Tampilkan postingan dengan label Cerita Sahabat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerita Sahabat. Tampilkan semua postingan

Jumat, 20 Februari 2015

Demi Sebuah Balas Budi

      Dulu, aku tidak pernah mengerti. Kenapa kau lebih memilih balas budi daripada masa depanmu sendiri. Kini barulah aku pahami, kalau balas budi itu tidak bisa digantikan oleh apapun. Bebannya bisa dibawa hingga mati.
      Beberapa tahun yang lalu, kuliah menjadi cita-cita yang harus aku kubur dalam-dalam. Tapi saat ini, kuliah menjadi aktifitas rutin yang enggan kujalani. Kenapa? Karena semua ini demi balas budi. Demi seorang sahabat yang kebaikannya sudah tak bisa kuhitung dengan jari, yang kebaikannya tak bisa kusebutkan dengan kata-kata.
      Ketika dia memberi tawaran untuk kuliah, aku malah bingung harus menjawab apa. Bukannya aku tidak ingin kuliah, tapi masalahnya kondisi saat ini telah berbeda. Ketika Ibu tiada, maka hidupku juga berubah drastis, mau tak mau.
      Kini, aku harus berperan sebagai Ibu Rumah Tangga yang harus memastikan kondisi rumah baik-baik saja. Mulai dari kebersihan, kenyamanan hingga makanan. Yup, sekarang aku harus menyiapkan makanan untuk orang seisi rumah. Bisa tidak bisa, aku harus turun ke dapur untuk memasak untuk mereka. Dengan memperhitungkan, kalau memasak itu bisa lebih irit dan jauh lebih hygenis, tentunya. Padahal biasanya, aku menyerahkan urusan masak memasak pada Ibu. Karena Ibuku paling pintar memasak, masakannya selalu enak. Paling, aku hanya membantunya sedikit. 
      Di sisi lain, aku juga harus tetap menjalankan tugasku sebagai freelancer, yakni admin di salah satu sekolah online milik seorang penulis terkenal di Indonesia. Biarpun penghasilannya tidak seberapa, tapi aku tetap senang menjalaninya. Karena jadwalnya bisa disesuaikan dengan kesibukan dan padatnya jadwal perkuliahan di kampusku
     Terakhir, kuliahku.. Kampus memang kecil dan terhimpit, meski berada di tengah kota. Tapi kalau urusan tugas dan perkulian, jangan pernah ditanya. Kualitas lulusan kampus kami tidak bisa disepelekan, kami sanggup bersaing dengan para lulusan Universitas ternama.
     Akan tetapi dengan kesibukanku sekarang, aku mulai miris. Rasanya sulit sekali untuk mengejar nilai maksimal seperti teman-temanku yang lain. Terlalu banyak hal yang kupikirkan, terlalu banyak hal yang berseliweran di kepala ini yang ingin kuselesaikan satu-persatu.
     Terkadang, aku merasa tak sanggup dan ingin mengakhirinya sampai di sini. Apakah harus kukubur dalam-dalam saja semua mimpi ini? Toh, sudah aku alami seperti apa rasanya kuliah itu. Aku janji tidak akan menuntut atau beralasan dan tentunya tidak akan merasa penasaran lagi.
     Tapi... jika aku menyerah begitu saja. Apa aku masih sanggup menemuinya dan mengemukakan alasanku. Apa aku tidak malu dengan semua kebaikannya? Rasanya sangat sulit kubayangkan, sungguh aku lebih merasa tidak sanggup lagi bila harus mengecewakan dirinya. Mungkin, aku harus bisa tetap bertahan semampuku. Semua ini, demi balas budi...



Bandung, Februari 2015   


Sebuah Protes Untuk Tuhan



Sebuah protes untuk Tuhan, rasanya kalimat itu pernah kubaca dalam blog seorang teman.
Tapi entah kenapa, aku ingin menuliskannya sekarang. Dengan versi yang berbeda tentunya.
Mungkin semua ini berawal dari kekecewaanku terhadap orang-orang di sekelilingku.

Hya benar, mereka selalu menanyakan hal yang sama. Kapan aku punya seorang kekasih? Kapan aku akan segera menikah. Memangnya, tak ada hal lain yang lebih penting yang bisa mereka tanyakan selain kabar pernikahanku? Lalu keluargaku? Rasanya tak ada bedanya dengan mereka.

