Tampilkan postingan dengan label Diary Mini. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Diary Mini. Tampilkan semua postingan

Selasa, 19 Maret 2013

Untuk Sebuah Kepercayaan


Rasanya baru kemarin sore, aku berkeluh kesah padamu. Rupanya, sudah hampir setahun aku tinggalkan. Ah, sesibuk apa diriku selama ini hingga tak bisa meluangkan waktu sebentar saja untuk menengokmu?? Maaaf...
Hhh, aku masih ingat betul kala itu.
Tepat dua hari menjelang Ulang Tahunku, setahun yang lalu. Tiada angin, tiada hujan, kau tiba-tiba saja menghubungiku lewat akun jejaring sosial. Lalu, kau mengajakku berjuang bersama. Aku bengong. Sungguh, aku tak mampu berpikir apapun saat itu.
Seingatku, umur perkenalan kami masih seumur jagung. Itupun hanya sebatas perkenalan biasa.  Bagaimana mungkin, aku bisa berpikir hingga sejauh itu? Sungguh, tak pernah terbersit sedikitpun di kepala ini.
Justru, aku malah meragukan kebenarannya. Apa kau bersungguh-sungguh atau hanya iseng belaka. Kalau memang benar, kenapa kau tak datang ke rumahku dan temui kedua orang tuaku?
Mungkin, ajakan seperti ini akan menjadi hal yang paling ditunggu bagi orang lain. Sayangnya, tidak untukku. Terlepas dari jujur atau tidaknya, niat baikmu. Tapi maaf, aku masih belum siap. Jujur saja, aku tak pernah bisa percaya begitu saja pada orang yang baru kukenal dari dunia maya hingga kapanpun.

Kau baru mengenalku. Kau tak pernah tahu apa-apa tentang diriku. Apa kau mau menerima semua kekuranganku? Kau tahu, kehidupanku terlalu rumit untuk dimengerti. Apa kau juga mau memakluminya? Apa kau sanggup menerima segala resiko yang akan kita hadapi dikemudian hari? Aku hanya tak ingin kau menyesal telah membuat keputusan besar seperti ini.
Andai saja, kau memang telah siap. Tapi maaf, perasaanku justru mengatakan sebaliknya. Rasanya, aku masih belum sanggup mempercayakan semua rahasia hidupku pada orang lain. Termasuk dirimu. Kau tahu? Menaruh kepercayaan pada seseorang itu tak semudah membalikan tangan. 
Sungguh, aku tak ingin salah pilih orang lagi. Aku tak ingin ketulusanku dan kepercayaanku disalah gunakan seperti dulu. Aku hanya berusaha menjadi pribadi tegar meski sebenarnya masih terlalu jauh dari harapan.


Dan kali ini, aku masih tetap memanjatkan doa yang sama,
"Berikan pengganti dirinya yang jauh lebih baik darinya, jauh lebih pengertian, tulus serta bisa aku percaya seutuhnya."
Kenapa, semua ini terasa sulit sekali aku jalani? Kapan, orang yang bisa kupercaya sepenuhnya bisa hadir dihadapanku. Hanya seorang, diantara sekian ratus juta orang yang hidup di dunia ini. Hanya seorang, yang memiliki hati yang tulus untuk menerimaku. Tapi rasanya, semua ini jauh lebih sulit daripada mengumpulkan sejentik berlian.
Apakah di masa kini, nilai sebuah kepercayaan sudah tak ada harganya lagi atau memang kepercayaan itu sudah tak ada tandingannya lagi di dunia ini?



   
Pondok Abu, Maret 2013

Minggu, 11 November 2012

Cathar 1


Mien, kau tahu, kan?
Aku sudah lupa bagaimana rasanya jatuh cinta.
Apa aku akan terus melamun memikirkannya? 
Apa aku akan kehilangan selera makan karena perasaanku yang sedang berbunga-bunga. Apa aku bisa bahagia dengan rasa cinta yang ada? Ataukah aku harus kembali merana seperti pengalamanku sebelumnya. Entahlah,

Mien,
Aku bukan tak ingin jatuh cinta lagi. Hanya saja, aku tak sanggup membayangkan. Bagaimana bila perasaan ini kembali terluka dan kecewa. Apa yang baru saja aku alami belakangan ini, membuatku harus berpikir ulang.

Please, move on!
Sungguh, bukan inginku untuk terus berkutat di masa lalu. Aku juga ingin melupakan dia dan mencari pengganti dirinya. Tapi kenapa, semua usahaku selalu menemui jalan buntu?

