Jumat, 10 Agustus 2012

Hari Kamis

Ketika membaca salah salah satu cerpen seorang teman, jari ini ikut tergerak menguntai kata ^_^

Hari kamis dulu...
paling aku tunggu dari semua hari yang datang menghampiriku.
Ada banyak kisah yang bisa merubah raut wajah dalam sekejap...

Hari kamis dulu...
Antara sukarela atau terpaksa, aku temui teman-teman baru
sambil asyik memunguti tebaran ilmu-ilmu yang bermanfaat

Hari kamis dulu...
Beragam karakter orang yang aku temui.
Mulai dari orang yang begitu peduli, bikin ulah, ngerecokin, temen ngobrol,
temen curhat sampai orang yang bikin aku kesel setengah mati...

Hari kamis dulu...
Hidup ini terasa lebih berwarna, seperti tumpukan permen dalam stoples.
Mmm, yummy!!

Hari kamis sekarang...
Semua itu tak pernah ada lagi.
Terasa aneh memang, seperti ada yang mengambang dan  hilang.
Meski demikian, kehidupan harus tetap bergulir,
dengan atau tanpa adanya mereka disisiku....

Penghujung Ramadhan 1430 H

Hawa yang Beda

Kali ini, terasa ada yang beda
Beda dari hawanya yang tak biasa
                                                                
Di permulaan Ramadhan ini..
Kuhamparkan selembar harap
agar ibadahku tak ternoda
hingga terasa lebih bermakna

Diantara setumpuk luka
dan segenggam kebahagiaan
Kutitipkan keresahan pada dunia
Kutitipkan kerinduan pada manusia
Satu bulan ini saja…

Saat menanti berbuka, 25 Agustus 2009

Kamis, 02 Agustus 2012

Wortel Bantu Cegah Kepikunan

Ghiboo.com  
Salah satu menjaga kebugaran otak ternyata tak hanya dengan senam otak atau permainan yang merangsang kinerja otak. Namun, nutrisi juga diperlukan.
Temuan terbaru menunjukkan bahwa wortel memberikan kebaikan agar otak tetap awet muda. Peneliti dari University of Illinois menunjukkan rutin mengonsumsi wortel membantu menunda penuaan kognitif, seperti berpikir, mengingat dan logika.

Senyawa luteolin menjadi pahlawannya. Senyawa yang juga banyak terkandung dalam minyak zaitun, paprika, seledri, peppermint, rosemary dan chamomile ini mengurangi peradangan otak yang menjadi faktor penyebab masalah memori yang berkaitan dengan bertambahnya usia.

"Sebelumnya kami menemukan, selama masa penuaan, sel-sel mikroglial mengalami penurunan dan mulai memproduksi inflamasi sitokon secara berlebihan. Hal ini berkontribusi pada penuaan kognitif dan menjadi penyebab pengembangan penyakit neurodegenerative (menurunnya fungsi sel saraf)," Rodney Johnson.

Hasil ini sudah diujikan menggunakan tikus. Pada tikus dewasa, asupan luteolin terbukti memberikan berkontribusi pada masalah memori.
"Ketika kami memberikan luteolin pada tikus, zat ini mengurangi peradangan di otak secara signifikan. Pada saat yang sama, memori juga bekerja menjadi lebih baik. Bahkan, kualitas memori otak tikus tua sama dengan tikus muda," jelas peneliti Rodney Johnson dilansir melalui Healthdaynews (2/8).

'Pelangi Api' di Atas Florida Selatan

Oleh Staf OurAmazingPlanet | LiveScience.com

"Pelangi api" atau "fire rainbow" bukanlah api ataupun pelangi, tapi pemandangan ini sangat mengagumkan.

Secara teknis, penampakan ini disebut awan pelangi, fenomena yang sangat jarang dan disebabkan oleh awan serta tetesan air yang ukurannya relatif sama, menurut sebuah pernyataan dari NASA. Awan ini kemudian mengubah arah dan membengkokkan cahaya dengan cara serupa sehingga hasilnya adalah gelombang cahaya dan warna.



