka selalu menanyakan hal yang sama. Kapan aku punya seorang
kekasih? Kapan aku akan segera menikah. Memangnya, tak ada hal lain yang lebih penting yang bisa mereka tanyakan
selain kabar pernikahanku? Lalu keluargaku? Rasanya tak ada bedanya dengan mereka.
Kakakku yang satu, selalu sibuk dengan urusannya sendiri, acuh tak acuh dan selalu kurang
respect dengan kondisi adiknya yang tinggal satu-satunya ini. Sedangkan yang lainnya, sama saja. Dia selalu
sibuk mencarikan jodoh untukku. Tanpa menayakan pendapatku terlebih dahulu. Aah, itu sangat
menyebalkan. Kenapa dia dan suaminya
begitu kompak, berusaha agar aku bisa segera menikah?
It's all okay. Tapi, apa mereka pernah berpikir sedikit saja tentang
anaknya yang berada di sini. Seorang anak yang telah mereka telantarkan selama bertahun-tahun lamanya. Anak yang lebih memilih tinggal
bersama kakek dan tantenya daripada dengan orang tuanya sendiri. Pernahkah mereka berpikir, bagaimana nasib anak
mereka kelak?
Apapun keadaannya, anak itu masih menjadi darah daging mereka dan menjadi
tanggung jawab mereka sepenuhnya. Lalu aku bisa apa? Tanganku hanya dua. Sungguh, aku tidak sanggup bila harus
menyelesaikan semua beban ini sendiri. Aku tak sanggup menjadisingle parent untuknya. Kalian tahu sendiri, aktifitasku selama ini sudah
cukup menguras waktu dan tenagaku. Lalu ditambah dengan
anak itu, apa pantas kalau aku masih berpikir akan pernikahanku,
kebahagiaanku?
Kini sepeninggal Ibu, bukanlah kabar gembira yang aku dapatkan. Akan tetapi,
kabar yang membuatku terpaku dan tergugu. Awal tahun ini, mereka memiliki bayi lagi. Jujur saja, kebahagian mereka
membuatku kecewa. Meski sebenarnya, bayi tersebut tidak berdosa tetap saja.
Lalu sekarang, nasib anak mereka di sini, bagaimana?
Yaa Tuhaan, benarkah hal ini sudah menjadi ketentuan-Mu?
Satu waktu, salah seorang tetanggaku berkata, "Kamu ini, harusnya
menikah bukan kuliah,"
Aku hanya bisa tersenyum getir mendengarnya. Yaa, siapa orangnya yang tidak
ingin menikah? Aku juga ingin membangun keluargasendiri seutuhnya, seperti mereka. Aku ingin menggenapkan setengah dien, aku ingin mengubah dosa menjadi
pahala. Tapi yang ada, mereka hanya melukai perasaankudan meninggalkanku begitu saja.
Lalu sekarang, aku harus mencari suami
kemana? Hanya satu orang, diantara ratusan ribu orang
yang hidup di dunia ini. Tapi kenapa begitu sulitnya bagiku. Rasanya lebih
sulit daripada mencari sebongkah berlian.
Yaa Allah, sampai manakah batas kesabaranku?
Yaa Allah, sampai titik manakah aku harus tetap bertahan?
Yaa Allah, kapankah Engkau akan mengirimkan pendamping hidup untukku?
Yaa Allah, kapankah Engkau akan menurunkan keajaiban-Mu untukku?
Yaa Allah, kapankah Engkau akan mengabulkan semua doa-doaku selama ini?
Yaa Allah... Ya Allah... Ya Allah...
Senin, 25 Maret 2013
Segar... Menyegarkan
"Kawan, jangan pernah kau berpikir lain. Karena Tuhanmu, pasti tahu isi hatimu.."
Pagi itu, aku kembali membuka-buka buku catatan harian. Siapa tahu, ada rencana keluar rumah atau janji yg sempat aku lupakan. Ternyata, tak ada catatan apapun di sana. Hanya sebuah lingkaran merah dalam kalender yang bertanggal 23 Maret ini.
Ah ya, aku baru ingat! Aku sengaja menandainya sebab pada hari itu ada perayaan Ulang Tahun FLP ke-16 di Jakarta. Di usianya yang sudah menginjak remaja, FLP terasa seperti sebuah legenda untukku. Sementara aku, baru mengenalnya sekitar tujuh tahun yang lalu.
