Tampilkan postingan dengan label Me with my buddy at flp Bandung. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Me with my buddy at flp Bandung. Tampilkan semua postingan

Senin, 25 Maret 2013

Segar... Menyegarkan

"Kawan, jangan pernah kau berpikir lain. Karena Tuhanmu, pasti tahu isi hatimu.."

Pagi itu, aku kembali membuka-buka buku catatan harian. Siapa tahu, ada rencana keluar rumah atau janji yg sempat aku lupakan. Ternyata, tak ada catatan apapun di sana. Hanya sebuah lingkaran merah dalam kalender yang bertanggal 23 Maret ini.
Ah ya, aku baru ingat! Aku sengaja menandainya sebab pada hari itu ada perayaan Ulang Tahun FLP ke-16 di Jakarta. Di usianya yang sudah menginjak remaja, FLP terasa seperti sebuah legenda untukku. Sementara aku, baru mengenalnya sekitar tujuh tahun yang lalu.
Selama itu pula, begitu banyak ilmu serta pengalaman baru yang bisa aku dapatkan di sana.
Mampu mewujudkan impianku semenjak lama merupakan kebanggaan tersendiri. Namun tanpa FLP, aku tak yakin bisa seperti sekarang. Meski karya-karyaku masih belum seberapa, tapi setidaknya aku sudah cukup merasa lega. Karena kini, mereka lebih mengerti dengan pilihan hidupku ini.
Sayangnya, seiring dengan berjalannya waktu serta kesibukanku sendiri, aku semakin jarang mengikuti agenda FLP. Paling hanya sebatas membaca infonya sekilas, lalu melupakannya begitu saja. Padahal dulu, agenda FLP ke luar kota sekalipun selalu aku kejar ke mana pun.
Hhh, sebenarnya bukan tak ingin hadir dalam acara seperti itu. Tapi Jakarta, cukup jauh dari tempat tinggalku dan dengan kondisiku yang seperti sekarang, rasanya harus kubuang jauh-jauh keinginan itu.
Kini, aku hanya bisa tersenyum kering. Lalu melengos pergi dan kembali meneruskan cucian yang sudah kurendam sedari tadi. Namun beberapa menit berselang, tiba-tiba saja sebuah panggilan masuk ke dalam ponselku.  Rupanya m'Ale yang menghubungiku.
"Syfa, hari ini ada acara Milad FLP di Jakarta, kan?" tanyanya diujung sana.
"Yup, memangnya kenapa m'Ale?"
"Bisa gantiin saya buat datang ke sana, gak? Saya mendadak berhalangan hadir, nih!" katanya lagi.
"Ooh," jawabku sembari melongo.
"Kalau bisa, langsung hubungi Wildan Nugraha aja. Rencananya, dia beserta rombongan dari Flp Jabar mau kumpul di Baltos jam 9.30." lanjut m'Ale sembari menutup teleponnya.
Klik... sambungan telpon pun terputus.
Aku hanya menghela nafas sembari melirik jam yang ada di dinding.
"Waah, sudah hampir jam 8 pagi! Berarti aku hanya punya waktu sekitar 1,5 jam lagi," batinku.
Meski aku sadar sepenuhnya, kalau waktu yang kumiliki benar-benar mepet tapi aku malah diam, melamun. Bukannya buru-buru menyelesaikan cucian yang tertunda, lalu segera bersiap-siap pergi. Atau memilih sarapan lebih dulu, barangkali.
*****

Begitu tiba dBaltos, aku celingukan sendiri. Suasana Baltos masih terlihat lengang dan sepi. Hanya terlihat beberapa orang mengantri di sisi kiri pintu utama. Kelihatannya, mereka sedang mengantri di mobil SIM keliling.
Lalu, di mana orang-orang yang kukenal? Tak ada rombongan, apalagi teman-teman Flp Jabar. Padahal waktu sudah menunjukkan pukul 10 pagi. Apa aku sudah tertinggal ataukah  mereka memang masih belum datang?
Hari sudah semakin beranjak siang, tapi kami masih tetap berlima semenjak tadi. Ada k'Farid, k'Taufik Mulyana, k'Wildan Nugraha dan istrinya Ade Fariyani serta aku sendiri.  Ternyata banyak yang batal pergi, termasuk sekertaris Flpjabar Hendra Vejay, t'Maemun Herawati serta Eka, ketua baru Flp Jatinangor. Hingga akhirnya, mobil yang kami tumpangi baru meluncur meninggalkan kota Bandung sekitar pukul 11.00 siang.
Meski perjalanan kali ini bisa dibilang lancar, namun tetap saja kami tak bisa menghindari macet di dalam kota. Jakarta memang tak pernah bisa lepas dari kemacetan. Sekalipun dalam hitungan jam kerja, sama saja. Hingga akhirnya, kami baru sampai di tempat tujuan sekitar pukul 14.30. Rupanya, rombongan "Adew Habtsa dan Rekan" sudah tiba lebih dulu. Selain menjadi pengisi salah satu acaranya, mereka juga sama-sama datang dari Bandung. Entah dari jam berapa mereka start dari Bandung, hingga bisa sampai lebih dulu.
Setelah berhaha hihi sebentar dengan mereka, aku kembali mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan. 