Awan ini kemudian menjadi mirip dengan pelangi sebenarnya, yang juga terbentuk oleh difraksi atau pengubahan arah cahaya, dan menghasilkan pola warna yang berganti-ganti dari biru, hijau, merah, ungu, dan kembali ke biru lagi.Fenomena ini tertangkap dalam foto spektakuler pada Selasa (31 Juli) di awan-awan di atas Florida Selatan.

Meski awan pelangi memiliki warna seperti pelangi, cara penyebaran cahaya untuk menghasilkan fenomena tersebut berbeda. Pelangi terbentuk oleh refraksi dan bayangan. Saat cahaya terefraksi, ia dibengkokkan melalui sebuah medium dengan ketebalan berbeda, seperti air atau prisma. Bayangan cahaya meninggalkan permukaan dengan sudut yang sama seperti saat ia jatuh. Difraksi menyebabkan gelombang cahaya tersebar dengan pola seperti cincin.
Sama seperti objek pelangi lainnya, seperti bulu burung merak, warna-warna berubah tergantung pada posisinya terhadap matahari dan objek lain.Fenomena seperti ini biasanya terjadi di awan yang baru terbentuk, dan inilah terjadi di Florida Selatan. Menurut Weather Channel, ada awan-awan pileus yang terbentuk dengan cepat karena badai halilintar mendorong udara ke atmosfer atas melalui lapisan lembap. Hal ini menyebabkan awan seperti asap yang membentuk kubah di atas badai.

Awan pelangi bukanlah circumhorizontal arc, fenomena optik yang terjadi akibat kristal es sehingga membentuk garis-garis warna paralel dengan cakrawala.

B4 Beduk Ramadhan 1433 H


Kalau biasanya, hari-hari Ramadhanku selalu dipenuhi dengan berbagai aktifitas yang menyita waktu. Hingga akhirnya, Ramadhan pun usai tanpa terasa. Tapi kali ini, Ramadhanku terasa beda dari biasanya.
Meski sudah menginjak hari kelima Ramadhan, tak ada satu pun jadwal kegiatan yang sudah masuk dalam agendaku. Rutinitas harianku hanya sebatas mempersiapkan menu sahur dan berbuka puasa bagi kami sekeluarga.
Maka, ketika salah seorang sahabat di FlpBandung mengajakku untuk berbuka puasa bersama pada tanggal 29 Juli nanti di Saung Awi – Gegerkalong, aku setuju saja. Rasanya, sudah cukup lama aku tidak bersilaturahmi dengan mereka.
Beberapa hari berselang, aku juga mendapat info tentang sebuah acara B4 Beduk Ramadhan 1433H yang digagas oleh pak Bambang Trim. Acara ini terselenggara atas kerjasama antara Dixigraf Publishing Service, Penerbit Pandu Aksara serta toko buku Gramedia.
Sebenarnya acara tersebut sudah diadakan lebih dulu di Gramedia Depok pada tanggal 22 Juli lalu. Nah kali ini, giliran Bandung mendapatkan kesempatan yang sama di Gramedia Merdeka pada tanggal 29 Juli ini.
Waah, kesempatan emas nih! Kapan lagi ada pelatihan gratis oleh salah seorang praktisi perbukuan Nasional. Bukan hanya itu, tempat pelaksanaannya tidak begitu jauh dari rumah. Hanya cukup sekali naik angkot dan membutuhkan waktu sekitar 30 menit saja.
Tanpa berpikir panjang, aku langsung mendaftar. Apalagi jumlah pesertanya yang dibatasi hanya 40 orang. Untunglah, masih ada tempat tersisa untukku. Fuih, aku menarik nafas lega. Tapi kenapa masih ada yang terasa mengganjal di hatiku. Apa ya?
Ya Ampuun, bukannya pada tanggal segitu aku sudah membuat janji lebih dulu dengan teman-teman di FlpBandung? Ah, kenapa aku bisa jadi pelupa seperti ini? Lalu sekarang, sebaiknya aku pilih yang mana? Rasanya, kedua acara itu sama-sama penting untukku.
Hhh, apa aku menyusul saja? Selepas acara B4 BEDUK usai, aku langsung menuju ke Saung Awi. Tapi kan, jalanan sekitar daerah Setiabudhi, Cipaganti selalu macet di akhir pekan. Apalagi saat-saat menjelang waktu berbuka puasa, kemacetan sudah tidak bisa dihindari lagi pastinya.
Lagipula, jarak antara jalan Merdeka dengan daerah gegerkalong itu cukup jauh. Apa mungkin aku bisa tiba di sana hanya dalam waktu 30 menit? Rasanya sungguh mustahil. Kalau sudah begitu, lalu aku bakal berbuka puasa dimana nanti?
Palingan, aku bakal tiba di sana ketika orang lain tengah bersiap melaksanakan shalat Tarawih. Apalagi katanya, Saung Awi ini berada dalam kawasan pesantren Darut Tauhid yang terkenal. Aku langsung menutup muka.
Tak cukup sampai di situ, aku juga harus mampu memprediksi. Kira-kira, hingga jam berapa kami berada di Saung Awi? Sementara itu, aku tak bisa berlama-lama bersama mereka. Aku  harus segera pulang dan siap terjaga mulai pukul dua dini hari.
Dengan berbagai pertimbangan inilah, aku memilih ikut acara B4 BEDUK bersama pak Bambang Trim di Gramedia – Merdeka saja. Sebaiknya, aku segera meminta maaf pada teman-teman di FlpBandung.
****