Selama itu pula, begitu banyak ilmu serta pengalaman baru yang bisa aku dapatkan di sana.
Mampu mewujudkan impianku semenjak lama merupakan kebanggaan tersendiri. Namun tanpa FLP, aku tak yakin bisa seperti sekarang. Meski karya-karyaku masih belum seberapa, tapi setidaknya aku sudah cukup merasa lega. Karena kini, mereka lebih mengerti dengan pilihan hidupku ini.
Sayangnya, seiring dengan berjalannya waktu serta kesibukanku sendiri, aku semakin jarang mengikuti agenda FLP. Paling hanya sebatas membaca infonya sekilas, lalu melupakannya begitu saja. Padahal dulu, agenda FLP ke luar kota sekalipun selalu aku kejar ke mana pun.
Hhh, sebenarnya bukan tak ingin hadir dalam acara seperti itu. Tapi Jakarta, cukup jauh dari tempat tinggalku dan dengan kondisiku yang seperti sekarang, rasanya harus kubuang jauh-jauh keinginan itu.
Kini, aku hanya bisa tersenyum kering. Lalu melengos pergi dan kembali meneruskan cucian yang sudah kurendam sedari tadi. Namun beberapa menit berselang, tiba-tiba saja sebuah panggilan masuk ke dalam ponselku. Rupanya m'Ale yang menghubungiku.
"Syfa, hari ini ada acara Milad FLP di Jakarta, kan?" tanyanya diujung sana.
"Yup, memangnya kenapa m'Ale?"
"Bisa gantiin saya buat datang ke sana, gak? Saya mendadak berhalangan hadir, nih!" katanya lagi.
"Ooh," jawabku sembari melongo.
"Kalau bisa, langsung hubungi Wildan Nugraha aja. Rencananya, dia beserta rombongan dari Flp Jabar mau kumpul di Baltos jam 9.30." lanjut m'Ale sembari menutup teleponnya.
Klik... sambungan telpon pun terputus.
Aku hanya menghela nafas sembari melirik jam yang ada di dinding.
"Waah, sudah hampir jam 8 pagi! Berarti aku hanya punya waktu sekitar 1,5 jam lagi," batinku.
Meski aku sadar sepenuhnya, kalau waktu yang kumiliki benar-benar mepet tapi aku malah diam, melamun. Bukannya buru-buru menyelesaikan cucian yang tertunda, lalu segera bersiap-siap pergi. Atau memilih sarapan lebih dulu, barangkali.
*****
Begitu tiba dBaltos, aku celingukan sendiri. Suasana
Baltos masih terlihat lengang dan sepi. Hanya terlihat beberapa orang
mengantri di sisi kiri pintu utama. Kelihatannya, mereka sedang
mengantri di mobil SIM keliling.
Lalu, di mana orang-orang yang kukenal? Tak ada rombongan, apalagi teman-teman Flp Jabar. Padahal waktu sudah
menunjukkan pukul 10 pagi. Apa aku sudah tertinggal ataukah
mereka memang masih belum datang?
Hari sudah semakin beranjak siang, tapi kami masih tetap berlima semenjak tadi. Ada k'Farid, k'Taufik Mulyana, k'Wildan Nugraha dan istrinya Ade Fariyani serta aku sendiri. Ternyata banyak yang batal pergi, termasuk sekertaris Flpjabar Hendra Vejay, t'Maemun Herawati serta Eka, ketua baru Flp Jatinangor. Hingga akhirnya, mobil yang kami tumpangi baru meluncur meninggalkan kota Bandung sekitar pukul 11.00 siang.
Meski perjalanan kali ini bisa dibilang lancar, namun tetap saja kami tak bisa menghindari macet di dalam kota. Jakarta memang tak pernah bisa lepas dari kemacetan. Sekalipun dalam hitungan jam kerja, sama saja. Hingga akhirnya, kami baru sampai di tempat tujuan sekitar pukul 14.30. Rupanya, rombongan "Adew Habtsa dan Rekan" sudah tiba lebih
dulu. Selain menjadi pengisi salah satu acaranya, mereka juga sama-sama datang dari Bandung. Entah dari jam berapa
mereka start dari Bandung, hingga bisa sampai lebih dulu.
Setelah
berhaha hihi sebentar dengan mereka, aku kembali mengedarkan pandangan
ke seluruh ruangan.
Hmm, nyaman sekali!