Hmm, nyaman sekali!
Rasanya, inilah salah satu bentuk ruang kerja idaman bagi setiap orang. Segalanya sudah tersedia lengkap  di sini. Mulai dari ruang kerja, ruang meeting, perpustakaan bahkan tersedia meja pingpong pula di sudut kirinya. Kalau sudah merasa lelah dan lapar setelah berolah raga, tinggal mampir ke cafe yang telah disediakan.

Bukan hanya itu, toiletnya pun terasa cukup nyaman seperti di rumah sendiri. Belum lagi desain ruangannya, yang benar-benar unik. Perpaduan antara outdoor bernuansa kebun dengan ruang kerja yang indoor. Kurasa, membuat betah siapa saja yang ingin datang berkunjung ke tempat ini.

Suasana nyaman dan kekeluargaan langsung terasa saat kami menginjakkan kaki ke Gedung Multimedia Telkom, terutama di lt. 6 tempat acara berlangsung. Sebuah spanduk berwarna hijau menyegarkan mata kami.


Meski dalam rencana acara akan dimulai pada pukul 15.00 atau selepas ashar. Namun masih banyak peserta yang terjebak macet diperjalanan. Sehingga acara baru bisa dimulai sekitar pukul 16.00 sore. 
Dengan sambutan dari dari M'Intan Savitri selaku ketua FLP Pusat, lalu dilanjutkan dengan sambutan dari perwakilan dari Qbaca telkom. Beberapa orang anggota senior pun ikut menyumbangkan pemikirannya, demi kemajuan FLP. Ada m'Jonru Ginting, k'Taufik Mulyana (Opik) serta perwakilan dari FLP Hongkong, dll
Kemudian acara dilanjutkan dengan pemotongan tumpeng disertai penyerahan potongan tumpeng Milad FLP 16, secara simbolis. Hal ini juga menandai bentuk kerjasama antara ebook platform FLP dan Qbaca Telkom.
  


Setelah itu, acara kembali dilanjutkan dengan sebuah games. Games ini memang sengaja  dirancang oleh tim Humas FLP untuk memeriahkan acara. Penasaran seperti apa gamesnya? Hmm, kasih tau nggak ya? hehe... 
Kalian masih ingat tidak, salah satu kuis yang cukup terkenal di televisi, beberapa tahun yang lalu? Jawabannya, pasti banyak. Lalu, siapa yang tidak kenal dengan kuis "Who want to be Milionare". Rasanya, semua orang pasti tahu itu.
Nah, games kali ini sengaja didesain mirip kuis tersebut. Hanya saja semua pertanyaannya, tentu berkaitan dengan pengetahuan umum FLP. Namun sangat disayangkan karena dari 16 pertanyaan yang telah dipersiapkan, hanya bisa dijawab 3 oleh peserta kuis yang berasal dari masing-masing cabang itu. Sepertinya perlu dipertanyakan lagi tentang keFLPannya, neh! whehehe


Setelah lelah bermain, acara dilanjutkan dengan hiburan dari penampilan "Adew Habtsa dan Rekan." Sebenarnya, mereka ini merupakan salah satu bentuk transformasi grup musikalisasi puisi "Kapak Ibrahim" yang pernah ada di Flp Bandung. Hanya saja, karena kesibukan dari masing-masing personilnya hingga kini berganti nama dan tentu saja berganti personil. 
Entah kenapa, anganku jadi melayang pada moment-moment konser "Kapak Ibrahim" dengan format lama, beberapa tahun silam. Ada "Adew Habsta" di vokal dan gitar, "Lian Kagura" di biola dan lead vokal, "Noel Saga" di Vokal, "Riksa al Hasil" di Biola, "Hendra Veejay" serta "Teny Shenai" selaku manajernya.
Ah, aku jadi benar-benar rindu mereka T_T
Oh ya, kembali ke acara hiburan yang tengah berlangsung dihadapanku. Tak tanggung-tanggung, "Adew Habtsa & Rekan" langsung membawakan enam lagu sekaligus. Aplaus, buat mereka.
Ck... ck... semangat amat, yak! Padahal sekalian sealbum aja guys! =D 
Saking asyiknya mendengarkan musik hiburan. Hingga akhirnya sampailah pada acara yang paling ditunggu semua orang. Apa lagi kalau bukan acara makan-makan. Segala menu sudah tersedia, mulai dari nasi tumpeng tadi, pempek palembang, baso malang, es doger hingga es cendol. Pokoknya kenyang banget deh! :p
Masih belum cukup, kami juga mendapat oleh-oleh sekotak coklat sebelum pulang. Dengar-dengar sih, itu coklat oleh-oleh dari Hongkong. Entahlah, yang jelas bentuk dan rasanya masih tetap sama seperti coklat yang ada di Indonesia =D
 