Padahal selama ini, aku sudah berusaha membuka hati untuk orang lain. Mulai dari orang yang belum kukenal sebelumnya. Hingga orang yang kehidupannya benar-benar asing bagiku. Kupikir, kami bisa memulai segalanya dari awal. Karena itulah, aku mencoba menepis semua  keraguanku padanya.

Tapi hasilnya, sungguh mengecewakan. Rasanya semua usahaku tidak ada artinya. Terkadang, aku sering merenung sendiri. Apa mungkin, diri inilah yang bermasalah? Hingga akhirnya, mereka tetap meninggalkanku seorang diri.

Mien,
Saat ini, aku merasa sendirian dan kesepian.
Kini, tak ada seorang teman ataupun sahabat yang tersisa untukku.
Bahkan, kini tak ada satu tempat pun yang bisa aku kunjungi saat hati ini, benar-benar terluka dan kecewa...
Apa yang harus kulakukan, Mien?

Meski begitu, aku tetap tak ingin menyalahkan siapapun. Aku juga tak ingin berharap pada siapapun. Apalagi sampai meminta bantuan makhluk apapun. Biarlah Allah yang mengatur hidupku, hendak ke mana arah hidupku di kemudian hari.

Kata orang, pasrah menyerah dengan menerima kenyataan itu beda tipis. Benarkah? Lalu, bagaimana harus aku bersikap. Setelah sebuah pilihan yang telah aku putuskan beberapa tahun ke belakang.

Entahlah, tapi kurasa alasanku hanya satu. Aku masih belum punya pilihan lain yang lebih baik. Hingga aku menemukan penggantinya maka semua ini masih tetap tak akan berubah, hingga kapan pun.

Mungkin pula, aku terlambat meminta. Ingin bertemu jodoh dan menikah saat usiaku sudah menginjak kepala tiga. Padahal bagi orang lain, sudah meminta hal yang serupa saat dia masih duduk di bangku sekolah atau pada saat kuliah.

Sungguh, bukan aku tak pernah memikirkannya. Tapi, rasanya kenyataan dihadapanku yang tak pernah memberikan kesempatan untuk melakukannya. Aku juga ingin seperti orang lain, ingin menata hidupku sendiri. 

Aku jadi teringat pada obrolanku dengan seorang teman suatu waktu, “Minta jodoh itu, harus rinci dan jelas. Jangan ngasal dan seadanya. Saya juga butuh waktu lima tahun, hingga bertemu istri saya ini.”

Ya Allah,.. Tolonglah, jangan selama itu.
Aku tak sanggup menunggu hingga lima tahun
Sungguh, aku benar-benar membutuhkannya, saat ini.     
 

Senin, 18 Juni 2012

Diary Minnie


Diary Minnie.
Begitulah, dia menamaimu. Sebenarnya, aku tak habis pikir, bagaimana bisa dia memilihkan nama itu untukmu.
Bukankah Minnie hanyalah seekor tikus betina yang sengaja dihadirkan Walt Disney untuk menemani Mickey yang selalu sendirian dan kesepian. Lalu, apa hubungannya denganmu?
Lihat saja! Ukuran tubuhmu juga tidak mini, justru terlihat lebih gempal malah. Ups, salah. Rasanya tak pantas bila menyebutmu gempal. Hmm… sepertinya, tebal mungkin lebih cocok untukmu.
Namun, ketika melihat matamu yang bulat mengerjap-ngerjap, kurasa kau begitu bahagia dengan sebutan itu. Baiklah, aku mengalah. Mulai saat ini hingga nanti, aku akan tetap menyebutmu ‘Diary Minnie’
Kau setuju, bukan?
Tentu saja kau setuju. Apalagi belakangan ini, teman-teman kita ikut-ikutan memanggilmu ‘Minnie’. Ah Min, aku masih ingat betul, awal perjumpaan kita. Saat itu, tak biasanya dia datang menghampiriku. Lalu menyerahkanmu ke tanganku.
“Rawat dia baik-baik!” pesannya singkat.
“A... ku,” tanyaku sembari menunjuk hidungku sendiri.
Dia mengangguk.
“Tapi…  kenapa harus?” tolakku ragu.
“Bukankah kau sudah berjanji padaku?”
“Berjanji padamu, kapan?” alisku bertaut
Dia menghela nafas. Kelihatannya, dia tak ingin berdebat lagi denganku.
“Kau tak pernah mau mengisi kumpulan puisi milikku?”
“Apa? apa hanya itulah alasanmu?” tanyaku memastikan.
Bukannya menanggapi pertanyaanku, Kau malah beranjak meninggalkanku.
Hei, tunggu…
Kau pun menghentikan langkahmu sejenak, lalu berbalik. Hatiku mulai bernafas lega..
“Oh ya, kau boleh mengisinya dengan apa saja. Mau bercerita, mengoceh, mengadu, atau corat coret sekalipun juga boleh. Pokoknya segala hal  selain puisi.” ujarmu mengingatkan.
Tak lama kemudian, kau kembali melangkah hingga bayanganmu hilang di tikungan diantara sorotan lampu taman.
Aku terhenyak. Seperti tersadarkan dari mimpi. Meski sudah berkali-kali, kau memintaku untuk mengisi buku kumpulan puisimu. Aku selalu menolak. Alasannya, aku tidak begitu akrab dengan puisi.
Bahkan aku sempat bilang padanya, “Jangan pernah memintaku membuat sebuah puisi karena aku takkan pernah melakukannya.”
****