Satu hari menjelang acara berlangsung, pak Bambang Trim masih mencari seorang moderator untuk acaranya. Dengan iming-iming, akan mendapatkan berbagai keuntungan. Diantaranya: bisa mempromosikan dirinya, mendapat posisi strategis untuk berfoto, mendapat honor serta mendapat kesempatan mengerjakan proyek bersama beliau.
Sungguh, aku begitu tergiur dengan tawarannya yang menggoda. Hanya saja, aku belum pernah menjadi seorang moderator sekalipun. Entah kenapa, tangan ini tergerak untuk segera menulis pesan singkat padanya. Benar saja, dugaanku. Beliau malah menyangka aku bersedia menjadi moderator untuk acaranya. Padahal sebenarnya, aku hanya ingin menyapa beliau saja.
Pak Bambang bilang, apa salahnya kalau dicoba. Format acaranya juga sederhana, santai saja. Ah, benar juga. Kapan lagi aku punya kesempatan langka seperti ini. Apa salahnya aku coba, itung-itung uji nyali. :D
Hingga akhirnya, waktu yang ditunggu-tunggu pun tiba. Aku tiba di tempat acara dengan hati berdebar. Bagaimana kalau acara tersebut malah jadi kacau balau gara-gara aku. Ditambah tempat acaranya yang sangat strategis, membuat nyaliku bertambah ciut.
Meski pada awalnya, hampir semua yang hadir itu perempuan, tapi lambat laun  para lelaki pun mulai berdatangan. Ruangan yang sempit pun menjadi penuh sesak hingga ke dekat pintu.
Di luar dugaan, sebagian besar para pesertanya ternyata teman-temanku di Forum Penulis Bacaan Anak. Sehingga aku tidak merasa canggung dan kaku lagi. Acara pun berlangsung dengan seru. Bahkan hingga acara hampir berakhir, masih banyak doorprize yang belum dibagikan. Semua berjalan dengan lancar, Alhamdulillah 
                                                                                          

