Ketika membaca salah salah satu cerpen seorang teman, jari ini ikut tergerak menguntai kata ^_^
Hari kamis dulu...
paling aku tunggu dari semua hari yang datang menghampiriku.
Ada banyak kisah yang bisa merubah raut wajah dalam sekejap...
Hari kamis dulu...
Antara sukarela atau terpaksa, aku temui teman-teman baru
sambil asyik memunguti tebaran ilmu-ilmu yang bermanfaat
Hari kamis dulu...
Beragam
karakter orang yang aku temui.
Mulai dari orang yang begitu peduli,
bikin ulah, ngerecokin, temen ngobrol,
temen curhat sampai orang yang
bikin aku kesel setengah mati...
Hari kamis dulu...
Hidup ini terasa lebih berwarna, seperti tumpukan permen dalam stoples.
Mmm, yummy!!
Hari kamis sekarang...
Semua
itu tak pernah ada lagi.
Terasa aneh memang, seperti ada yang
mengambang dan hilang.
Meski demikian, kehidupan harus tetap bergulir,
dengan atau tanpa adanya mereka disisiku....
Penghujung Ramadhan 1430 H
Jumat, 10 Agustus 2012
Hawa yang Beda
Kali ini, terasa ada yang beda
Beda dari hawanya yang tak biasa
Di permulaan Ramadhan ini..
Kuhamparkan selembar harap
agar ibadahku tak ternoda
hingga terasa lebih bermakna
Diantara setumpuk luka
dan segenggam kebahagiaan
Kutitipkan keresahan pada dunia
Kutitipkan kerinduan pada manusia
Satu bulan ini saja…
Kamis, 02 Agustus 2012
Wortel Bantu Cegah Kepikunan
Ghiboo.com
Salah satu menjaga kebugaran otak
ternyata tak hanya dengan senam otak atau permainan yang merangsang
kinerja otak. Namun, nutrisi juga diperlukan.
Temuan terbaru menunjukkan bahwa wortel memberikan kebaikan agar
otak tetap awet muda. Peneliti dari University of Illinois menunjukkan
rutin mengonsumsi wortel membantu menunda penuaan kognitif, seperti
berpikir, mengingat dan logika.Senyawa luteolin menjadi pahlawannya. Senyawa yang juga banyak terkandung dalam minyak zaitun, paprika, seledri, peppermint, rosemary dan chamomile ini mengurangi peradangan otak yang menjadi faktor penyebab masalah memori yang berkaitan dengan bertambahnya usia.
"Sebelumnya kami menemukan, selama masa penuaan, sel-sel mikroglial mengalami penurunan dan mulai memproduksi inflamasi sitokon secara berlebihan. Hal ini berkontribusi pada penuaan kognitif dan menjadi penyebab pengembangan penyakit neurodegenerative (menurunnya fungsi sel saraf)," Rodney Johnson.
Hasil ini sudah diujikan menggunakan tikus. Pada tikus dewasa, asupan luteolin terbukti memberikan berkontribusi pada masalah memori.
"Ketika kami memberikan luteolin pada tikus, zat ini mengurangi peradangan di otak secara signifikan. Pada saat yang sama, memori juga bekerja menjadi lebih baik. Bahkan, kualitas memori otak tikus tua sama dengan tikus muda," jelas peneliti Rodney Johnson dilansir melalui Healthdaynews (2/8).
'Pelangi Api' di Atas Florida Selatan
Oleh Staf OurAmazingPlanet | LiveScience.com
"Pelangi api" atau "fire rainbow" bukanlah api ataupun pelangi, tapi pemandangan ini sangat mengagumkan.
Secara teknis, penampakan ini disebut awan pelangi, fenomena yang sangat jarang dan disebabkan oleh awan serta tetesan air yang ukurannya relatif sama, menurut sebuah pernyataan dari NASA. Awan ini kemudian mengubah arah dan membengkokkan cahaya dengan cara serupa sehingga hasilnya adalah gelombang cahaya dan warna.

Awan ini kemudian menjadi mirip dengan pelangi sebenarnya, yang juga terbentuk oleh difraksi atau pengubahan arah cahaya, dan menghasilkan pola warna yang berganti-ganti dari biru, hijau, merah, ungu, dan kembali ke biru lagi.Fenomena ini tertangkap dalam foto spektakuler pada Selasa (31 Juli) di awan-awan di atas Florida Selatan.