Biarpun enggan, akhirnya kau kubawa pulang. Entah kenapa, dia mempercayaiku untuk merawatmu. Padahal kau tau sendiri, aku tak pernah punya tempat khusus untuk menyimpanmu. Rasa ragu mulai menyergap hatiku, aku takut tubuh mulusmu akan kotor dan berdebu.
Minie…
Apa itu suatu kebetulan atau tidak, tapi kau akan menemukan Minnie lain yang lebih dulu menjadi penghuni rumahku. Awalnya, dia selalu setia menemani hari-hariku. Namun semenjak kesibukanku diluar semakin bertambah, dia selalu aku abaikan.
Lama kelamaan, aku juga tak tega melihatnya kotor dan berdebu. Hingga akhirnya, aku terpaksa menyimpannya di tempat yang paling aman. Sungguh, bukan maksudku untuk membalas kesetiaannya, dengan mengurung dia di dalam lemari.
Bila kita sudah tiba di rumahku nanti, aku berjanji akan segera membebaskannya. Agar kalian bisa segera berkenalan. Mudah-mudahan kalian bisa berteman baik, nanti. Sehingga kalian tidak merasa kesepian, saat aku tinggalkan.

Bandung, Medio 2007

The Koster, part 1


Ketika putaran waktu terus merambat semakin jauh. Terkadang, kita tak pernah sadar apa yang telah kita lakukan dalam hidup ini. Padahal dalam setiap jejaknya akan terus  berpacu dengan waktu.Demikian pula dengan episode kehidupan yang baru saja aku jalani saat ini.

Tanpa terasa, sudah hampir tiga perempat tahun, aku belajar hidup jauh dari orang tua. Ibarat bayi merah yang baru mengenal dunia, aku juga baru mengenal betapa kerasnya kehidupan diluar sana.
Sebuah keputusan berat yang tak pernah aku rencanakan sebelumnya. Apalagi sampai membayangkannya. Tapi… inilah kenyataannya. Aku harus hidup jauh dari orang-orang yang aku sayangi.
Kalau boleh memilih, aku ingin tetap berada di rumah, Menemani mereka hingga ujung usianya. Tak tega rasanya, membiarkan tubuhnya yang telah renta bersimbah peluh. Tapi, apa mau dikata bila tak ada seorang pun, yang mengharapkan aku kembali.
Sungguh, aku tidak pernah memiliki pilihan lain. Yang tersisa hanyalah segudang tanya memenuhi kepala, tanpa ada satupun penjelasan yang dapat aku pahami. Kenapa dia lebih memilihnya daripada aku? Kenapa dia lebih rela menyiksa dirinya sendiri hanya demi kebahagiaannya?
Padahal, aku perjuangkan segala hal hanya untuk membuatnya bahagia. Apakah dia tak pernah sadar, kalau semua itu sangat melukai perasaanku. Aku hanya ingin mendapatkan hakku kembali yang sering dia lupakan. Disini, aku hidup seorang diri, mencoba bertahan dalam segala keterbatasan, berusaha untuk tegar biarpun tetap rapuh.
Tak ada yang bisa kujadikan sandaran kecuali Allah. DIA lah yang telah menciptakanku, DIA pula yang telah mengatur kehidupanku. Aku yakin, DIA takkan pernah membuatku terlunta. Karena DIA tak pernah tidur seperti kita.
Tapi… aku hanya manusia biasa. Dimana dalam satu titik jenuh, perasaan kecewa itu akan berbalik menjadi rindu. Ah, seandainya…, kalau saja…, tentu takkan begini  
Entahlah, kenapa banyak butir-butir keluh yang menggenang di hatiku! Bukan mendidikku untuk lebih bersikap bijaksana, Astagfirullah…