Sabtu, 28 Juli 2012

Ketulusan, Harta Berharga

Aku masih ingat betul, saat itu. Kau sudah menghubungiku, pagi-pagi sekali. Kau bilang, ada hal penting yang ingin dibicarakan. Kau juga memintaku untuk bertemu di tempat biasa. Aku heran, tak biasanya nada bicaramu seserius itu.
Aku sudah mencoba mencari tahu alasannya, tapi kau masih tetap merahasiakannya. Meski demikian, aku tetap menuruti permintaanmu. Ah, kau membuatku semakin penasaran!
Entah sudah berapa lama aku menunggumu di tempat ini. Pagi pun sudah beranjak menuju siang, tapi sosokmu masih belum kelihatan. Biar begitu, aku akan tetap menunggumu hingga kau datang. Aku mulai gelisah. Ada apa sebenarnya?
Ketika hari menjelang sore, kau baru datang. Biar begitu, kau malah sibuk menyapa sana-sini. Sepertinya, kehadiranku tidak kau hiraukan. Aku menghela nafas. Kesal.
Tak lama berselang, adzan Ashar berkumandang. Aku segera bangkit dan bergegas menuju ke mesjid terdekat.
“Jangan pergi dulu! Urusan kita belum selesai!” cegatmu.
“Aku cuma mau shalat dulu,”
“Oh syukurlah, kukira kau mau pergi ke mana?”
“Kalau begitu, kita bertemu lagi nanti.” katamu lagi.
Usai shalat, aku menunggumu di selasar tapi sosokmu kembali menghilang. Padahal  kaki ini pun sudah mulai terasa pegal dan kesemutan. Rasa penasaran makin memenuhi hati dan pikiranku. Ah, kemana lagi dirimu?
Lambat laun, kau baru muncul. Itu pun masih tetap melanjutkan sapaanmu. Aku mulai heran. Selama aku mengenalmu, tak biasanya dirimu bertindak aneh seperti ini. Hingga akhirnya, aku sengaja bersembunyi di balik tiang. Dengan harapan, kau akan mencariku.
Benar saja. Ketika bayanganku sudah tidak kelihatan, kau baru menyadarinya. Tak lama berselang, kau sudah menghampiriku dan duduk disampingku. Keadaan mesjid yang tadinya ramai, kini mulai berangsur sepi.
“Ada apa?” tanyaku.
“Tunggu sebentar!” ucapmu sambil menunduk.
Kami berdua sama-sama diam, dengan pandangan kosong.
Tanpa kami sadari, keadaan mesjid sudah benar-benar sepi. Saat itulah, kau mulai mengangkat wajah dan membuka rahasiamu.
“Kapan kau akan kembali ke kota hujan?” tanyamu.
Aku menggeleng, “Aku tak akan kembali ke sana. Pekerjaanku sudah selesai.”
Kau menunduk lesu
“Memangnya kenapa?”
“Aku akan pergi mengembara ke kota hujan."
“Tapi, kenapa harus ke kota hujan?”
“Yaa, karena kesempatan pertamaku hadir di kota hujan. Mana mungkin aku membiarkannya begitu saja. Lagipula, kupikir kau masih mengembara di sana. Sehingga kita bisa tetap bersama-sama lagi nanti,” jelasmu panjang lebar.
Kini, giliranku yang menunduk sedih, ”Lalu, aku bagaimana?”
Kau menarik nafas berat,
“Sudah kuduga.” ucapmu lirih.
Aku tergugu. Tahukah kau? Kota hujan telah menyimpan sejuta kenangan untukku. Sebuah kerinduan tersendiri yang tak pernah bisa kuungkapkan.
****