Kakakku yang satu, selalu sibuk dengan urusannya sendiri, acuh tak acuh dan selalu kurang respect dengan kondisi adiknya yang tinggal satu-satunya ini. Sedangkan yang lainnya, sama saja. Dia selalu sibuk mencarikan jodoh untukku. Tanpa menayakan pendapatku terlebih dahulu. Aah, itu sangat menyebalkan.  Kenapa dia dan suaminya begitu kompak, berusaha agar aku bisa segera menikah?

It's all okay. Tapi, apa mereka pernah berpikir sedikit saja tentang anaknya yang berada di sini. Seorang anak yang telah mereka telantarkan selama bertahun-tahun lamanya. Anak yang lebih memilih tinggal bersama kakek dan tantenya daripada dengan orang tuanya sendiri. Pernahkah mereka berpikir, bagaimana nasib anak mereka kelak?

Apapun keadaannya, anak itu masih menjadi darah daging mereka dan menjadi tanggung jawab mereka sepenuhnya. Lalu aku bisa apa? Tanganku hanya dua. Sungguh, aku tidak sanggup bila harus menyelesaikan semua beban ini sendiri. Aku tak sanggup menjadisingle parent untuknya. Kalian tahu sendiri, aktifitasku selama ini sudah cukup menguras waktu dan tenagaku. Lalu ditambah dengan
anak itu, apa pantas kalau aku masih berpikir akan pernikahanku, kebahagiaanku?

Kini sepeninggal Ibu, bukanlah kabar gembira yang aku dapatkan. Akan tetapi, kabar yang membuatku terpaku dan tergugu. Awal tahun ini, mereka memiliki bayi lagi. Jujur saja, kebahagian mereka membuatku kecewa. Meski sebenarnya, bayi tersebut tidak berdosa tetap saja. 
Lalu sekarang, nasib anak mereka di sini, bagaimana?
Yaa Tuhaan, benarkah hal ini sudah menjadi ketentuan-Mu?

Satu waktu, salah seorang tetanggaku berkata, "Kamu ini, harusnya menikah bukan kuliah,"
Aku hanya bisa tersenyum getir mendengarnya. Yaa, siapa orangnya yang tidak ingin menikah? Aku juga ingin membangun keluargasendiri seutuhnya, seperti mereka. Aku ingin menggenapkan setengah dien, aku ingin mengubah dosa menjadi pahala. Tapi yang ada, mereka hanya melukai perasaankudan meninggalkanku begitu saja. 
Lalu sekarang, aku harus mencari suami kemana? Hanya satu orang, diantara ratusan ribu orang
yang hidup di dunia ini. Tapi kenapa begitu sulitnya bagiku. Rasanya lebih sulit daripada mencari sebongkah berlian.

Yaa Allah, sampai manakah batas kesabaranku?
Yaa Allah, sampai titik manakah aku harus tetap bertahan?
Yaa Allah, kapankah Engkau akan mengirimkan pendamping hidup untukku?
Yaa Allah, kapankah Engkau akan menurunkan keajaiban-Mu untukku?
Yaa Allah, kapankah Engkau akan mengabulkan semua doa-doaku selama ini?
Yaa Allah... Ya Allah... Ya Allah...