Kau tahu, kawan? Aku masih sulit mempercayai kejadian yang baru saja kualami saat ini. Padahal rasanya baru kemarin aku sempat bilang, "Ah, ingin pergi jalan-jalan ke luar kota! Ke mana aja, dengan alasan apa aja yang penting bisa jauh dari rumah!"
Sungguh, aku tak pernah menyangka kalau Allah langsung mengabulkan keinginanku ini hanya berselang hari. Di luar dugaan, keinginan tersebut langsung terwujud begitu saja, hari ini. Maka jangan pernah kau berpikiran lain, sebab siapa tahu Allah segera mengabulkannya saat itu juga. Jadi, berpikirlah dan berharaplah segala hal yang terbaik untuk dirimu dan kita semua...


Bandung - Jakarta, 23 Maret 2013
Shēngrì kuàilè 16 FLP

Senin, 10 September 2012

Silaturahim 1433 H


Ketika Ramadhan akan segera berakhir, sepertinya semua orang mulai sibuk lebaran. Ada yang mulai mempersiapkan mudik ke kampung halaman, sibuk mencari baju lebaran, membuat kue, bahkan beritikaf di sepuluh hari terakhir.
Namun lain halnya denganku. Aku merasa tak ada yang istimewa dengan lebaran kali ini. Semua berlalu begitu saja, tak ada bedanya dengan tahun-tahun sebelumnya. Mungkin, lantaran beberapa target yang ingin kucapai, terbengkalai di tengah jalan, entahlah.
Tak seperti Ramadhan sebelumnya, hari-hariku dipenuhi dengan sejumlah aktifitas dan kegiatan. Namun kali ini benar-benar berbeda. Kalau tak salah ingat, aku hanya bisa keluar rumah sesekali. mungkin dihitung dengan jari, saking jarangnya. Suntuk juga, ternyata.
   Sejujurnya, aku mulai bosan dengan keadaan di hadapanku. Menghadapi pekerjaan rumah tak pernah ada habisnya, setiap hari.  Ingin rasanya, aku mulai mengubah keadaan. Biar tidak terlalu membosankan seperti saat ini.  
Pagi itu, rumahku masih semerawut. Seperti tahun-tahun sebelumnya, hiporia lebaran hanya terasa pada satu hari jelang lebaran dan keesokannya. Selebihnya, semua terasa biasa sama seperti hari-hari lainnya. Justru lebih sepi dari biasa. Karena ditinggal mudik, silaturahim ke kerabat jauh, tadzkiah kubur atau bahkan ramai-ramai mengunjungi tempat rekreasi.
Di luar dugaan, Kang Adew mengirimiku sebuah sms. Sekedar memberi ucapan Idul Fitri serta mengajakku bersilaturahim ke rumah Uchi, nanti sore. Karena kebetulan masih belum ada agenda lain, aku langsung menyetujuinya.
Bagi orang yang berdomisili di Bandung, seperti kami. Terkadang kami malah bingung hendak pergi ke mana. Sementara teman atau sahabat terdekat sedang asyik bercengkrama dengan keluarganya di kampung halaman. 
Sama halnya, seperti kota besar lainnya. Jalanan di kota Bandung tampak lengang ditinggal penghuninya. Meski tak ada kemacetan yang berarti,  tidak membuat perjalananku menuju ke rumah Uchi lebih lancar dari biasanya. Justru kebalikannya, angkutan umum malah lebih banyak mengetem mencari penumpang.
Hingga akhirnya, aku berhasil sampai juga di tempat tujuan. Rupanya, sudah ada k’Opik, K’Wildan, K’Gun, k’Adew dan Riksa, Mas Agus dan Haris yang sudah datang lebih dulu. Eh tunggu! Kenapa aku merasa ada yang aneh? Tentu saja, cuma aku satu-satunya tamu perempuan yang datang.
Beragam kue dan kudapan terhidang di hadapan. Mulai dari makanan tradisional seperti opak dan rengginang hingga aneka jus serta kue unik, tersaji di hadapan kami. Ada kue keju, kue kacang polong, kue rainbow hingga tart lebaran. Aku begitu tergoda dengan rasa coklatnya yang benar-benar menggugah selera. Belum lagi, ketupat dan rendang yang sudah lama menunggu di ruang makan. Rasanya, semua itu membuat kami enggan pulang.
Tapi malam tak bisa dihindarkan. Gelap sudah semakin pekat di luar. Ditambah perut yang sudah kekenyangan.  Rasa kantuk benar-benar mengajak kami untuk segera pamit pulang.
****