Meski awan pelangi memiliki warna seperti pelangi, cara penyebaran cahaya untuk menghasilkan fenomena tersebut berbeda. Pelangi terbentuk oleh refraksi dan bayangan. Saat cahaya terefraksi, ia dibengkokkan melalui sebuah medium dengan ketebalan berbeda, seperti air atau prisma. Bayangan cahaya meninggalkan permukaan dengan sudut yang sama seperti saat ia jatuh. Difraksi menyebabkan gelombang cahaya tersebar dengan pola seperti cincin.
Sama seperti objek pelangi lainnya, seperti bulu burung merak, warna-warna berubah tergantung pada posisinya terhadap matahari dan objek lain.Fenomena seperti ini biasanya terjadi di awan yang baru terbentuk, dan inilah terjadi di Florida Selatan. Menurut Weather Channel, ada awan-awan pileus yang terbentuk dengan cepat karena badai halilintar mendorong udara ke atmosfer atas melalui lapisan lembap. Hal ini menyebabkan awan seperti asap yang membentuk kubah di atas badai.
Awan pelangi bukanlah circumhorizontal arc, fenomena optik yang terjadi akibat kristal es sehingga membentuk garis-garis warna paralel dengan cakrawala.
"Pelangi api" atau "fire rainbow" bukanlah api ataupun pelangi, tapi pemandangan ini sangat mengagumkan.
Secara teknis, penampakan ini disebut awan pelangi, fenomena yang sangat jarang dan disebabkan oleh awan serta tetesan air yang ukurannya relatif sama, menurut sebuah pernyataan dari NASA. Awan ini kemudian mengubah arah dan membengkokkan cahaya dengan cara serupa sehingga hasilnya adalah gelombang cahaya dan warna.
Awan ini kemudian menjadi mirip dengan pelangi sebenarnya, yang juga terbentuk oleh difraksi atau pengubahan arah cahaya, dan menghasilkan pola warna yang berganti-ganti dari biru, hijau, merah, ungu, dan kembali ke biru lagi.Fenomena ini tertangkap dalam foto spektakuler pada Selasa (31 Juli) di awan-awan di atas Florida Selatan.
Meski awan pelangi memiliki warna seperti pelangi, cara penyebaran cahaya untuk menghasilkan fenomena tersebut berbeda. Pelangi terbentuk oleh refraksi dan bayangan. Saat cahaya terefraksi, ia dibengkokkan melalui sebuah medium dengan ketebalan berbeda, seperti air atau prisma. Bayangan cahaya meninggalkan permukaan dengan sudut yang sama seperti saat ia jatuh. Difraksi menyebabkan gelombang cahaya tersebar dengan pola seperti cincin.
Sama seperti objek pelangi lainnya, seperti bulu burung merak, warna-warna berubah tergantung pada posisinya terhadap matahari dan objek lain.Fenomena seperti ini biasanya terjadi di awan yang baru terbentuk, dan inilah terjadi di Florida Selatan. Menurut Weather Channel, ada awan-awan pileus yang terbentuk dengan cepat karena badai halilintar mendorong udara ke atmosfer atas melalui lapisan lembap. Hal ini menyebabkan awan seperti asap yang membentuk kubah di atas badai.
Awan pelangi bukanlah circumhorizontal arc, fenomena optik yang terjadi akibat kristal es sehingga membentuk garis-garis warna paralel dengan cakrawala.
B4 Beduk Ramadhan 1433 H
Kalau
biasanya, hari-hari Ramadhanku selalu dipenuhi dengan berbagai aktifitas yang
menyita waktu. Hingga akhirnya, Ramadhan pun usai tanpa terasa. Tapi kali ini, Ramadhanku
terasa beda dari biasanya.
Meski
sudah menginjak hari kelima Ramadhan, tak ada satu pun jadwal kegiatan yang sudah
masuk dalam agendaku. Rutinitas harianku hanya sebatas mempersiapkan menu sahur
dan berbuka puasa bagi kami sekeluarga.
Maka,
ketika salah seorang sahabat di FlpBandung mengajakku untuk berbuka puasa
bersama pada tanggal 29 Juli nanti di Saung Awi – Gegerkalong, aku setuju saja.
Rasanya, sudah cukup lama aku tidak bersilaturahmi dengan mereka.