Teman, kita tak pernah tahu rencana Allah untuk kita. Waktu kecil, aku selalu berkhayal bisa melihat kabut di kota hujan. Ah, siapa yang bisa menyangka kalau impianku saat itu bisa menjadi kenyataan.
Untuk sebuah urusan, aku terdampar di kota hujan. Kabar kepergianku yang begitu mendadak, tentu membuatmu terhenyak. Tapi, kapan lagi aku bisa melihat kabut? Bukankah kesempatan itu tak pernah hadir dua kali?
Sebenarnya, aku juga merasa berat meninggalkanmu. Tapi kurasa, masa depanku bergantung pada keputusanku saat ini. Kini mimpiku benar-benar menjadi kenyataan. Menjumpai kabut, telah menjadi pemandangan sehari-hari.
Kau tahu, ternyata kabut itu biasa saja, tak begitu istimewa seperti dugaanku. Justru, ada hal lain yang aku rindukan selain kabut. Aku lebih merindukan dirimu daripada kabut. Kabut itu dingin, tak sehangat dirimu. Kabut itu pendiam, hingga sulit bagiku untuk mengajaknya bercanda.
Apa kau merindukanku? Aku juga. Di sini, aku merindukanmu setiap waktu. Hanya sekedar sms ataupun telepon, rasanya tak cukup untuk mengusir kerinduanku padamu. Ah, aku jadi ingin pulang. Aku sudah tak sabar untuk menunggu hingga semua urusan ini tuntas
Maka ketika perjalanan ini harus kuakhiri, ada perasaan lega menyelinap disanubari. Ingin rasanya, kujumpai dirimu dan duduk disampingmu, seperti dulu. Menikmati rintik gerimis, di tempat biasa. Tapi ternyata, kau sudah tak ada di sana.
Mereka bilang, kau pergi mengembara ke kota hujan. Ah, kenapa harus ke kota hujan segala? Atau jangan-jangan, kau berniat menyusulku ke sana. Benar begitu?
Tak bisakah kau pilih kota lain saja yang lebih menjanjikan? Bukankah, aku baru saja meninggalkannya dengan susah payah. Jangan biarkan aku kembali merindukan dirimu serta kabut di kota hujan.
Ingin rasanya, aku membatalkan semua rencanamu. Tapi, sungguh egois rasanya, bila aku tetap menahanmu di sini. Aku tahu pasti impianmu selama ini. Sesedih apapun, aku akan tetap mendukung keputusanmu.
Sebenarnya, sudah berulang kali kita hidup berjauhan. Aku merasa sedih, setiap kali kau pergi meninggalkanku. Tapi, kali ini terasa ada yang beda. Rasanya, kau akan benar-benar pergi meninggalkanku. Entahlah, kenapa tiba-tiba saja aku merasa begitu.
****

Sesedih apapun diri ini, tapi waktu yang telah berlalu tak akan pernah bisa kembali. Tanpa dirimu, aku merasa kehilangan pijakan. Mungkin, aku terbiasa menyimpan namamu di hati dan pikiranku.
Satu bulan, dua bulan hingga setahun pertama, aku lalui dengan kerinduan. Aku selalu berharap agar kau bisa cepat kembali. Aku baru menyadari betapa berartinya dirimu, bagiku. Jika kau pulang nanti, aku bertekad tak akan membiarkanmu pergi lagi dari sisiku.
Sayangnya, semua harapan itu harus kukubur dalam-dalam. Belum juga genap dua tahun penantian ini. Kau telah memilih orang lain, sebagai permaisuri hatimu. Keputusanmu yang begitu mendadak, benar-benar melukai perasaanku.
Aku sadar, kalau diri ini tak bisa terus mendampingimu di kota hujan. Tapi, apa kau lupa? aku juga manusia yang bisa luka dan kecewa. Sungguh, aku butuh waktu untuk menerima kenyataan, kalau kebersamaan kita telah berakhir.
Kini, kau takkan pernah ada di sampingku lagi. Kau takkan pernah membuatku tersenyum ceria lagi. Dan kau takkan pernah bisa hadir saat aku membutuhkanmu lagi. Kali ini, telah ada orang lain yang menggantikan tempatku di sampingmu.
Orang yang lebih berhak menyayangi dan merindukanmu daripada aku. Sedangkan aku, hanya untuk mengingatmu saja sudah terlarang untukku. Lalu, apa yang seharusnya aku lakukan?
Melangkah mundur dan mencoba menghapus jejak langkahku, kalau perlu. Ataukah tetap bertahan di sini? Jujur kuakui, aku tak mampu berpikir apapun saat ini. Aku tak sanggup memilih diantara keduanya.
Bagaimana pun, kau bukanlah sekedar seorang kekasih bagiku. Kaulah yang telah mengajariku, apa itu kesederhanaan. Kau pula yang selalu mendukungku untuk tetap menjadi diri sendiri, tanpa harus meniru gaya orang lain.
Namun bukanlah dirimu, bila tidak sanggup menyelami perasaanku. Sejauh apapun aku melangkah, sepertinya kau selalu dapat menemukanku. Sedalam apapun aku mengubur perasaan ini, kau pasti sanggup menggalinya.
Seperti diriku yang tak sanggup kehilanganmu, kau pasti merasakan hal yang tak jauh berbeda. Hingga satu waktu, kau mengirimku sebuah sms seperti ini.
“Seberapa lama kau mengenalku. Aku takkan berubah, hanya karena statusku yang berubah.”
Tanpa terasa, ada titik bening yang mulai membasahi pipiku. Aku sungguh terharu membacanya. Meski sudah lama berlalu, aku masih sengaja menyimpannya. Mungkin, nuraniku memang tak bisa dibohongi.
 Aku seperti tersadarkan, bahwa perkenalan kita bukan hanya seumur jagung. Kita telah lama saling mengenal. Bahkan mungkin, kau lebih memahami aku daripada diriku sendiri. Ah, kenapa kepercayaanku cepat tergoyahkan hanya karena emosi sesaat?
Selama ini, kesetiaan dan ketulusanmu sudah jelas terbukti. Semua itu, jauh lebih berharga dari semua kekayaan yang ada di dunia. Dan, tak akan pernah bisa tergantikan oleh apapun. Mana mungkin, aku bisa melupakanmu begitu saja?
Hingga akhirnya, kita berdua sepakat. Untuk tetap meretas persaudaraan, dengan jalan hidup masing-masing. Hidupku juga harus terus berjalan, dengan atau tanpa dirimu. Meski akan terasa sulit untuk mencari pengganti dirimu, tapi aku akan tetap berusaha.
****