Esok, siangnya aku dan Uchi kembali bertemu. Rencananya, kami berdua hendak  bersilaturahmi ke keluarga almarhumah T’Yuni. Mungkin,  karena rencana yang begitu mendadak, kami tak  bisa mengajak teman-teman lain untuk ikut serta. Hanya berdua pun, sudah cukup mewakili bukan?
Mulanya kami ragu, apa mereka ada di rumah atau malah mudik ke Solo, kampung halamannya. Lagipula, kami juga belum sempat menghubungi Agung adiknya. Tapi, masa sih kami harus balik lagi membawa buah tangan ala kadarnya ini?
Ah sudahlah, kami nekat saja mendatangi rumahnya. Kalau pun mereka benar-benar tidak ada, toh kami masih bisa menitipkannya pada tetangga. Beruntung, mereka masih ada di rumah. Padahal Agung sedang bersiap, akan berangkat ke Solo nanti malam. Andai saja kami datang keesokan harinya, tentu kami takkan seberuntung ini.
Kedatangan kami disambut hangat oleh ayah almarhumah. Kini mereka hanya tinggal berdua. Ternyata begitu banyak hal yang kami perbincangkan saat itu. Mulai dari cerita ayah tentang seputar kisah lebaran, hingga hobi lari marathonnya di masa muda.
Namun diantara sekian banyak obrolan yang ada, hatiku terenyuh saat beliau bilang, “Goreng kacang kegosongan. Bahkan bikin ketupat pun gagal total, alias gak bisa di makan sama sekali..”
Ya begitulah, rasanya miris juga saat melihat kondisi rumah tanpa sentuhan seorang wanita. Tanpa terasa, waktu sudah semakin sore. Kami berdua pun berpamitan pulang. Ketika melalui Taman Makam Pahlawan Cikutra, rupanya masih terlihat ramai oleh para peziarah.
Mungkin karena masih dalam suasana Lebaran. Hingga banyak orang yang datang berziarah ke makam keluarga ataupun keluarganya. Apalagi buat orang-orang yang tinggal jauh. Mungkin moment seperti ini, hanya ada setahun sekali.
Banyak pula diantara mereka yang sengaja datang sore. Biar tak kepanasan saat berdesak-desakan di makam, begitu katanya. Maka tak heran bila banyak pedagang yang sengaja memanfaatkan kesempatan ini.
Lihat saja! Pelataran makam yang luas dan biasanya sepi ini. Kini tampak ramai dan dipenuhi oleh para pedagang aneka jajanan pengusir lapar. Bahkan  kalau tak salah lihat, beberapa anak tampak gembira menaiki komidi putar.
Sepertinya, mereka tak ingin melewatkan rezeki yang melimpah begitu saja. Ah, aku jadi tidak mengerti apa niat mereka sebenarnya. Ziarah kubur ataukah rekreasi keluarga yang murah meriah?