Sabtu, 28 Juli 2012

Ketulusan, Harta Berharga

Aku masih ingat betul, saat itu. Kau sudah menghubungiku, pagi-pagi sekali. Kau bilang, ada hal penting yang ingin dibicarakan. Kau juga memintaku untuk bertemu di tempat biasa. Aku heran, tak biasanya nada bicaramu seserius itu.
Aku sudah mencoba mencari tahu alasannya, tapi kau masih tetap merahasiakannya. Meski demikian, aku tetap menuruti permintaanmu. Ah, kau membuatku semakin penasaran!
Entah sudah berapa lama aku menunggumu di tempat ini. Pagi pun sudah beranjak menuju siang, tapi sosokmu masih belum kelihatan. Biar begitu, aku akan tetap menunggumu hingga kau datang. Aku mulai gelisah. Ada apa sebenarnya?
Ketika hari menjelang sore, kau baru datang. Biar begitu, kau malah sibuk menyapa sana-sini. Sepertinya, kehadiranku tidak kau hiraukan. Aku menghela nafas. Kesal.
Tak lama berselang, adzan Ashar berkumandang. Aku segera bangkit dan bergegas menuju ke mesjid terdekat.
“Jangan pergi dulu! Urusan kita belum selesai!” cegatmu.
“Aku cuma mau shalat dulu,”
“Oh syukurlah, kukira kau mau pergi ke mana?”
“Kalau begitu, kita bertemu lagi nanti.” katamu lagi.
Usai shalat, aku menunggumu di selasar tapi sosokmu kembali menghilang. Padahal  kaki ini pun sudah mulai terasa pegal dan kesemutan. Rasa penasaran makin memenuhi hati dan pikiranku. Ah, kemana lagi dirimu?
Lambat laun, kau baru muncul. Itu pun masih tetap melanjutkan sapaanmu. Aku mulai heran. Selama aku mengenalmu, tak biasanya dirimu bertindak aneh seperti ini. Hingga akhirnya, aku sengaja bersembunyi di balik tiang. Dengan harapan, kau akan mencariku.
Benar saja. Ketika bayanganku sudah tidak kelihatan, kau baru menyadarinya. Tak lama berselang, kau sudah menghampiriku dan duduk disampingku. Keadaan mesjid yang tadinya ramai, kini mulai berangsur sepi.
“Ada apa?” tanyaku.
“Tunggu sebentar!” ucapmu sambil menunduk.
Kami berdua sama-sama diam, dengan pandangan kosong.
Tanpa kami sadari, keadaan mesjid sudah benar-benar sepi. Saat itulah, kau mulai mengangkat wajah dan membuka rahasiamu.
“Kapan kau akan kembali ke kota hujan?” tanyamu.
Aku menggeleng, “Aku tak akan kembali ke sana. Pekerjaanku sudah selesai.”
Kau menunduk lesu
“Memangnya kenapa?”
“Aku akan pergi mengembara ke kota hujan."
“Tapi, kenapa harus ke kota hujan?”
“Yaa, karena kesempatan pertamaku hadir di kota hujan. Mana mungkin aku membiarkannya begitu saja. Lagipula, kupikir kau masih mengembara di sana. Sehingga kita bisa tetap bersama-sama lagi nanti,” jelasmu panjang lebar.
Kini, giliranku yang menunduk sedih, ”Lalu, aku bagaimana?”
Kau menarik nafas berat,
“Sudah kuduga.” ucapmu lirih.
Aku tergugu. Tahukah kau? Kota hujan telah menyimpan sejuta kenangan untukku. Sebuah kerinduan tersendiri yang tak pernah bisa kuungkapkan.
****