Kata orang, janji itu adalah utang. 
Janji diantara aku, kamu dan DIA. Biarlah hanya kita bertiga saja yang tahu, tak perlu melibatkan orang lain. Biarpun akan selalu menjadi mimpi buruk yang melukai perasaan. Tapi janji tetaplah janji, sebuah utang yang harus dipenuhi.
Mengantarkanmu pada bidadari hati adalah janji terberat yang harus aku penuhi. Sungguh di luar dugaan, aku mampu melampauinya. Meski awalnya terasa berat tapi setelah aku jalani, ada kelegaan tersendiri. Mungkin inilah saatnya, ketulusanku tengah diuji.
Waktu terus berlalu tanpa terasa. Kini, usia pernikahanmu sudah menginjak hitungan tahun. Bahkan kini, si kecil telah hadir untuk melengkapi kebahagian kalian. Sementara aku, masih tetap seperti ini, sama seperti dulu.
Meski demikian, aku tak pernah memintamu untuk memenuhi janjimu itu. Biarkanlah semua berlalu apa adanya. Tapi ternyata, kau benar-benar ingin membuktikannya. Selama ini, kau berusaha mencarikan orang yang tepat untukku.
Orang yang bisa kau andalkan untuk menjaga dan melindungiku selamanya. Hingga kau akan merasa tenang, telah meninggalkanku. Kau pasti ingin mengembalikan senyumanku yang telah lama hilang, bukan?
Sungguh, aku sangat berterima kasih padamu. Kuharap, semua usahamu tidak sia-sia. Sekalipun gagal, aku tak akan pernah menyalahkanmu. Hanya satu hal yang perlu kau ingat. Bahwa sebaik apapun orang yang kau pilih itu, takkan pernah bisa menggantikan dirimu di hatiku.
Seperti yang pernah kau katakan sebelumnya, bahwa semua telah selesai, tak perlu kita sesalkan. Biar Allah yang mengatur kehidupanku selanjutnya. Biar Allah yang menentukan pilihan terbaik untukku.
Biarkan semua ketulusan ini menjadi harta berharga bagi kita. Biarkan semua berlalu apa adanya dan tetap menjadi rahasia di hati kita, selamanya.
****


Jalan Braga, April 2012

Benar-benar Tulus, ataukah Hanya Terpaksa?