Bersambung…

Selasa, 08 Mei 2012

Sisa Rindu di Kota Hujan

Teman, kita tak pernah tahu rencana Allah untuk kita. Waktu kecil, aku selalu berkhayal bisa melihat kabut di kota hujan. Ah, siapa sangka kalau impian itu bisa menjadi kenyataan. Untuk sebuah urusan, aku diminta datang ke kota hujan. 
Di awal perjalanan, kulampaui dengan penuh keoptimisan. Tapi, meski sudah hampir seharian perjalanan ini  kulakukan, masih belum menandakan akan segera berakhir. Keringat dan peluh yang bercucuran mulai berbaur dengan ketegangan. Baru kali ini, aku pergi ke tempat yang jauh sekali dari kampungku.   
Malam sudah menyapa, tapi  tempat tujuanku masih belum kelihatan. Aku semakin gelisah, berbagai bayangan buruk mulai berkelebat dalam pikiranku. Ah tidak apa-apa, aku akan baik-baik saja. Diantara rasa cemas dan ketakutan sepanjang hari, ponselku bergetar. 
Ternyata, kau mengirimiku sebuah pesan singkat. Meski demikian, tetap saja membuatku merasa lebih tenang hingga sampai tempat tujuan. Rasanya bagaikan mimpi, berada di sebuah kota yang memiliki awalan huruf yang sama dengan tempat kelahiranku. Ah, aku baru tahu kalau dukungan teman baik itu sangat berarti.
Kini, menghirup hawa dingin yang berkabut serta menikmati rintik hujan, tak pernah berhenti menghiasi hari-hariku. Akan tetapi, dari sekian kenyamanan yang kurasakan, ada sebuah rasa yang tak bisa kuetaskan. Sepertinya, hadir kamisan menjadi moment berharga yang paling kurindukan. 
Dan ketika perjalanan ini harus kuakhiri, ada perasaan lega menyelinap disanubari. Akhirnya, aku masih bisa kembali hadir di kamisan. Biarpun disisi lain, aku pasti akan sangat merindukan kabut. Sebab kabut yang dingin tak pernah mau hadir dikampung kami. 
 Kini, sudah sepekan aku kembali ke rumah tanpa terasa. Kembali beraktifitas seperti sediakala, bahkan sebagian orang mungkin tak menyadari kalau aku sempat menghilang beberapa pekan. Di luar dugaan kau kembali menghibungiku, sepagi ini. 
Ada hal penting yang akan dibicarakan, begitu katamu.
Ooh.. apakah itu? 
Tapi kau masih tetap merahasiakannya. Kau malah mengajakku untuk segera bertemu, sebentar lagi.
****

Aku sudah menunggumu di tempat biasa, sedari tadi. Hari sudah beranjak siang, tapi kau masih belum datang. Tapi, aku akan tetap menunggumu. Hingga akhirnya, kau baru muncul ketika sore hampir menjelang. Meski demikian, kau malah sibuk menyapa orang-orang yang ada di sekitarmu. 
Sepertinya, kehadiranku tidak kau hiraukan. Bagaimana aku tidak kesal, coba? 
Bersamaan dengan itu, suara adzan telah berkumandang. Aku pun segera bangkit dan beranjak menuju mesjid terdekat.
“Jangan pergi dulu, kan urusan kita belum selesai!” cegatnya
"Yups, aku shalat dulu."
"Okay, kalo gitu. Kita ketemu diselasar seperti biasa.” imbuhnya. 
Tak lama berselang, aku sudah menunaikan kewajibanku. Aku kembali menunggumu di selasar. Tapi sosokmu, kembali menghilang diantara para jamaah. Lama sekali, kau muncul dihadapanku. Begitu kau muncul, kau masih tetap melanjutkan sapaanmu.   
Hooy, aku disini! Apa nggak kelihatan? batinku semakin kesal.
Rasa penasaran semakin memenuhi hati dan pikiranku. Selama aku mengenalmu, aku tak pernah melihatmu bertindak aneh seperti itu. Lambat laun, keadaan mesjid yang tadinya ramai, mulai berangsur sepi. 
Kini, kau sudah duduk disampingku.
“Ada apa?” tanyaku.
“Tunggu sebentar!” ucapmu sambil menunduk.
Kami berdua sama-sama diam, dengan pandangan kosong. Tanpa kami sadari, keadaan mesjid sudah benar-benar sepi. Saat itulah, kau mulai mengangkat wajah dan membuka rahasiamu.
“Kapan kau akan kembali ke kota hujan?” tanyamu.
Aku menggeleng, “Aku tak akan kembali ke sana. Pekerjaanku sudah selesai.”
"Kenapa?" tanyaku lagi.
“Aku akan mengembara ke kota hujan."
 kenapa harus memilih kota hujan? Bukankah masih banyak kota lain yang lebih menjanjikan daripada kota hujan?"
"Karena kesempatan pertamaku hadir di kota hujan. Bagaimana bisa, aku sampai melewatkannya?" lanjutmu lagi.
"Ya, aku tahu. Tapi, bagaimana dengan diriku ini? Apa kau tega meninggalkan aku sendirian di tempat ini?" tanyaku sedih.
Kau menarik nafas berat, “Sudah kuduga.” ucapmu lirih.
Aku tergugu. Tahukah kau? Kota hujan akan selalu menyimpan sejuta kenangan untukku. Sebuah kerinduan tersendiri yang tak pernah bisa kuungkapkan.
****