Teman, kita tak pernah tahu rencana Allah untuk kita. Waktu kecil, aku selalu berkhayal bisa melihat kabut di kota hujan. Ah, siapa yang bisa menyangka kalau impianku saat itu bisa menjadi kenyataan.
Untuk sebuah urusan, aku terdampar di kota hujan. Kabar kepergianku yang begitu mendadak, tentu membuatmu terhenyak. Tapi, kapan lagi aku bisa melihat kabut? Bukankah kesempatan itu tak pernah hadir dua kali?
Sebenarnya, aku juga merasa berat meninggalkanmu. Tapi kurasa, masa depanku bergantung pada keputusanku saat ini. Kini mimpiku benar-benar menjadi kenyataan. Menjumpai kabut, telah menjadi pemandangan sehari-hari.
Kau tahu, ternyata kabut itu biasa saja, tak begitu istimewa seperti dugaanku. Justru, ada hal lain yang aku rindukan selain kabut. Aku lebih merindukan dirimu daripada kabut. Kabut itu dingin, tak sehangat dirimu. Kabut itu pendiam, hingga sulit bagiku untuk mengajaknya bercanda.
Apa kau merindukanku? Aku juga. Di sini, aku merindukanmu setiap waktu. Hanya sekedar sms ataupun telepon, rasanya tak cukup untuk mengusir kerinduanku padamu. Ah, aku jadi ingin pulang. Aku sudah tak sabar untuk menunggu hingga semua urusan ini tuntas
Maka ketika perjalanan ini harus kuakhiri, ada perasaan lega menyelinap disanubari. Ingin rasanya, kujumpai dirimu dan duduk disampingmu, seperti dulu. Menikmati rintik gerimis, di tempat biasa. Tapi ternyata, kau sudah tak ada di sana.
Mereka bilang, kau pergi mengembara ke kota hujan. Ah, kenapa harus ke kota hujan segala? Atau jangan-jangan, kau berniat menyusulku ke sana. Benar begitu?
Tak bisakah kau pilih kota lain saja yang lebih menjanjikan? Bukankah, aku baru saja meninggalkannya dengan susah payah. Jangan biarkan aku kembali merindukan dirimu serta kabut di kota hujan.
Ingin rasanya, aku membatalkan semua rencanamu. Tapi, sungguh egois rasanya, bila aku tetap menahanmu di sini. Aku tahu pasti impianmu selama ini. Sesedih apapun, aku akan tetap mendukung keputusanmu.
Sebenarnya, sudah berulang kali kita hidup berjauhan. Aku merasa sedih, setiap kali kau pergi meninggalkanku. Tapi, kali ini terasa ada yang beda. Rasanya, kau akan benar-benar pergi meninggalkanku. Entahlah, kenapa tiba-tiba saja aku merasa begitu.
****

Sesedih apapun diri ini, tapi waktu yang telah berlalu tak akan pernah bisa kembali. Tanpa dirimu, aku merasa kehilangan pijakan. Mungkin, aku terbiasa menyimpan namamu di hati dan pikiranku.
Satu bulan, dua bulan hingga setahun pertama, aku lalui dengan kerinduan. Aku selalu berharap agar kau bisa cepat kembali. Aku baru menyadari betapa berartinya dirimu, bagiku. Jika kau pulang nanti, aku bertekad tak akan membiarkanmu pergi lagi dari sisiku.
Sayangnya, semua harapan itu harus kukubur dalam-dalam. Belum juga genap dua tahun penantian ini. Kau telah memilih orang lain, sebagai permaisuri hatimu. Keputusanmu yang begitu mendadak, benar-benar melukai perasaanku.
Aku sadar, kalau diri ini tak bisa terus mendampingimu di kota hujan. Tapi, apa kau lupa? aku juga manusia yang bisa luka dan kecewa. Sungguh, aku butuh waktu untuk menerima kenyataan, kalau kebersamaan kita telah berakhir.
Kini, kau takkan pernah ada di sampingku lagi. Kau takkan pernah membuatku tersenyum ceria lagi. Dan kau takkan pernah bisa hadir saat aku membutuhkanmu lagi. Kali ini, telah ada orang lain yang menggantikan tempatku di sampingmu.
Orang yang lebih berhak menyayangi dan merindukanmu daripada aku. Sedangkan aku, hanya untuk mengingatmu saja sudah terlarang untukku. Lalu, apa yang seharusnya aku lakukan?
Melangkah mundur dan mencoba menghapus jejak langkahku, kalau perlu. Ataukah tetap bertahan di sini? Jujur kuakui, aku tak mampu berpikir apapun saat ini. Aku tak sanggup memilih diantara keduanya.
Bagaimana pun, kau bukanlah sekedar seorang kekasih bagiku. Kaulah yang telah mengajariku, apa itu kesederhanaan. Kau pula yang selalu mendukungku untuk tetap menjadi diri sendiri, tanpa harus meniru gaya orang lain.
Namun bukanlah dirimu, bila tidak sanggup menyelami perasaanku. Sejauh apapun aku melangkah, sepertinya kau selalu dapat menemukanku. Sedalam apapun aku mengubur perasaan ini, kau pasti sanggup menggalinya.
Seperti diriku yang tak sanggup kehilanganmu, kau pasti merasakan hal yang tak jauh berbeda. Hingga satu waktu, kau mengirimku sebuah sms seperti ini.
“Seberapa lama kau mengenalku. Aku takkan berubah, hanya karena statusku yang berubah.”
Tanpa terasa, ada titik bening yang mulai membasahi pipiku. Aku sungguh terharu membacanya. Meski sudah lama berlalu, aku masih sengaja menyimpannya. Mungkin, nuraniku memang tak bisa dibohongi.
 Aku seperti tersadarkan, bahwa perkenalan kita bukan hanya seumur jagung. Kita telah lama saling mengenal. Bahkan mungkin, kau lebih memahami aku daripada diriku sendiri. Ah, kenapa kepercayaanku cepat tergoyahkan hanya karena emosi sesaat?
Selama ini, kesetiaan dan ketulusanmu sudah jelas terbukti. Semua itu, jauh lebih berharga dari semua kekayaan yang ada di dunia. Dan, tak akan pernah bisa tergantikan oleh apapun. Mana mungkin, aku bisa melupakanmu begitu saja?
Hingga akhirnya, kita berdua sepakat. Untuk tetap meretas persaudaraan, dengan jalan hidup masing-masing. Hidupku juga harus terus berjalan, dengan atau tanpa dirimu. Meski akan terasa sulit untuk mencari pengganti dirimu, tapi aku akan tetap berusaha.
****