Rasanya, inilah salah satu bentuk ruang kerja
idaman bagi setiap orang. Segalanya sudah tersedia lengkap di sini. Mulai dari ruang
kerja, ruang meeting, perpustakaan bahkan tersedia meja pingpong pula di
sudut kirinya. Kalau sudah merasa lelah dan lapar setelah berolah raga,
tinggal mampir ke cafe yang telah disediakan.
Bukan
hanya itu, toiletnya pun terasa cukup nyaman seperti di rumah sendiri.
Belum lagi desain ruangannya, yang benar-benar unik. Perpaduan antara
outdoor bernuansa kebun dengan ruang kerja yang indoor. Kurasa, membuat
betah siapa saja yang ingin datang berkunjung ke tempat ini.
Suasana nyaman dan kekeluargaan langsung terasa saat kami menginjakkan kaki ke Gedung Multimedia Telkom, terutama di lt. 6 tempat acara berlangsung. Sebuah spanduk berwarna hijau menyegarkan mata kami.
Meski dalam rencana acara akan dimulai pada pukul 15.00 atau selepas ashar. Namun masih banyak peserta yang terjebak macet diperjalanan. Sehingga acara baru bisa dimulai sekitar pukul 16.00 sore.
Dengan sambutan dari dari M'Intan Savitri selaku ketua FLP Pusat, lalu dilanjutkan dengan sambutan dari perwakilan dari Qbaca telkom. Beberapa orang anggota senior pun ikut menyumbangkan pemikirannya, demi kemajuan FLP. Ada m'Jonru Ginting, k'Taufik Mulyana (Opik) serta perwakilan dari FLP Hongkong, dll
Kemudian acara dilanjutkan dengan pemotongan tumpeng disertai penyerahan potongan tumpeng Milad FLP 16, secara simbolis. Hal ini juga menandai bentuk kerjasama antara ebook platform FLP dan Qbaca Telkom.
Setelah itu, acara kembali dilanjutkan dengan sebuah games. Games ini memang sengaja dirancang oleh tim Humas FLP untuk memeriahkan acara. Penasaran seperti apa gamesnya? Hmm, kasih tau nggak ya? hehe...
Kalian masih ingat tidak, salah satu kuis yang cukup terkenal di televisi, beberapa tahun yang lalu? Jawabannya, pasti banyak. Lalu, siapa yang tidak kenal dengan kuis "Who want to be Milionare". Rasanya, semua orang pasti tahu itu.
Nah, games kali ini sengaja didesain mirip kuis tersebut. Hanya saja semua pertanyaannya, tentu berkaitan dengan pengetahuan umum FLP. Namun sangat disayangkan karena dari 16 pertanyaan yang telah dipersiapkan, hanya bisa dijawab 3 oleh peserta kuis yang berasal dari masing-masing cabang itu. Sepertinya perlu dipertanyakan lagi tentang keFLPannya, neh! whehehe
Setelah lelah bermain, acara dilanjutkan dengan hiburan dari penampilan "Adew Habtsa dan Rekan." Sebenarnya, mereka ini merupakan salah satu bentuk
transformasi grup musikalisasi puisi "Kapak Ibrahim" yang pernah ada di Flp
Bandung. Hanya saja, karena kesibukan dari masing-masing personilnya
hingga kini berganti nama dan tentu saja berganti personil.
Entah kenapa, anganku jadi melayang pada moment-moment konser "Kapak Ibrahim" dengan format lama, beberapa tahun silam. Ada "Adew Habsta" di vokal dan gitar, "Lian Kagura" di biola dan lead vokal, "Noel Saga" di Vokal, "Riksa al Hasil" di Biola, "Hendra Veejay" serta "Teny Shenai" selaku manajernya.
Ah, aku jadi benar-benar rindu mereka T_T
Ah, aku jadi benar-benar rindu mereka T_T
Oh ya, kembali ke acara hiburan yang tengah berlangsung dihadapanku. Tak tanggung-tanggung, "Adew Habtsa & Rekan" langsung membawakan enam lagu sekaligus. Aplaus, buat mereka.