Januari, 2009 

Senin, 26 Maret 2012

Ketika Detak Jantungku Berhenti

 Demi mengejar waktu yang makin mepet, bis antar kota menjadi pilihan utamaku. Selain waktunya yang lebih fleksible, harganya juga jauh lebih bersahabat daripada kereta eksekutif. Kuharap, badan ini bisa sedikit rileks di dalam bis.
Sayangnya, bis tujuan Bandung masih belum kelihatan di terminal. Aku terpaksa harus bersabar menunggu. Ternyata bukan aku saja yang menanti kedatangannya, banyak penumpang lain yang ikut menunggu bersamaku.
Setengah jam berselang, akhirnya bis itu datang juga. Maka,  begitu memasuki terminal, bis tersebut langsung diserbu oleh para penumpang, termasuk aku. Kemudian kami memilih tempat duduk masing-masing. Tak lama berselang, bis sudah mulai berjalan meninggalkan terminal.
Selama perjalanan pulang, aku berusaha memejamkan mata. Badanku memang sudah sangat kelelahan. Perjalanan ini, memang tidak mudah untukku. Mengingat workshop tadi siang, pikiranku jadi melayang ke mana-mana.
Sepertinya, aku harus segera mengubah semua konsep yang ada, jika ingin bersaing dengan mereka. Tapi... isi kepalaku masih kosong. Belum terlintas sedikit pun, aku mau menulis apa, mau bercerita tentang apa. Padahal, waktu yang kumiliki tidak begitu lama.
Hanya tiga minggu… Yups, pihak Tiga Serangkai hanya memberi waktu tiga minggu untuk menyelesaikan bab pertama. Aku kembali menghela nafas, pandanganku beralih ke luar jendela. Cuaca yang tadinya panas, kini mulai meredup. Bahkan lambat laun mulai gelap dan pekat.
Apa aku sanggup menyelesaikan semua ini? Rasanya, aku butuh keajaiban saat ini, batinku
Ah sudahlah! Aku tidak ingin terus memikirkannya. Bisa-bisa, semangatku bakal menyusut sebelum berkembang. Yang terpenting sekarang, aku harus bisa beristirahat. Syukur-syukur tidur beberapa saat, agar esok pagi kondisiku bisa tetap fit .
Saking lelahnya, aku langsung terlelap selama perjalanan. Hingga akhirnya, bis tersebut sampai juga ke kota Bandung tanpa terasa. Bertepatan dengan adzan Shubuh, aku tiba di rumah dengan selamat, Alhamdulillah.
****

Meski mata ini masih sangat mengantuk, aku tidak bisa langsung tidur usai shalat shubuh. Aku terlalu asyik bercerita tentang pengalaman yang baru saja kualami di kota gudeg. Tanpa terasa, waktu sudah menunjukkan hampir pukul 6.30 pagi.
Buru-buru aku memejamkan mata dan terlelap beberapa sesaat. Akan tetapi, ketika tersadar waktu sudah menunjukkan pukul 9.00 pagi. Padahal acara launcing akan segera dimulai dalam waktu yang sama.
Sontak, aku buru-buru bangun dengan kepala yang masih terasa berat. Ah, rasanya aku tak sanggup berada di tempat acara tepat waktu. Terlambat sedikit tak apalah, mereka masih bisa memulainya tanpa aku.
Sambil mengumpulkan kesadaran, aku sengaja mengaktifkan ponsel. Kebetulan, ponselku memang kehabisan batere tadi. Tak lama berselang, ponsel itu langsung tak berhenti berbunyi. Semua bernada sama, “Teteeh, dimanaa?”
Setelah badan ini terasa lebih baik, aku mulai bersiap-siap dan pergi ke Salman ITB. Ternyata, acara launching sudah berlangsung sedari tadi. Acara diskusi buku menjadi lebih seru dengan hadirnya bunda Pipiet senja serta kang Taufik Mulyana sebagai narasumber.

Seperti yang telah direncanakan, semua dana yang terkumpul akan kami serahkan pada pihak keluarga almh. Nurul F Huda. Sayangnya, tak ada pihak keluarga yang datang menghadiri acara ini. Ujung-ujungnya, aku yang mewakili pihak keluarga, dalam serah terima secara simbolis..
Sekitar pukul 13.30 acara launcing ini pun harus segera berakhir. Meski demikian, kami tidak bisa pulang begitu saja. Selain harus membereskan tempat acara, kami juga harus melakukan evaluasi. Di luar itu semua, acara launcing dapat berjalan lancar.
 Sungguh, aku tak menyangka dapat menghadiri dua acara yang awalnya kuanggap mustahil. Benar-benar suatu keajaiban. Ternyata bila Allah mengijinkan, tak ada yang tak mungkin. Usai launching ini, tinggal giliranku memikirkan First Novel yang akan aku garap sebentar lagi...