Istana Abu, 10 Nopember 2010

Rabu, 21 Maret 2012

Tiga Permintaan

"Ternyata Allah tak pernah membiarkanku sendirian. Itulah anugerah terindah yang pernah kumiliki..."

Berawal dari keisenganku  memasang status di salah satu jejaring sosial, tiada kusangka akan menuai berbagai reaksi dari orang-orang terdekat. Padahal, aku cuma takjub atas do'a tulus dari semua teman dan juga sahabat yang tersebar di bumi Allah yg luas. Mulai dari Aceh, Bandung, Bogor, Malaysia, Karawang, Samarinda Semarang, Surabaya, Malaysia, Jepang hingga Belanda. Hingga aku merasa tak sendirian di hari Ulang Tahunku ^_^

Meski telah lama  berlalu, namun hal tersebut tetap menjadi moment yang paling istimewa selama beberapa tahun terakhir.Tanpa selebrasi apapun, kulalui hari itu seadanya. Tak ada kue istimewa, apalagi sahabat sejati yang datang menemuiku. Hanya meniup lilin pun, baru kulakukan tadi malam. Itu pun karena mati lampu :D

Aku jadi ingat. Kata orang, usai meniup lilin, seseorang yang berulang tahun akan mengucapkan permintaan maka permintaan tersebut akan dikabulkan. Saat ini, aku memiliki tiga permintaan. Masih bisakah Engkau mengabulkanya?

Pertama, aku ingin menikah...
Aku memang ingin menikah tahun ini. Tapi, aku nggak ingin terburu-buru. Aku ingin memilih yang terbaik untuk segala-galanya. Baik untuk diri sendiri atau pun kehidupan orang-orang di sekitarku. 
Aku tak ingin membuat mereka terluka dan kecewa hanya gara-gara aku. Aku hanya ingin menikah dengan restu dan kebahagiaan dari mereka. Jika tidak, aku harus bersabar menunggu saatnya tiba daripada menyesal seumur hidup.     
Tapi... entah suatu kebetulan atau tidak. 
Dua hari menjelang hari Ulang Tahunku, salah seorang kenalan di luar kota mengajakku menikah. Biarpun sedang dikejar target nikah tapi saat ini, sungguh kepalaku tidak sedang berpikir ke arah sana. 
Terlintas sedikit pun tidak. Kalaupun aku iya, aku takkan memilih dia. Bukannya aku terlalu pemilih, tapi semenjak pertama kali bertemu dengannya dan mengenal pribadinya, aku memang tidak begitu suka dengannya. 
Kata orang, kalau kita merasa setengah hati, lebih baik tinggalkan. Maka aku memilih menolak lamarannya. Boro-boro setengah hati, yang ada malah ill feel padanya. Aku pasrah, kalau memang keputusanku ini memang salah... T_T
Lagipula, ada hal lain yang lebih menyita perhatianku.  Sementara itu, aku tak ingin lagi mengeksplornya lebih  jauh. Cukup hanya Allah yang mendengar semua keluh kesahku. Cukup hanya mereka saja yang tahu seperti apa hidupku selama ini. Biarkan semua tertutup rapat hingga akhirnya hilang tertelan waktu..
Biarlah mereka mau berkata apa tentang aku, biarkan mereka mau berpikir apa tentang diriku. Tanpa peduli apa kata orang, biarkanlah aku jalani hidupku ini apa adanya. Meski saat ini, semua teman-temanku telah lama menikah. Aku takkan pernah berhenti berharap, agar jodohku akan segera datang...