Beberapa
hari berselang, aku juga mendapat info tentang sebuah acara B4 Beduk Ramadhan
1433H yang digagas oleh pak Bambang Trim. Acara ini terselenggara atas
kerjasama antara Dixigraf Publishing Service, Penerbit Pandu Aksara serta toko
buku Gramedia.
Sebenarnya
acara tersebut sudah diadakan lebih dulu di Gramedia Depok pada tanggal 22 Juli
lalu. Nah kali ini, giliran Bandung mendapatkan kesempatan yang sama di Gramedia
Merdeka pada tanggal 29 Juli ini.
Waah,
kesempatan emas nih! Kapan lagi ada pelatihan gratis oleh salah seorang
praktisi perbukuan Nasional. Bukan hanya itu, tempat pelaksanaannya tidak
begitu jauh dari rumah. Hanya cukup sekali naik angkot dan membutuhkan waktu
sekitar 30 menit saja.
Tanpa
berpikir panjang, aku langsung mendaftar. Apalagi jumlah pesertanya yang
dibatasi hanya 40 orang. Untunglah, masih ada tempat tersisa untukku. Fuih, aku menarik nafas lega. Tapi kenapa
masih ada yang terasa mengganjal di hatiku. Apa ya?
Ya
Ampuun, bukannya pada tanggal segitu aku sudah membuat janji lebih dulu dengan
teman-teman di FlpBandung? Ah, kenapa aku bisa jadi pelupa seperti ini? Lalu
sekarang, sebaiknya aku pilih yang mana? Rasanya, kedua acara itu sama-sama
penting untukku.
Hhh,
apa aku menyusul saja? Selepas acara B4 BEDUK usai, aku langsung menuju ke
Saung Awi. Tapi kan, jalanan sekitar daerah Setiabudhi, Cipaganti selalu macet
di akhir pekan. Apalagi saat-saat menjelang waktu berbuka puasa, kemacetan
sudah tidak bisa dihindari lagi pastinya.
Lagipula,
jarak antara jalan Merdeka dengan daerah gegerkalong itu cukup jauh. Apa
mungkin aku bisa tiba di sana hanya dalam waktu 30 menit? Rasanya sungguh
mustahil. Kalau sudah begitu, lalu aku bakal berbuka puasa dimana nanti?
Palingan,
aku bakal tiba di sana ketika orang lain tengah bersiap melaksanakan shalat Tarawih.
Apalagi katanya, Saung Awi ini berada dalam kawasan pesantren Darut Tauhid
yang terkenal. Aku langsung menutup muka.
Tak cukup
sampai di situ, aku juga harus mampu memprediksi. Kira-kira, hingga jam berapa
kami berada di Saung Awi? Sementara itu, aku tak bisa berlama-lama bersama
mereka. Aku harus segera pulang dan siap
terjaga mulai pukul dua dini hari.
Dengan
berbagai pertimbangan inilah, aku memilih ikut acara B4 BEDUK bersama pak
Bambang Trim di Gramedia – Merdeka saja. Sebaiknya, aku segera meminta maaf
pada teman-teman di FlpBandung.
****
Satu
hari menjelang acara berlangsung, pak Bambang Trim masih mencari seorang moderator
untuk acaranya. Dengan iming-iming, akan mendapatkan berbagai keuntungan. Diantaranya:
bisa mempromosikan dirinya, mendapat posisi strategis untuk berfoto, mendapat
honor serta mendapat kesempatan mengerjakan proyek bersama beliau.
Sungguh,
aku begitu tergiur dengan tawarannya yang menggoda. Hanya saja, aku belum
pernah menjadi seorang moderator sekalipun. Entah kenapa, tangan ini tergerak
untuk segera menulis pesan singkat padanya. Benar saja, dugaanku. Beliau malah
menyangka aku bersedia menjadi moderator untuk acaranya. Padahal sebenarnya,
aku hanya ingin menyapa beliau saja.
Pak
Bambang bilang, apa salahnya kalau dicoba. Format acaranya juga sederhana,
santai saja. Ah, benar juga. Kapan lagi aku punya kesempatan langka seperti
ini. Apa salahnya aku coba, itung-itung uji nyali. :D
Hingga
akhirnya, waktu yang ditunggu-tunggu pun tiba. Aku tiba di tempat acara dengan
hati berdebar. Bagaimana kalau acara tersebut malah jadi kacau balau gara-gara
aku. Ditambah tempat acaranya yang sangat strategis, membuat nyaliku bertambah
ciut.