“Jika kau ingin mengakhirinya, kamu harus tegas dari sekarang. Lebih baik ada pihak yang dikorbankan daripada kau yang terus berkorban selamanya.” 
 Itulah saran dari sahabatku, enam tahun lalu. Meski demikian, aku masih belum bisa mengambil keputusan. Sungguh, aku masih bingung untuk memilih antara ibu dan keponakan atau mengejar mimpiku sendiri.
Orang bilang, orang tua itu lebih sayang kepada cucu daripada anaknya sendiri. Jujur kuakui, bahwa semua itu ada benarnya. Bagi orang yang telah menikah, mungkin tak masalah. Tapi bagi orang yang masih single dan tinggal seatap dengan orang tua seperti aku, bisa menjadi dilema tersendiri. 
Ibuku sangat menyayangi cucu pertamanya. Semenjak bayi, dia memang tinggal bersama kami. Hal apapun akan dia lakukan hanya demi menyenangkan anak itu. Sekalipun harus menyusahkan dirinya sendiri ataupun mengorbankan perasaan orang lain seperti aku.
Sungguh, aku tidak pernah habis pikir. Sebenarnya apa yang ada dalam kepala ibu. Apa dia tidak pernah berpikir bagaimana perasaanku. Aku juga masih anaknya, aku juga masih punya hak yang sama. Tapi kenapa dia masih memberikan perlakuan yang berbeda terhadapku? Itulah yang membuatku kecewa.
Kau tahu ibu, kalau sebenarnya semua limpahan kasih sayangmu yang berlebih itu tidak mendidik baginya. Kini dia tumbuh menjadi pribadi yang manja. Padahal kita berdua tak akan selalu menemaninya, bukan?
Aku tahu, anak itu memang tak pernah merasakan kasih sayang orang tuanya yang tinggal di luar kota. Aku juga tahu, mereka tak pernah memberikan biaya untuk anaknya sendiri. Tapi bukan begini cara mendidiknya, bu!
Aku memang seorang perempuan dan belum menikah. Namun, aku bisa merasakan bagaimana beratnya perjuangan seorang ibu. Kalau boleh jujur, aku tidak ingin berada dalam posisi ini. Membesarkan seorang anak laki-laki, tanpa sedikitpun pengalaman yang dimiliki. Tapi mau bagaimana lagi, semua ini terjadi dihadapanku.
Sementara kondisi Ayah dan Ibuku saat ini  telah renta. Mana mungkin aku hanya diam dan tidak peduli? Mau tak mau, aku harus ikut menanggung semua beban ini. Berusaha mencukupi segala kebutuhan hidupnya.
Mengorbankan begitu banyak hal demi dirinya. Termasuk menghadirkan pendidikan yang baik untuknya. Meski imbasnya, aku harus menepis segala mimpi yang pernah hadir dalam benak ini.
****

Tanpa terasa, sudah hampir belas tahun, aku menjalani semua ini. Lima belas tahun, bukanlah waktu yang sebentar. Selama itu pula, aku harus mengecek kembali perasaanku yang sebenarnya. Benar-benar tulus, ataukah hanya terpaksa?
Selama itu pula, bukanlah titik terang yang aku temui. Melainkan batu cadas yang membuatku terbentur, bahkan nyaris terpental. Anak itu putus sekolah. Bukan aku tidak kasihan padanya.
Akan tetapi, dengan penghasilanku yang seadanya. Sungguh, aku tak sanggup untuk membagi antara kebutuhan hidup serta biaya sekolahnya. Aku memang tak pernah meminta apapun darinya. Aku hanya ingin dia menjadi orang baik yang berguna.
Terkadang, aku mempertanyakan keberadaan orang tuanya, dimana letak tanggung jawab mereka selama ini? Biarpun begitu, dia tetap saja merindukan kehadiran orang tuanya.
Yaa namanya juga, anak-anak. Dia tak pernah mengerti, siapa yang salah dan siapa yang harus dipersalahkan. Aku sangat sedih, jika mengingat hal itu. Rasanya, perjuanganku selama ini tidak ada artinya sama sekali.
Aku sadar, dia bukanlah anakku. Aku tak bisa memaksanya untuk tetap berada di sampingku. Cepat atau lambat, dia pasti akan kembali pada orang tuanya. Andai tiba masanya nanti, pasti akan sangat menyakitkan bagiku.
Ketika pikiran egois itu hadir sesaat, ingin rasanya aku pergi meninggalkan mereka. Ingin rasanya, aku tak perduli lagi dengan segala hal yang berkaitan dengan anak itu. Tapi, kalau aku pergi. Lalu, bagaimana dengan ibu?
Siapa yang akan menggantikan tugasnya, mengerjakan semua pekerjaan di rumah ini? Sementara kondisi tubuhnya, sudah tak sehat lagi. Sungguh, aku tak tega untuk meninggalkannya.
****