Kedua, kuharap orang tuaku masih tetap ada dan sehat.
Terkadang, pikiran egois selalu memenuhi kepalaku. Kenapa harus aku yang tertinggal disini, kenapa bukan salah satu dari kakakku? Tapi... bagaimana pun keadaannya, inilah jalan hidup yang harus kujalani dengan ikhlas. Biarpun hingga kini masih terasa sulit, aku akan terus berusaha.
Melihat keduanya hidup rukun, berdampingan di sisa usianya adalah impian terbesarku. Tapi sepertinya, aku harus menguburnya dalam-dalam. Bagaimana tidak, selalu saja hal yang membuat mereka cekcok, setiap hari. Entah apa yang mereka ributkan, toh penyebab utamanya juga nggak jelas. Keadaan seperti ini, sudah menjadi hal lumrah di rumahku.
Bukan hanya itu, perasaan mereka benar-benar sensitif. Ada sedikit saja hal yang melukai perasaannya, akan membuatnya tersinggung dan marah-marah. Terkadang, sikapku yang kuanggap lumrah, bisa melukai perasaannya.
Ya Allah apa yang harus kulakukan? Prilaku keduanya benar-benar menguji kesabaranku.
Aku hanya manusia biasa, di mana kesabaranku sangat terbatas. Aku sering kali bingung menghadapinya. Ingin rasanya aku pergi sesuka hati, menapaki kehidupan yang sesungguhnya. 
Akan tetapi aku tak pernah tahu, kapan ajal akan datang menjemput. Bisa esok, bisa lusa, bulan depan, atau bahkan tahun depan. Bisa saja, aku yang pergi meninggalkan keduanya lebih dulu. Biarlah aku tak punya apa-apa, asalkan aku tidak menyesal seumur hidup. 
Aku hanya bisa menjalani kehidupan ini sewajarnya, sebatas aku mampu. Semoga Allah memudahkan langkahku serta memberi keberkahan dalam kehidupanku.  

Ketiga, mimpiku
Satu waktu, salah seorang teman mengirimiku sms. Dia bertanya tentang novel "Diorama Sepasang Al Banna." Entah kenapa pikiranku jadi teringat pada sebuah cover buku bergambar seorang wanita berjilbab yang bertengger di salah satu toko buku langgananku. Ah, palingan juga novel islami biasa, begitu pikirku saat itu.
"Saya lagi butuh banget novel itu! Sebenernya saya udah baca, pinjam punya temen. Tapi sekarang, bukunya hilang. Jadi saya harus menggantinya. Padahal di mana-mana udah nggak ada,  best seller sih!" katanya lagi.
Mendengar kata best seller, hatiku jadi tergerak untuk ikut mencari novel tersebut. Seperti apa sih, kisah dibaliknya hingga membuat novel itu menjadi best seller. Kebetulan, saat ini masih belum ada pekerjaan yang benar-benar menyita waktuku. Sehingga aku masih bisa mencarinya dengan lebih leluasa.
Tanpa membuang waktu, aku  segera membuka komputer dan menyalakan jaringan internet. Baru juga beberapa detik, segala informasi mengenai novel ini langsung bermunculan.
Ternyata ingatanku tidak keliru. Novel itulah yang dimaksud temanku tadi, pantas saja aku merasa familiar dengan judulnya. Aku pun mulai asyik membaca berbagai ulasannya. Sungguh, aku langsung jatuh hati pada kisah ini. Aku salut sama penulisnya mba Ary Nur. Dia benar-benar punya energi extra untuk menyelesaikan novel ini. Selain ide ceritanya yang briliant, ditambah kemasan alurnya juga dikemas dengan apik. Pantas jadi best seller ^_^
Ah, aku jadi menyesal! Kenapa dulu aku tidak membelinya hanya karena tampilan covernya yang tidak menarik. Begitulah manusia, hanya menilai segala sesuatu hanya dari tampilan luarnya saja. Kemudian, aku kembali melanjutkan membaca. Rupanya kisah ini masih berlanjut ke novel yang kedua yang berjudul "Dilatasi Memori"
Usai membacanya, tiba-tiba saja hatiku terasa tak menentu. Aku seperti baru tersadar. At the least,  aku benar-benar ingin menangis. Kau tahu, usai membaca novel kedua aku jadi teringat akan mimpiku yang selama ini terpendam.
Mungkin karena terlalu lama memendamnya, hingga aku sendiri sampai lupa pernah memiliki mimpi seperti itu. Impianku sejak lama adalah mengatur hidupku sendiri dan membangun keluargaku sendiri, tanpa adanya campur tangan pihak lain. Namun, dengan kenyataan yang kuhadapi saat ini, bagaimana mungkin aku sanggup untuk mewujudkan semua impian itu? Sepertinya, aku harus menguburnya  jauh-jauh.
Ya Allah, aku harus bagaimana? Berikan petunjukMu, langkah apa yang harus kutempuh untuk menjemput mimpiku ini. Rasanya aku sudah lelah dan tertatih untuk menempuhnya. 
Dan ketika aku membaca semua kisah ini, membuat impian itu kembali tumbuh dan berkembang di dalam hatiku. Sungguh, aku benar-benar ingin menangis T_T

Selasa, 12 April 2011

Memory Ramadhan

Ramadhan tahun lalu, takkan pernah aku lupakan sampai kapan pun.
Beberapa hari jelang Ramadhan, aku mencoba mengusik rahasia hati seseorang yang telah menjadi belahan jiwaku selama ini..