Selasa, 14 Februari 2012

Flp, Takkan Tergantikan

“Apa pun akan aku lakukan demi flp…”
Mungkin teman-teman di Bandung, pernah atau bahkan sering mendengarku mengatakan hal tersebut. Kenapa? Karena aku ingin memotivasi diri sendiri. Kuharap, satu saat nanti impian ini benar-benar menjadi kenyataan.
Aku hanyalah orang biasa yang hidup dalam lingkungan seba terbatas. Bahkan sebuah survey mengatakan kalau tempat tinggalku termasuk salah satu daerah terpadat di dunia. Aku sadar, semua tak akan berjalan mudah. Butuh kerja keras dan pengorbanan yang tidak sedikit.
Apalagi, pemahaman masyarakat di kampungku tentang profesi ini masih sangat awam. Mereka hanya mau menghargai pekerjaan seseorang yang pergi pagi, pulang sore dan akhir bulan mendapat uang.
Mereka pikir, menulis itu dianggap sebagai pekerjaan yang membuang-buang waktu. Begitu pula dengan keluargaku. Bahkan ibuku sendiri pernah bilang, “Untuk apa menulis? Tak ada hasilnya, hanya menumpuk kertas saja!”
Meski hanya sekali beliau berucap begitu, tapi efek yang diakibatkannya jauh lebih besar. Rasanya aku masih bisa terima, kalau ucapan itu meluncur dari orang lain. Akan tetapi, ini muncul dari orang yang paling aku harapkan tetap ada disampingku dan selalu membelaku.
Mendengar perkataannya, semangatku langsung turun seketika. Hingga berbulan-bulan, aku terus berpikir ulang untuk tetap bertahan atau harus berhenti sampai di sini?
Tapi, bukankah pilihan hidup ini tidaklah salah? Masa aku akan menyerah begitu saja. Aku yakin, Allah tak akan diam saja, melihat keadaanku saat ini. Semoga Allah segera menunjukkan jalan terbaik untukku.
Hingga satu waktu, aku meminjam majalah seorang sahabat. Dari salah satu cerpen yang dimuat, penulisnya berasal dari Bandung. Irawati, namanya. Kebetulan tempat tinggalnya tidak begitu jauh dari rumahku.
Kemudian, aku mencoba menghubunginya dan mengemukakan keinginanku ini lewat selembar surat. Alhamdulillah beliau membalasnya. Hingga beberapa waktu, kami masih berhubungan, dengan saling berkirim surat. Dan setelah hampir setahun berkenalan, kami baru bisa bertatap muka langsung.
Dari beliau lah, mengalir informasi mengenai pertemuan rutin Flp Bandung, setiap kamis sore di Salman-ITB. Ingin rasanya segera datang ke tempat itu. Ingin tahu, seperti apa pertemuan penulis itu. Seberapa hebatnya mereka dan segudang pertanyaan lainnya berseliweran di kepalaku.
Sayangnya, aku tidak boleh terburu-buru. Aku perlu waktu untuk menunggu situasinya tenang. Aku juga perlu mengumpulkan keberanian untuk bisa bertemu dengan orang-orang kalangan atas seperti mereka. Perasaan minder benar-benar menguasai diriku.
Akan tetapi, aku tak ingin menyerah begitu saja. Bagaimana hidupku bisa maju, bila hanya berkutat dalam lingkungan yang itu-itu saja. Maka dari itu, dengan uang seadanya dan no kontak Teny, aku memaksa datang ke sana. Aku memang telah menghubunginya, beberapa kali.
Berbekal alasan ikut pengajian, aku pamit pergi dari rumah. Biarpun, terbersit rasa bersalah dalam hati. Seandainya aku bisa memilih, tentu aku tidak ingin melakukannya. Tapi, sungguh aku tak punya cara lain.
Kamisan pertamaku, benar-benar mengubah cara pandangku. Aku kira, pertemuan Flp itu resmi dan kaku, seperti kuliah di kampus-kampus. Yang hanya sebatas bayangan saja. Karena aku tak pernah merasakan menjadi mahasiswa di kampus mana pun.
Ternyata pertemuannya terasa santai. Meski materi terus mengalir dari pembicara, namun para pesertanya merasa tidak terbebani. Apalagi buat orang baru sepertiku. Bukan hanya itu, aku juga sampai terheran-heran dengan teman-teman baru di sekelilingku. Kamisan pertamaku, benar-benar menyiapkan segudang kejutan untukku.
Ada Adew habtsa, Noel Saga dan almah. Rinrin Migristine yang berasal dari kampus yang sama yakni Sospol. Ada Lian Kagura dari Biologi, Yuni Hasna dari Sastra Inggris. Teny juga berasal dari Hukum. (= Fakultas hukum maksudku..)