Meski pada awalnya, hampir
semua yang hadir itu perempuan, tapi lambat laun para lelaki pun mulai berdatangan. Ruangan yang
sempit pun menjadi penuh sesak hingga ke dekat pintu.
Di luar
dugaan, sebagian besar para pesertanya ternyata teman-temanku di Forum Penulis Bacaan
Anak. Sehingga aku tidak merasa canggung dan kaku lagi. Acara pun berlangsung
dengan seru. Bahkan hingga acara hampir berakhir, masih banyak doorprize yang
belum dibagikan. Semua berjalan dengan lancar, Alhamdulillah
Sabtu, 28 Juli 2012
Ketulusan, Harta Berharga
Aku masih ingat betul, saat itu. Kau
sudah menghubungiku, pagi-pagi sekali. Kau bilang, ada hal penting yang ingin
dibicarakan. Kau juga memintaku untuk bertemu di tempat biasa. Aku heran, tak
biasanya nada bicaramu seserius itu.
Aku sudah mencoba mencari tahu
alasannya, tapi kau masih tetap merahasiakannya. Meski demikian, aku tetap
menuruti permintaanmu. Ah, kau membuatku semakin penasaran!
Entah sudah berapa lama aku menunggumu
di tempat ini. Pagi pun sudah beranjak menuju siang, tapi sosokmu masih belum
kelihatan. Biar begitu, aku akan tetap menunggumu hingga kau datang. Aku mulai
gelisah. Ada apa sebenarnya?
Ketika hari menjelang sore, kau baru
datang. Biar begitu, kau malah sibuk menyapa sana-sini. Sepertinya, kehadiranku
tidak kau hiraukan. Aku menghela nafas. Kesal.
Tak lama berselang, adzan Ashar
berkumandang. Aku segera bangkit dan bergegas menuju ke mesjid terdekat.
“Jangan pergi dulu! Urusan kita
belum selesai!” cegatmu.
“Aku cuma mau shalat dulu,”
“Oh syukurlah, kukira kau mau pergi
ke mana?”
“Kalau begitu, kita bertemu lagi
nanti.” katamu lagi.
Usai shalat, aku menunggumu di
selasar tapi sosokmu kembali menghilang. Padahal kaki ini pun sudah mulai terasa pegal dan
kesemutan. Rasa penasaran makin memenuhi hati dan pikiranku. Ah, kemana lagi
dirimu?
Lambat laun, kau baru muncul. Itu
pun masih tetap melanjutkan sapaanmu. Aku mulai heran. Selama aku mengenalmu,
tak biasanya dirimu bertindak aneh seperti ini. Hingga akhirnya, aku sengaja
bersembunyi di balik tiang. Dengan harapan, kau akan mencariku.
Benar saja. Ketika bayanganku sudah
tidak kelihatan, kau baru menyadarinya. Tak lama berselang, kau sudah
menghampiriku dan duduk disampingku. Keadaan mesjid yang tadinya ramai, kini
mulai berangsur sepi.
“Ada apa?” tanyaku.
“Tunggu sebentar!” ucapmu sambil
menunduk.
Kami berdua sama-sama diam, dengan
pandangan kosong.
Tanpa kami sadari, keadaan mesjid
sudah benar-benar sepi. Saat itulah, kau mulai mengangkat wajah dan membuka
rahasiamu.
“Kapan kau akan kembali ke kota
hujan?” tanyamu.
Aku menggeleng, “Aku tak akan
kembali ke sana. Pekerjaanku sudah selesai.”
Kau menunduk lesu
“Memangnya kenapa?”
“Aku akan pergi mengembara ke kota
hujan."
“Tapi, kenapa harus ke kota hujan?”
“Yaa, karena kesempatan pertamaku
hadir di kota hujan. Mana mungkin aku membiarkannya begitu saja. Lagipula,
kupikir kau masih mengembara di sana. Sehingga kita bisa tetap bersama-sama
lagi nanti,” jelasmu panjang lebar.
Kini, giliranku yang menunduk sedih,
”Lalu, aku bagaimana?”
Kau menarik nafas berat,
“Sudah kuduga.” ucapmu lirih.
Aku tergugu. Tahukah kau? Kota hujan
telah menyimpan sejuta kenangan untukku. Sebuah kerinduan tersendiri yang tak
pernah bisa kuungkapkan.