Sebenarnya sudah lama aku pertimbangkan keputusan itu. Rasanya tak percaya juga pada pilihanku sendiri. Kenapa harus memilih dia, orang sederhana yang kini berada jauh disana. kenapa harus sekarang? kenapa bukan dari dulu, saat dia masih ada di sisiku.

Tepat sebelum ramadhan, aku mengumpulkan segala kekuatan akan sebuah keputusan yg sangatlah penting. Akh, sulit rasanya mengatakan semua ini padanya. Sejak dulu, tak ada hal yang dapat aku sembunyikan darinya, bukankah dia sudah paham betul diriku luar dan dalam.

Aku tepis semua ego dan rasa malu, ku kumpulkan segenap kemampuan yg aku miliki. Yang ada dikepalaku hanya ada dua kata kunci, "bahagia" atau kecewa.
Sebulan penuh aku terus berdo'a agar harapan itu menjadi kenyataan. Aku terus menyiapkan hati seandainya pilihan terburuk menyapaku..

Jelang lebaran, tak ada secuil kabarpun darinya. Bahkan smsku pun tak dibalasnya. Sungguh, kepalaku dipenuhi tanya.. Ada apa dengan dia sebenarnya.

Pagi itu, sebuah sms masuk darinya. Sebuah sms yang mengabarkan pesta pernikahannya yang akan digelar seminggu kemudian. Entah bagaimana aku bersikap, apa harus tersenyum bahagia ataukah harus berurai air mata. Aku hanya bisa diam.

Selasa, 29 Maret 2011

The Koster part 2

"Kau harus tahu, kalau hidupmu bukan untuk dirimu sendiri..."

Aku memang seorang perempuan dan belum menikah. Meski demikian, aku bisa merasakan bagaimana beratnya perjuangan seorang ibu. Lima belas tahun, bukanlah waktu yang sebentar. Selama itu pula, aku harus mengecek kembali perasaanku yang sebenarnya. Benar-benar tulus, ataukah hanya terpaksa?
Kalau boleh jujur, aku tidak ingin berada dalam posisi ini. Membesarkan seorang anak lelaki yang usianya hampir menginjak remaja. Biarpun kedua orang tuanya masih ada tapi seolah dia tidak punya siapa-siapa. Terlalu kejam rasanya bila aku menyebutnya, seperti seorang anak yang terbuang. Tapi, itulah kenyataannya. 
Sungguh aku tak punya pengalaman sedikitpun dalam hal pengasuhan anak. Namum, ketika semua ini terjadi dihadapanku, bagaimana aku bisa tinggal diam dan tidak peduli? Tentu saja, aku tak bisa mengandalkan ayah dan ibuku yang telah renta. Mau tak mau, aku ikut  sibuk mendidik serta berusaha mencukupi segala kebutuhannya.
Di satu sisi, aku memang sadar kalau semua ini adalah salah satu episode kehidupan yang harus kujalani. Tapi aku hanya manusia biasa, aku ingin mewujudkan impian dan masa depanku sendiri. Bahkan, aku sering mempertanyakan keberadaan orang tuanya, dimana letak tanggung jawab mereka?
Bukankah anak itu masih darah daging mereka, tapi kenapa tidak ada rasa peduli sedikitpun. Sementara itu, aku harus mengorbankan segala-galanya, mulai dari harta, tenaga  serta masa muda demi anak itu. Semua sirna demi suatu hal yang seharusnya tak perlu aku perjuangkan.
Setelah sekian lama aku berjuang, bukanlah titik terang yang aku temui. Melainkan batu cadas yang bukan hanya membuatku terbentur. Bahkan nyaris terpental. Anak itu putus sekolah. Bukan aku tidak kasihan padanya. Dengan penghasilanku yang seadanya, rasanya tak cukup membagi antara kebutuhan hidup serta biaya sekolahnya. Ampunkan aku, Tuhanku...
Biar demikian, aku terus berusaha memompa semangatnya. Meski putus sekolah, kuharap dia tidak minder apalagi sampai putus asa. Sedapat mungkin, aku menekankan padanya agar dia memiliki kemampuan yang lebih daripada orang lain yang bersekolah.
Jaman sekarang, ijazah tak bisa menjamin seseorang untuk maju. Namun keahlian dan kerja keraslah yang bisa membuatnya bertahan. Meski tidak bersekolah, aku tetap mengingatkan kalau budi pekerti yang utama. Aku selalu menyarankan agar dia bisa bersikap santun pada siapa saja. Bukankah prilaku santun tak pernah diajarkan di sekolah ??
Akan tetapi, belakangan ini aku sering termenung sendiri. Apa yang akan terjadi pada diriku ini dua atau tiga tahun mendatang? Bagaimana bila saat itu aku masih tetap sendiri? Ah, semoga saja ketakutanku ini tidak pernah terbukti. Hanya satu hal yang menguatkanku, bahwa tak ada hal yang sia-sia dalam pandangan- NYA. Semoga semua ini menjadi amal shaleh yang akan menolongku di akhirat kelak... Semoga...
Aku sadar, biarpun selama ini dia berada dalam pengasuhanku. Tapi, dia bukan darah dagingku. Sehingga aku tak bisa memaksanya untuk tetap berada di sampingku. Cepat atau lambat, dia pasti akan kembali kepada orang tuanya. Meski semua itu pastinya akan sangat menyakitkan untukku. Sungguh, aku tak pernah meminta apapun darinya. Aku hanya ingin dia menjadi orang baik yang berguna...