Serta Hendra Vejaay katanya sudah terkenal. Padahal aku baru pertama kali mengenalnya saat itu. Ada Fely Mulyani, Umi Riani, Riki Cahya serta masih banyak lagi yang lain, yang tak bisa kusebutkan di sini. Namun yang paling mengejutkanku adalah Alin You yang berasal dari peternakan, juga Wildan Nugraha dari pertanian.
Ds. Nyampai - Cikole (Lembang)
 Masih belum hilang kekagetanku, aku juga bertemu dengan Ananda Putri yang berasal dari Psikologi, Ade Fariyani dari keperawatan serta abang Tareq Barasabha dari kedokteran. Pak dokter yang tetap istiqomah dengan sastra.
Ah ternyata, para penulis itu tak harus teman sebaya, tak harus berasal dari kalangan atas saja. Apalagi memiliki latar pendidikan sastra Indonesia. Siapa saja yang mempunyai kemauan, masih bisa bergabung di sana.
Mulanya hanya ingin mencoba sekali. Lama kelamaan, masih ingin terus datang. Segala cara telah aku upayakan agar aku bisa tetap bertahan di Flp. Dari mulai tak jujur pada orang tua, hingga membongkar semua isi tabungan.
Aku pernah sengaja berjualan makanan ringan ala kadarnya, hanya untuk mengganti ongkos angkutan umum. Bahkan aku sering berjalan kaki, jika benar-benar tak punya uang.
Namun aku tak pernah merasa terbebani oleh semua itu. Justru aku malah menikmati setiap prosesnya.
Sungguh, Allah itu sesuai dengan prasangka hamba-NYA. Setelah beberapa tahun berjalan, dengan segala pengorbanan yang telah kulakukan. Allah berkenan meluluhkan hati kedua orang tuaku. Hingga akhirnya, mereka mau menerima pilihan hidupku. Tak ada hal lain yang lebih berharga bagiku selain restu dari kedua orang tua, Alhamdulillah..
Hingga satu waktu, kang Irfan Hidayatullah hadir, aku terperangah. Bukan karena aku pengagum karya-karyanya. Namun karena wajahnya begitu familiar bagiku. Kenapa ya? Rupanya beliau adalah salah satu anggota musyid yang terkenal di kota Bandung ini. Dulu, aku sering menonton konser nasyid yang diisi oleh beliau dan rekan-rekannya.
Sungguh, aku tak menyangka kalau beliau adalah seorang penulis terkenal. Ah, betapa kupernya aku. Katanya bercita-cita ingin jadi penulis, tapi penulis yang berasal dari Bandung pun aku tidak tahu.
Tak hanya sampai di situ, Flp menghadirkan kejutan untukku. Saat itu, ketika acara silaturahmi nasional tahun 2008 lalu. Siapa sangka kalau ketua pelaksananya yakni Koko Nata menyempatkan diri untuk menyapaku.
Sebenarnya, aku sering mendengar namanya. Seorang Koko Nata dengan segala karya-karyanya. Tapi sungguh, aku tak pernah menyangka. Kalau dia adalah orang yang sama, yakni teman lamaku yang telah lama menghilang. Saat dia memutuskan pindah ke Palembang.
Bagiku, Flp tak ubahnya seperti rumah yang nyaman untuk bernaung. Tanpa disadari, sudah hampir bertahun-tahun aku masih kerasan tinggal di sini. Bisa saling berbagi dengan orang-orang yang memiliki minat yang sama, adalah kebahagiaan tersendiri.
Akan tetapi, hingga menginjak tahun keenam di flp, masih belum banyak karyaku yang di muat media. Mungkin aku tidak terlalu bernafsu untuk menjadi orang sukses dan terkenal. Aku hanya ingin orang-orang di sekelilingku tahu, bahwa inilah pilihan hidupku. Aku hanya ingin membuktikan, kalau pekerjaan seperti ini pun, memang ada di sekitar kita.
Mau sedikit ataupun banyak tak ada bedanya, yang paling penting karyaku bisa bermanfaat bagi orang-orang yang membacanya. Andai suatu saat nanti aku sudah tidak ada di dunia ini lagi. Setidaknya, orang-orang tahu kalau aku pernah ada, melalui karya-karyaku yang tidak seberapa.
Meski demikian, aku menyimpan segudang kenangan yang takkan pernah habis aku ceritakan. Di flp, aku menemukan teman dan juga sahabat. Di flp, aku menemukan saudara yang tidak lahir dari rahim yang sama. Di flp pula, aku pernah menangis dan juga tertawa ketika baru menyadari betapa indahnya dunia.
Biarpun semua datang dan pergi. Ke mana pun mereka pergi, namun akan selalu ada dalam hati. Hubungan kekeluargaan flp yang sedemikian eratnya, takkan pernah tergantikan oleh apapun.
Bandung, awal 2012