****
Teman, kita tak pernah tahu rencana
Allah untuk kita. Waktu kecil, aku selalu berkhayal bisa melihat kabut di kota
hujan. Ah, siapa yang bisa menyangka kalau impianku saat itu bisa menjadi
kenyataan.
Untuk sebuah urusan, aku terdampar
di kota hujan. Kabar kepergianku yang begitu mendadak, tentu membuatmu
terhenyak. Tapi, kapan lagi aku bisa melihat kabut? Bukankah kesempatan itu tak
pernah hadir dua kali?
Sebenarnya, aku juga merasa berat
meninggalkanmu. Tapi kurasa, masa depanku bergantung pada keputusanku saat ini.
Kini mimpiku benar-benar menjadi kenyataan. Menjumpai kabut, telah menjadi
pemandangan sehari-hari.
Kau tahu, ternyata kabut itu biasa
saja, tak begitu istimewa seperti dugaanku. Justru, ada hal lain yang aku
rindukan selain kabut. Aku lebih merindukan dirimu daripada kabut. Kabut itu
dingin, tak sehangat dirimu. Kabut itu pendiam, hingga sulit bagiku untuk
mengajaknya bercanda.
Apa kau merindukanku? Aku juga. Di
sini, aku merindukanmu setiap waktu. Hanya sekedar sms ataupun telepon, rasanya tak cukup untuk mengusir kerinduanku
padamu. Ah, aku jadi ingin pulang. Aku sudah tak sabar untuk menunggu hingga
semua urusan ini tuntas
Maka ketika perjalanan ini harus
kuakhiri, ada perasaan lega menyelinap disanubari. Ingin rasanya, kujumpai
dirimu dan duduk disampingmu, seperti dulu. Menikmati rintik gerimis, di tempat
biasa. Tapi ternyata, kau sudah tak ada di sana.
Mereka bilang, kau pergi mengembara ke
kota hujan. Ah, kenapa harus ke kota hujan segala? Atau jangan-jangan, kau
berniat menyusulku ke sana. Benar begitu?
Tak bisakah kau pilih kota lain saja
yang lebih menjanjikan? Bukankah, aku baru saja meninggalkannya dengan susah
payah. Jangan biarkan aku kembali merindukan dirimu serta kabut di kota hujan.
Ingin rasanya, aku membatalkan semua
rencanamu. Tapi, sungguh egois rasanya, bila aku tetap menahanmu di sini. Aku
tahu pasti impianmu selama ini. Sesedih apapun, aku akan tetap mendukung
keputusanmu.
Sebenarnya, sudah berulang kali kita
hidup berjauhan. Aku merasa sedih, setiap kali kau pergi meninggalkanku. Tapi,
kali ini terasa ada yang beda. Rasanya, kau akan benar-benar pergi
meninggalkanku. Entahlah, kenapa tiba-tiba saja aku merasa begitu.
****
Sesedih apapun diri ini, tapi waktu
yang telah berlalu tak akan pernah bisa kembali. Tanpa dirimu, aku merasa
kehilangan pijakan. Mungkin, aku terbiasa menyimpan namamu di hati dan
pikiranku.
Satu bulan, dua bulan hingga setahun
pertama, aku lalui dengan kerinduan. Aku selalu berharap agar kau bisa cepat
kembali. Aku baru menyadari betapa berartinya dirimu, bagiku. Jika kau pulang
nanti, aku bertekad tak akan membiarkanmu pergi lagi dari sisiku.
Sayangnya, semua harapan itu harus
kukubur dalam-dalam. Belum juga genap dua tahun penantian ini. Kau telah
memilih orang lain, sebagai permaisuri hatimu. Keputusanmu yang begitu
mendadak, benar-benar melukai perasaanku.
Aku sadar, kalau diri ini tak bisa
terus mendampingimu di kota hujan. Tapi, apa kau lupa? aku juga manusia yang
bisa luka dan kecewa. Sungguh, aku
butuh waktu untuk menerima kenyataan, kalau kebersamaan kita telah berakhir.
Kini, kau takkan pernah ada di sampingku lagi. Kau takkan
pernah membuatku tersenyum ceria lagi. Dan kau takkan pernah bisa hadir saat
aku membutuhkanmu lagi. Kali ini, telah ada orang lain yang
menggantikan tempatku di sampingmu.
Orang yang lebih berhak menyayangi
dan merindukanmu daripada aku. Sedangkan aku, hanya untuk mengingatmu saja
sudah terlarang untukku. Lalu,
apa yang seharusnya aku lakukan?