Bandung, 12012012

Kamis, 17 Maret 2011

My Birthday

Tanpa terasa, sudah hampir tiga dekade diriku mengembara di dunia ini.. Biarpun jatah usiaku berkurang satu tapi syukur Alhamdulillah Allah masih memberi kesempatan agar aku bisa mempersembahkan karya terbaik, setidaknya kehadiranku masih memiliki arti dan bermanfaat untuk orang-orang disekitarku..

Tadi malam, udah make a wish.. Mmm, apa ya! Aku hanya punya satu tanya untuk Rabbku.. "apa aku bisa menikah tahun ini??
Mungkin orang lain menganggap hal ini adalah pertanyaan bodoh.. tapi berbagai pertimbangan menuntutku untuk menjadikan hal seperti ini menjadi sesuatu yang mendesak..

Belajar dari pengalaman temen2 sebaya yang udah nikah, akhirnya mereka menikah dengan orang yang terakhir dekat dengannya. lalu aku? ketika tahun lalu, hari-hari yang kulalui banyak menuai air mata dan hingga detik ini tak seorang tersisa dalam hatiku, tak terkecuali kelinci kesayanganku harus menghembuskan nafas terakhirnya tanpa aku ketahui..

Saat ini... siapa yang dekat denganku? rasanya tak ada... lalu bagaimana aku bisa berupaya menggenapkan setengah dien, selain hanya mengharap keajaiban dari Sang Pemilik Hidup

Beberapa hari ini suasana hatiku sering terasa tak mementu. Tiba-tiba aku merindukan orang-orang yang pernah menghiasi hari-hariku dimasa lalu, rindu pada seseorang yang selalu pertama bagiku, orang yang pertama kusebut saat memoriku sempat terganggu... Bukan ibu, bukan ayah apalagi teman-temanku. Tak tahukah kau? Ataukah kau sanggup merasakannya disana? karena Engkaulah orang yang akan selalu aku kenali bagaimana pun caranya...

Kenapa dulu bisa tak begitu peduli padamu, meski kau bersikukuh memilihku. Meskipun sebenarnya, perasaanku jauh lebih dalam darimu. Entahlah, aku tetap merasa kalau jalan hidup kita memang berbeda dan tak mungkin bisa disatukan. Meski sesal ini akan terus berlangsung berkepanjangan, menemani sisa usiaku.

Tak ada yang bisa kulakukan dengan keputusanmu. Toh, semua itu telah terjadi, aku bisa apa? Kecewa... tentu saja ada. Namun, yang membuatku paling kecewa adalah kenapa kau sanggup melukai hati ibundamu sendiri, kenapa...?? Apa tak ada pilihan lain untukmu, selain diya??