Ck... ck... semangat amat, yak! Padahal sekalian sealbum aja guys! =D
Ck... ck... semangat amat, yak! Padahal sekalian sealbum aja guys! =D
Saking asyiknya mendengarkan musik hiburan. Hingga akhirnya sampailah pada acara yang paling ditunggu semua orang. Apa lagi kalau bukan acara makan-makan. Segala menu sudah tersedia, mulai dari nasi tumpeng tadi, pempek palembang, baso malang, es doger hingga es cendol. Pokoknya kenyang banget deh! :p
Masih belum cukup, kami juga mendapat oleh-oleh sekotak coklat sebelum pulang. Dengar-dengar sih, itu coklat oleh-oleh dari Hongkong. Entahlah, yang jelas bentuk dan rasanya masih tetap sama seperti coklat yang ada di Indonesia =D
Kau tahu, kawan? Aku masih sulit mempercayai kejadian yang baru saja kualami saat ini. Padahal rasanya
baru kemarin aku sempat bilang, "Ah, ingin pergi jalan-jalan ke luar
kota! Ke mana aja, dengan alasan apa aja yang penting bisa jauh dari
rumah!"
Sungguh, aku tak pernah menyangka kalau Allah langsung mengabulkan keinginanku ini hanya berselang hari. Di luar dugaan, keinginan tersebut langsung terwujud begitu saja, hari ini. Maka jangan pernah kau berpikiran lain, sebab siapa tahu Allah segera mengabulkannya saat itu juga. Jadi, berpikirlah dan berharaplah segala hal yang terbaik untuk dirimu dan kita semua...
Bandung - Jakarta, 23 Maret 2013
Shēngrì kuà ilè 16 FLP
Selasa, 19 Maret 2013
Untuk Sebuah Kepercayaan
Rasanya baru kemarin sore, aku berkeluh kesah padamu. Rupanya, sudah hampir setahun aku tinggalkan. Ah, sesibuk apa diriku selama ini hingga tak bisa meluangkan waktu sebentar saja untuk menengokmu?? Maaaf...
Hhh, aku masih ingat betul kala itu.
Tepat dua hari menjelang Ulang Tahunku, setahun yang lalu. Tiada angin, tiada hujan, kau tiba-tiba saja menghubungiku lewat akun jejaring sosial. Lalu, kau mengajakku berjuang bersama. Aku bengong. Sungguh, aku tak mampu berpikir apapun saat itu.
Tepat dua hari menjelang Ulang Tahunku, setahun yang lalu. Tiada angin, tiada hujan, kau tiba-tiba saja menghubungiku lewat akun jejaring sosial. Lalu, kau mengajakku berjuang bersama. Aku bengong. Sungguh, aku tak mampu berpikir apapun saat itu.
Seingatku, umur perkenalan kami masih seumur jagung. Itupun hanya sebatas perkenalan biasa. Bagaimana mungkin, aku bisa berpikir hingga sejauh itu? Sungguh, tak pernah terbersit sedikitpun di kepala ini.
Justru, aku malah meragukan kebenarannya. Apa kau bersungguh-sungguh atau hanya iseng belaka. Kalau memang benar, kenapa kau tak datang ke rumahku dan temui kedua orang tuaku?
Mungkin, ajakan seperti ini akan menjadi hal yang paling ditunggu bagi orang lain. Sayangnya, tidak untukku. Terlepas dari jujur atau tidaknya, niat baikmu. Tapi maaf, aku masih belum siap. Jujur saja, aku tak pernah bisa percaya begitu saja pada orang yang baru kukenal dari dunia maya hingga kapanpun.
Kau baru mengenalku. Kau tak pernah tahu apa-apa tentang diriku. Apa kau mau menerima semua kekuranganku? Kau tahu, kehidupanku terlalu rumit untuk dimengerti. Apa kau juga mau memakluminya? Apa kau sanggup menerima segala resiko yang akan kita hadapi dikemudian hari? Aku hanya tak ingin kau menyesal telah membuat keputusan besar seperti ini.
Andai saja, kau memang telah siap. Tapi maaf, perasaanku justru mengatakan sebaliknya. Rasanya, aku masih belum sanggup mempercayakan semua rahasia hidupku pada orang lain. Termasuk dirimu. Kau tahu? Menaruh kepercayaan pada seseorang itu tak semudah membalikan tangan.
Justru, aku malah meragukan kebenarannya. Apa kau bersungguh-sungguh atau hanya iseng belaka. Kalau memang benar, kenapa kau tak datang ke rumahku dan temui kedua orang tuaku?
Mungkin, ajakan seperti ini akan menjadi hal yang paling ditunggu bagi orang lain. Sayangnya, tidak untukku. Terlepas dari jujur atau tidaknya, niat baikmu. Tapi maaf, aku masih belum siap. Jujur saja, aku tak pernah bisa percaya begitu saja pada orang yang baru kukenal dari dunia maya hingga kapanpun.