Melangkah mundur dan mencoba menghapus jejak langkahku,
kalau perlu. Ataukah tetap bertahan di sini? Jujur kuakui, aku tak mampu
berpikir apapun saat ini. Aku tak sanggup memilih diantara keduanya.
Bagaimana pun, kau bukanlah sekedar
seorang kekasih bagiku. Kaulah yang telah mengajariku,
apa itu kesederhanaan. Kau pula yang selalu mendukungku untuk tetap menjadi
diri sendiri, tanpa harus meniru gaya orang lain.
Namun bukanlah dirimu, bila tidak
sanggup menyelami perasaanku. Sejauh
apapun aku melangkah, sepertinya kau selalu dapat menemukanku. Sedalam apapun
aku mengubur perasaan ini, kau pasti sanggup menggalinya.
Seperti
diriku yang tak sanggup kehilanganmu, kau pasti merasakan hal yang tak jauh
berbeda. Hingga satu waktu, kau mengirimku sebuah sms seperti ini.
“Seberapa lama kau mengenalku. Aku
takkan berubah, hanya karena statusku yang berubah.”
Tanpa
terasa, ada titik bening yang mulai membasahi pipiku. Aku sungguh terharu
membacanya. Meski sudah lama berlalu, aku masih sengaja menyimpannya.
Mungkin, nuraniku memang tak bisa dibohongi.
Aku
seperti tersadarkan, bahwa perkenalan kita bukan hanya seumur jagung. Kita
telah lama saling mengenal. Bahkan mungkin, kau lebih memahami aku daripada
diriku sendiri. Ah,
kenapa kepercayaanku cepat tergoyahkan hanya karena emosi sesaat?
Selama
ini, kesetiaan dan ketulusanmu
sudah jelas terbukti. Semua itu,
jauh lebih berharga dari semua kekayaan yang ada di dunia. Dan, tak akan pernah
bisa tergantikan oleh apapun. Mana mungkin, aku bisa melupakanmu begitu saja?
Hingga
akhirnya, kita berdua sepakat. Untuk tetap meretas persaudaraan, dengan
jalan hidup masing-masing. Hidupku juga harus terus berjalan, dengan atau tanpa
dirimu. Meski akan terasa sulit untuk mencari pengganti dirimu, tapi aku akan
tetap berusaha.
****
Kata
orang, janji itu adalah utang.
Janji
diantara aku, kamu dan DIA. Biarlah hanya kita bertiga saja yang tahu, tak
perlu melibatkan orang lain. Biarpun akan selalu menjadi mimpi buruk yang
melukai perasaan. Tapi janji tetaplah janji, sebuah utang yang harus dipenuhi.
Mengantarkanmu
pada bidadari hati adalah janji terberat yang harus aku penuhi. Sungguh di luar
dugaan, aku mampu melampauinya. Meski awalnya terasa berat tapi setelah aku
jalani, ada kelegaan tersendiri. Mungkin inilah saatnya, ketulusanku tengah
diuji.
Waktu
terus berlalu tanpa terasa. Kini, usia pernikahanmu sudah menginjak hitungan
tahun. Bahkan kini, si kecil telah hadir untuk melengkapi kebahagian kalian.
Sementara aku, masih tetap seperti ini, sama seperti dulu.
Meski
demikian, aku tak pernah memintamu untuk memenuhi janjimu itu. Biarkanlah semua
berlalu apa adanya. Tapi ternyata, kau benar-benar ingin membuktikannya. Selama
ini, kau berusaha mencarikan orang yang tepat untukku.
Orang
yang bisa kau andalkan untuk menjaga dan melindungiku selamanya. Hingga kau
akan merasa tenang, telah meninggalkanku. Kau pasti ingin mengembalikan
senyumanku yang telah lama hilang, bukan?
Sungguh,
aku sangat berterima kasih padamu. Kuharap, semua usahamu tidak sia-sia. Sekalipun
gagal, aku tak akan pernah menyalahkanmu. Hanya satu hal yang perlu kau ingat.
Bahwa sebaik apapun orang yang kau pilih itu, takkan pernah bisa menggantikan
dirimu di hatiku.
Seperti
yang pernah kau katakan sebelumnya, bahwa semua telah selesai, tak
perlu kita sesalkan. Biar
Allah yang mengatur kehidupanku selanjutnya. Biar Allah yang menentukan pilihan
terbaik untukku.