Entah.. entah kenapa, aku begitu merindukannya menjelang hari Ulang Tahunku kali ini, beberapa siluet kenangan masa lalu bersamanya bermunculan satu persatu, sepertinya apa yang telah kulalui selama ini bisa diringkas dalam sebuah video yang berdurasi beberapa menit saja.

Ya Rabb, kenapa bisa-bisanya aku merindukan dia setelah belasan tahun aku tak pernah lagi mengingatnya.. aku harap dia baik-baik saja... semoga...

Kamis, 13 Januari 2011

Mixed

Untuk sebuah hati

Yang tidak bisa dibohongi

Apakah ini mimpi

Ataukah hanya ilusi

Suatu waktu, seorang kenalan mengatakan kalau rahasia seorang gadis, pasti tertulis dalam buku hariannya. Aku terkekeh, karena memang sependapat dengannya.

Tapi… tentu saja, aku takkan sama dengan mereka. Kalau kau mau, kau bongkar saja isi kamarku. Apakah pernah kau temukan surat-surat ataupun puisi cinta? Pasti kau takkan pernah menemukannya, selain lembaran rupiah yang lupa kuselipkan di salah satu sudutnya.

Tahukah kau? ketika tiba-tiba saja kita temukan salah satu lembarannya, rasanya seperti baru menemukan harta karun. Apalagi kalau kita sedang benar-benar membutuhkannya. Luar biasa membahagiakan..

Sejujurnya, aku pun sama seperti mereka. Aku punya perasaan, aku bisa jatuh cinta, bahkan terkadang aku pun bisa kecewa dan terluka. Aku juga tetap mencurahkan semua perasaanku melalui kertas saat aku merasa bahagia ataupun bersedih. Hanya saja, aku akan membuangnya, saat hatiku mulai membaik.

Dan hingga saat ini, ada sesuatu yang masih mengendap dalam hatiku. Bila itu sebuah rahasia, aku tak pernah tahu, bagaimana mengungkapnya. Bila itu sebuah masalah, aku tak pernah tahu bagaimana menyelesaikannya. Apa perlu aku ceritakan padamu, agar hati ini menjadi lebih lega. Tapi ingat! jangan bilang siapa-siapa, hanya kau saja yang kuberitahu.

Sekitar empat tahun lalu, aku mengenal seseorang. Sejak pertama kali mengenalnya, aku tak pernah menyukainya. Jelasnya, aku tak pernah menyukai segala hal yang berkaitan dengannya, mulai dari kesukaannya penampilannya hingga kehidupannya. Entahlah, apa alasannya.

Segala hal yang menjadi kesukaannya, akan menjadi hal yang aku benci. Apapun yang menghiasi penampilannya membuatku merasa tak nyaman melihatnya. Begitu pula dengan kehidupannya, dia lebih dikenal sebagai sosok yang ramah, hangat dan bersahabat. Tapi dimataku, dia adalah sosok yang dingin dan kaku.

Biarpun kami sudah lama saling mengenal, tapi kami tak pernah bertegur sapa sedikitpun. Jadi, bagaimana dia bisa peduli dengan orang sederhana sepertiku? Pokoknya dia itu lebih mirip menjadi tokoh antagonis dalam hidupku.

Anehnya, segala hal yang tak kuinginkan malah berkeliaran bebas dalam hatiku. Sungguh, aku tak ingin membiarkan nama itu muncul apalagi tumbuh subur dalam hatiku. Semakin dalam rasa benciku padanya, makin keras usahaku untuk membunuhnya, Namun namanya tetap bersemayam dalam hatiku. Padahal, aku tak pernah menginginkannya, sungguh.

Empat tahun lalu, aku pernah berkata “Andai dia untukku. Aku tak perduli, bila saat ini dia mencintai siapa ataupun bersama siapa. Karena dia pasti akan kembali kesisiku, cepat atau lambat”

Oh, apakah dia orangnya, yang akan menemani perjuangan di sisa hidupku? Seandainya boleh memilih, aku ingin memilih orang lain selain dia tapi bila tidak, aku harus ikhlas menerimanya.

Akhir'a aku tahu, kalau dia bukan orang yang terbaik untukku, hingga detik ini dia telah melabuhkan hatinya pada orang lain yang mencintainya..

Tanpa mengingatnya lagi.. tanpa menyebut namanya lagi.. Semoga kisah ini, akan berakhir sampai disini,..

8 Maret 2011