Kau baru mengenalku. Kau tak pernah tahu apa-apa tentang diriku. Apa kau mau menerima semua kekuranganku? Kau tahu, kehidupanku terlalu rumit untuk dimengerti. Apa kau juga mau memakluminya? Apa kau sanggup menerima segala resiko yang akan kita hadapi dikemudian hari? Aku hanya tak ingin kau menyesal telah membuat keputusan besar seperti ini.
Andai saja, kau memang telah siap. Tapi maaf, perasaanku justru mengatakan sebaliknya. Rasanya, aku masih belum sanggup mempercayakan semua rahasia hidupku pada orang lain. Termasuk dirimu. Kau tahu? Menaruh kepercayaan pada seseorang itu tak semudah membalikan tangan.
Sungguh, aku tak ingin salah pilih orang lagi. Aku tak ingin ketulusanku dan kepercayaanku disalah gunakan seperti dulu. Aku hanya berusaha menjadi pribadi tegar meski sebenarnya masih terlalu jauh dari harapan.
Dan kali ini, aku masih tetap memanjatkan doa yang sama,
"Berikan pengganti dirinya yang jauh lebih baik darinya, jauh lebih pengertian, tulus serta bisa aku percaya seutuhnya."
Kenapa, semua ini terasa sulit sekali aku jalani? Kapan, orang yang bisa kupercaya sepenuhnya bisa hadir dihadapanku. Hanya seorang, diantara sekian ratus juta orang yang hidup di dunia ini. Hanya seorang, yang memiliki hati yang tulus untuk menerimaku. Tapi rasanya, semua ini jauh lebih sulit daripada mengumpulkan sejentik berlian.
Apakah di masa kini, nilai sebuah kepercayaan sudah tak ada harganya lagi atau memang kepercayaan itu sudah tak ada tandingannya lagi di dunia ini?
"Berikan pengganti dirinya yang jauh lebih baik darinya, jauh lebih pengertian, tulus serta bisa aku percaya seutuhnya."
Kenapa, semua ini terasa sulit sekali aku jalani? Kapan, orang yang bisa kupercaya sepenuhnya bisa hadir dihadapanku. Hanya seorang, diantara sekian ratus juta orang yang hidup di dunia ini. Hanya seorang, yang memiliki hati yang tulus untuk menerimaku. Tapi rasanya, semua ini jauh lebih sulit daripada mengumpulkan sejentik berlian.
Apakah di masa kini, nilai sebuah kepercayaan sudah tak ada harganya lagi atau memang kepercayaan itu sudah tak ada tandingannya lagi di dunia ini?
Pondok Abu, Maret 2013
Selasa, 13 November 2012
Puisi Tahun Baru
Aku masih ingat betul saat itu.
Tepat di malam pergantian tahun, ada seseorang yang mengirimiku sebuah puisi. Puisi tak berjudul, apalagi nama pengirimnya. Nomornya juga tidak aku kenal sama sekali.
Entahlah, siapa dirinya. Tapi kelihatannya, dia mengenal betul siapa diriku ini.
Biarkanlah. Yang jelas, hatiku benar-benar terpaut dengan bait-baitnya.
Meski sudah lama berlalu, aku sengaja menyimpannya.
Tapi persaudaraan, tidak boleh pudar…
Indahnya dunia hanya sementara…
Indahnya cinta hanya seketika…
Indahnya mimpi tak pernah pasti…
Tapi indahnya persaudaraan
akan selalu abadi selamanya…
Rasibook
Paket Penerbitan
1. Paket reguler Rp 350.000,-
(direkomendasikan)
- Pembetulan ejaan, tanda baca dan kata - kata
- Pembuatan tata lay out
- Pembuatan cover
- Promosi di web dan facebook
- Dapat 1 exemplar buku terbit
- Royalti 15 %
- Royalti 15 %
2. Paket lay out & cover Rp. 250.000,-
(Hanya untuk yang bisa menjadi editor sendiri)
- Pembuatan tata lay out
- Pembuatan cover
- Promosi di web dan facebook
- Dapat 1 exemplar buku terbit
- Royalti 15 %
3. Paket cover Rp. 150.000,-
(Hanya untuk yang bisa mengedit dan membuat lay out sendiri)
- Pembuatan cover
- Promosi di web dan facebook
- Dapat 1 exemplar buku terbit
- Royalti 15 %
4. Paket gratis Gratiss
(Hanya untuk yang bisa mengedit, membuat lay out, dan membuat cover sendiri)
- Promosi di web dan facebook- Royalti 15 %
Caranya :
kirim email ke rasibook@yahoo.com berupa nama, jenis buku (misal :kumpulan cerpen, novel, motivasi, kumpulan artikel, dll) dan paket yang dipilih. Sertakan juga attachment berupa:
- Biodata anda (file MS.word)
- Narasi naskah anda (file MS.word)
- Naskah anda (file MS.word)
http://www.rasibook.com/p/paket-penerbitan.html
Minggu, 11 November 2012
Cathar 1
Mien, kau tahu, kan?