Biarkan semua ketulusan ini menjadi
harta berharga bagi kita. Biarkan semua berlalu apa adanya dan tetap menjadi
rahasia di hati kita, selamanya.
****
Jalan Braga, April 2012
Benar-benar Tulus, ataukah Hanya Terpaksa?
“Jika kau ingin mengakhirinya, kamu
harus tegas dari sekarang. Lebih baik ada pihak yang dikorbankan daripada kau
yang terus berkorban selamanya.”
Itulah
saran dari sahabatku, enam tahun lalu. Meski demikian, aku masih belum bisa
mengambil keputusan. Sungguh, aku masih bingung untuk memilih antara ibu dan
keponakan atau mengejar mimpiku sendiri.
Orang
bilang, orang tua itu lebih sayang kepada cucu daripada anaknya sendiri. Jujur
kuakui, bahwa semua itu ada benarnya. Bagi orang yang telah menikah, mungkin
tak masalah. Tapi bagi orang yang masih single
dan tinggal seatap dengan orang tua seperti aku, bisa menjadi dilema
tersendiri.
Ibuku
sangat menyayangi cucu pertamanya. Semenjak bayi, dia memang tinggal bersama
kami. Hal apapun akan dia lakukan hanya demi menyenangkan anak itu. Sekalipun
harus menyusahkan dirinya sendiri ataupun mengorbankan perasaan orang lain
seperti aku.
Sungguh,
aku tidak pernah habis pikir. Sebenarnya apa yang ada dalam kepala ibu. Apa dia
tidak pernah berpikir bagaimana perasaanku. Aku juga masih anaknya, aku juga
masih punya hak yang sama. Tapi kenapa dia masih memberikan perlakuan yang
berbeda terhadapku? Itulah yang membuatku kecewa.
Kau
tahu ibu, kalau sebenarnya semua limpahan kasih sayangmu yang berlebih itu
tidak mendidik baginya. Kini dia tumbuh menjadi pribadi yang manja. Padahal
kita berdua tak akan selalu menemaninya, bukan?
Aku
tahu, anak itu memang tak pernah merasakan kasih sayang orang tuanya yang
tinggal di luar kota. Aku juga tahu, mereka tak pernah memberikan biaya untuk
anaknya sendiri. Tapi bukan begini cara mendidiknya, bu!
Aku
memang seorang perempuan dan belum menikah. Namun, aku bisa merasakan bagaimana
beratnya perjuangan seorang ibu. Kalau boleh jujur, aku tidak ingin berada
dalam posisi ini. Membesarkan seorang anak laki-laki, tanpa sedikitpun
pengalaman yang dimiliki. Tapi mau bagaimana lagi, semua ini terjadi
dihadapanku.
Sementara
kondisi Ayah dan Ibuku saat ini telah
renta. Mana mungkin aku hanya diam dan tidak peduli? Mau tak mau, aku harus
ikut menanggung semua beban ini. Berusaha mencukupi segala kebutuhan hidupnya.
Mengorbankan
begitu banyak hal demi dirinya. Termasuk menghadirkan pendidikan yang baik
untuknya. Meski imbasnya, aku harus menepis segala mimpi yang pernah hadir
dalam benak ini.
****
Tanpa
terasa, sudah hampir belas tahun, aku menjalani semua ini. Lima belas tahun,
bukanlah waktu yang sebentar. Selama itu pula, aku harus mengecek kembali
perasaanku yang sebenarnya. Benar-benar tulus, ataukah hanya terpaksa?
Selama
itu pula, bukanlah titik terang yang aku temui. Melainkan batu cadas yang
membuatku terbentur, bahkan nyaris terpental. Anak itu putus sekolah. Bukan aku
tidak kasihan padanya.
Akan
tetapi, dengan penghasilanku yang seadanya. Sungguh, aku tak sanggup untuk
membagi antara kebutuhan hidup serta biaya sekolahnya. Aku memang tak pernah
meminta apapun darinya. Aku hanya ingin dia menjadi orang baik yang berguna.
Terkadang,
aku mempertanyakan keberadaan orang tuanya, dimana letak tanggung jawab mereka
selama ini? Biarpun begitu, dia tetap saja merindukan kehadiran orang tuanya.
Yaa
namanya juga, anak-anak. Dia tak pernah mengerti, siapa yang salah dan siapa
yang harus dipersalahkan. Aku sangat sedih, jika mengingat hal itu. Rasanya,
perjuanganku selama ini tidak ada artinya sama sekali.