Kau tahu, aku ingin menangis saat ini. Benar-benar ingin menangis. Bukan lantaran sedang merindukanmu. Tapi karena aku merasa sedih dengan hidup yang kujalani ini. Terkadang, aku berpikir sampai kapan akan terus terjebak di dalam lingkaran seperti ini?
Biarpun aku sadar betul, kalau semua ini adalah kenyataan hidup yang harus kuhadapi. Tapi, aku hanya manusia biasa, aku juga ingin mewujudkan impian dan masa depanku sendiri.
 Oh, dimanakah orang yang benar-benar tulus menerima dan menyayangiku. Orang yang bisa menjadi tempat sandaran saat aku lelah, orang yang bisa menghiburku saat aku sedih, orang yang pertama aku ingat bila aku sedang bahagia. 
Meski aku tak pernah tahu, kapan tiba saatnya. Namun, aku tak akan pernah berhenti berharap dan menunggu orang itu datang menjemputku. Entahlah, siapa dirinya. Yang jelas, orang itu bukanlah dirimu.
Saat ini, kau telah memiliki labuhan hati yang lain. Sudah saatnya, aku melupakanmu dan menghapus jejak langkahmu. Tapi kau bukan hanya sekedar seorang kekasih. Kaulah orang yang paling aku percaya selama ini.
Ketika aku bilang tidak apa-apa saat kau pergi meninggalkanku. Sungguh, aku  hanya berpura-pura mengatakannya agar kau merasa tenang dan tidak menghawatirkan aku. Ternyata, hidupku terasa berantakan setelahnya.
Di saat hatiku sedang sedih dan terluka seperti ini, tak ada lagi orang yang menghiburku. Kini, tak ada tempat lain yang bisa aku datangi. Sungguh, aku benar-benar membutuhkanmu saat ini.
Andai hidup ini boleh memilih, tentu aku akan memilihmu untuk menemaniku hingga ujung usia. Tapi ternyata, pilihanku salah. Kemana lagi, aku harus mencari pengganti dirimu? Sementara aku, bukanlah orang yang pandai mengejar seseorang.
Aku juga tak pandai membuat seseorang jatuh hati padaku. Aku tak cantik, juga tak berharta. Aku tak memiliki kelebihan apa-apa. Apalagi keahlian seperti mereka.Sungguh, aku tak punya hal yang bisa aku banggakan. Lalu, aku bisa apa? Sementara segala daya upaya telah aku coba. Kencan buta, pernah. Dikenalkan orang sering malah. Tapi semua tak pernah ada yang bertahan lama.
Aku jadi curiga, apa mungkin ada yang salah dengan diriku ini? Mungkin aku pernah melukai perasaan seseorang, tanpa sadar? Atau mungkin, aku terkena hukuman karma, akibat perbuatanku di masa lalu? Tapi setahuku, agamaku mengajarkan kami agar tidak berburuk sangka pada siapapun.
Belakangan ini, beberapa pikiran buruk memang seringkali menghantuiku. Mungkin, gara-gara aku sering termenung sendiri. Kira-kira, apa yang akan terjadi pada diriku ini dua atau tiga tahun mendatang? Bagaimana bila saat itu aku masih tetap sendiri?
Ah, semoga saja ketakutanku ini tidak pernah terbukti.
***


Bandung, Penghujung Juni 2012