Aku sudah lupa bagaimana rasanya jatuh cinta.
Apa aku akan terus melamun memikirkannya?
Apa aku akan kehilangan selera
makan karena perasaanku yang sedang berbunga-bunga. Apa aku bisa bahagia dengan
rasa cinta yang ada? Ataukah aku harus kembali merana seperti pengalamanku
sebelumnya. Entahlah,
Mien,
Aku bukan tak ingin jatuh cinta lagi. Hanya saja, aku tak sanggup
membayangkan. Bagaimana bila perasaan ini kembali terluka dan kecewa. Apa yang
baru saja aku alami belakangan ini, membuatku harus berpikir ulang.
Please, move on!
Sungguh, bukan inginku untuk terus berkutat di masa lalu. Aku juga ingin
melupakan dia dan mencari pengganti dirinya. Tapi kenapa, semua usahaku selalu
menemui jalan buntu?
Padahal selama ini, aku sudah berusaha membuka hati untuk orang lain. Mulai
dari orang yang belum kukenal sebelumnya. Hingga orang yang kehidupannya
benar-benar asing bagiku. Kupikir, kami bisa memulai segalanya dari awal.
Karena itulah, aku mencoba menepis semua keraguanku padanya.
Tapi hasilnya, sungguh mengecewakan. Rasanya semua usahaku tidak ada
artinya. Terkadang, aku sering merenung sendiri. Apa mungkin, diri inilah yang
bermasalah? Hingga akhirnya, mereka tetap meninggalkanku seorang diri.
Mien,
Saat ini, aku merasa sendirian dan kesepian.
Kini, tak ada seorang teman ataupun sahabat yang tersisa untukku.
Bahkan, kini tak ada satu tempat pun yang bisa aku kunjungi saat hati
ini, benar-benar terluka dan kecewa...
Apa yang harus kulakukan, Mien?
Meski begitu, aku tetap tak ingin menyalahkan siapapun. Aku juga tak
ingin berharap pada siapapun. Apalagi sampai meminta bantuan makhluk apapun.
Biarlah Allah yang mengatur hidupku, hendak ke mana arah hidupku di kemudian
hari.
Kata orang, pasrah menyerah dengan menerima kenyataan itu beda tipis.
Benarkah? Lalu, bagaimana harus aku bersikap. Setelah sebuah pilihan yang telah
aku putuskan beberapa tahun ke belakang.
Entahlah, tapi kurasa alasanku hanya satu. Aku masih belum punya pilihan
lain yang lebih baik. Hingga aku menemukan penggantinya maka semua ini masih
tetap tak akan berubah, hingga kapan pun.
Mungkin pula, aku terlambat meminta. Ingin bertemu jodoh dan menikah
saat usiaku sudah menginjak kepala tiga. Padahal bagi orang lain, sudah meminta
hal yang serupa saat dia masih duduk di bangku sekolah atau pada saat kuliah.
Sungguh, bukan aku tak pernah memikirkannya. Tapi, rasanya kenyataan
dihadapanku yang tak pernah memberikan kesempatan untuk melakukannya. Aku juga
ingin seperti orang lain, ingin menata hidupku sendiri.
Aku jadi teringat pada obrolanku dengan seorang teman suatu waktu,
“Minta jodoh itu, harus rinci dan jelas. Jangan ngasal dan seadanya. Saya juga
butuh waktu lima tahun, hingga bertemu istri saya ini.”
Ya Allah,.. Tolonglah, jangan selama itu.
Aku tak sanggup menunggu hingga lima tahun
Sungguh, aku benar-benar membutuhkannya, saat ini.
Langganan:
Postingan (Atom)