Aku
sadar, dia bukanlah anakku. Aku tak bisa memaksanya untuk tetap berada di
sampingku. Cepat atau lambat, dia pasti akan kembali pada orang tuanya. Andai
tiba masanya nanti, pasti akan sangat menyakitkan bagiku.
Ketika
pikiran egois itu hadir sesaat, ingin rasanya aku pergi meninggalkan mereka.
Ingin rasanya, aku tak perduli lagi dengan segala hal yang berkaitan dengan
anak itu. Tapi, kalau aku pergi. Lalu, bagaimana dengan ibu?
Siapa
yang akan menggantikan tugasnya, mengerjakan semua pekerjaan di rumah ini?
Sementara kondisi tubuhnya, sudah tak sehat lagi. Sungguh, aku tak tega untuk
meninggalkannya.
****
Kau
tahu, aku ingin menangis saat ini. Benar-benar ingin menangis. Bukan lantaran
sedang merindukanmu. Tapi karena aku merasa sedih dengan hidup yang kujalani
ini. Terkadang, aku berpikir sampai kapan akan terus terjebak di dalam
lingkaran seperti ini?
Biarpun
aku sadar betul, kalau semua ini adalah kenyataan hidup yang harus kuhadapi.
Tapi, aku hanya manusia biasa, aku juga ingin mewujudkan impian dan masa
depanku sendiri.
Oh,
dimanakah orang yang benar-benar tulus menerima dan menyayangiku. Orang yang
bisa menjadi tempat sandaran saat aku lelah, orang yang bisa menghiburku saat
aku sedih, orang yang pertama aku ingat bila aku sedang bahagia.
Meski
aku tak pernah tahu, kapan tiba saatnya. Namun, aku tak akan pernah berhenti
berharap dan menunggu orang itu datang menjemputku. Entahlah, siapa dirinya.
Yang jelas, orang itu bukanlah dirimu.
Saat
ini, kau telah memiliki labuhan hati yang lain. Sudah saatnya, aku melupakanmu
dan menghapus jejak langkahmu. Tapi kau bukan hanya sekedar seorang kekasih.
Kaulah orang yang paling aku percaya selama ini.
Ketika
aku bilang tidak apa-apa saat kau pergi meninggalkanku. Sungguh, aku hanya berpura-pura mengatakannya agar kau
merasa tenang dan tidak menghawatirkan aku. Ternyata, hidupku terasa berantakan
setelahnya.
Di
saat hatiku sedang sedih dan terluka seperti ini, tak ada lagi orang yang
menghiburku. Kini, tak ada tempat lain yang bisa aku datangi. Sungguh, aku
benar-benar membutuhkanmu saat ini.
Andai
hidup ini boleh memilih, tentu aku akan memilihmu untuk menemaniku hingga ujung
usia. Tapi ternyata, pilihanku salah. Kemana lagi, aku harus mencari pengganti
dirimu? Sementara aku, bukanlah orang yang pandai mengejar seseorang.
Aku
juga tak pandai membuat seseorang jatuh hati padaku. Aku tak cantik, juga tak
berharta. Aku tak memiliki kelebihan apa-apa. Apalagi keahlian seperti
mereka.Sungguh, aku tak punya hal yang bisa aku banggakan. Lalu, aku bisa apa?
Sementara segala daya upaya telah aku coba. Kencan buta, pernah. Dikenalkan
orang sering malah. Tapi semua tak pernah ada yang bertahan lama.
Aku
jadi curiga, apa mungkin ada yang salah dengan diriku ini? Mungkin aku pernah
melukai perasaan seseorang, tanpa sadar? Atau mungkin, aku terkena hukuman
karma, akibat perbuatanku di masa lalu? Tapi setahuku, agamaku mengajarkan kami
agar tidak berburuk sangka pada siapapun.
Belakangan
ini, beberapa pikiran buruk memang seringkali menghantuiku. Mungkin, gara-gara
aku sering termenung sendiri. Kira-kira, apa yang akan terjadi pada diriku ini
dua atau tiga tahun mendatang? Bagaimana bila saat itu aku masih tetap sendiri?
Ah,
semoga saja ketakutanku ini tidak pernah terbukti.
***
Bandung, Penghujung Juni 2012
Langganan:
Postingan (Atom)