Kata orang, janji itu adalah utang. 
Janji diantara aku, kamu dan DIA. Biarlah hanya kita bertiga saja yang tahu, tak perlu melibatkan orang lain. Biarpun akan selalu menjadi mimpi buruk yang melukai perasaan. Tapi janji tetaplah janji, sebuah utang yang harus dipenuhi.
Mengantarkanmu pada bidadari hati adalah janji terberat yang harus aku penuhi. Sungguh di luar dugaan, aku mampu melampauinya. Meski awalnya terasa berat tapi setelah aku jalani, ada kelegaan tersendiri. Mungkin inilah saatnya, ketulusanku tengah diuji.
Waktu terus berlalu tanpa terasa. Kini, usia pernikahanmu sudah menginjak hitungan tahun. Bahkan kini, si kecil telah hadir untuk melengkapi kebahagian kalian. Sementara aku, masih tetap seperti ini, sama seperti dulu.
Meski demikian, aku tak pernah memintamu untuk memenuhi janjimu itu. Biarkanlah semua berlalu apa adanya. Tapi ternyata, kau benar-benar ingin membuktikannya. Selama ini, kau berusaha mencarikan orang yang tepat untukku.
Orang yang bisa kau andalkan untuk menjaga dan melindungiku selamanya. Hingga kau akan merasa tenang, telah meninggalkanku. Kau pasti ingin mengembalikan senyumanku yang telah lama hilang, bukan?
Sungguh, aku sangat berterima kasih padamu. Kuharap, semua usahamu tidak sia-sia. Sekalipun gagal, aku tak akan pernah menyalahkanmu. Hanya satu hal yang perlu kau ingat. Bahwa sebaik apapun orang yang kau pilih itu, takkan pernah bisa menggantikan dirimu di hatiku.
Seperti yang pernah kau katakan sebelumnya, bahwa semua telah selesai, tak perlu kita sesalkan. Biar Allah yang mengatur kehidupanku selanjutnya. Biar Allah yang menentukan pilihan terbaik untukku.
Biarkan semua ketulusan ini menjadi harta berharga bagi kita. Biarkan semua berlalu apa adanya dan tetap menjadi rahasia di hati kita, selamanya.
****


Jalan Braga, April 2012

Benar-benar Tulus, ataukah Hanya Terpaksa?

“Jika kau ingin mengakhirinya, kamu harus tegas dari sekarang. Lebih baik ada pihak yang dikorbankan daripada kau yang terus berkorban selamanya.” 
 Itulah saran dari sahabatku, enam tahun lalu. Meski demikian, aku masih belum bisa mengambil keputusan. Sungguh, aku masih bingung untuk memilih antara ibu dan keponakan atau mengejar mimpiku sendiri.
Orang bilang, orang tua itu lebih sayang kepada cucu daripada anaknya sendiri. Jujur kuakui, bahwa semua itu ada benarnya. Bagi orang yang telah menikah, mungkin tak masalah. Tapi bagi orang yang masih single dan tinggal seatap dengan orang tua seperti aku, bisa menjadi dilema tersendiri. 
Ibuku sangat menyayangi cucu pertamanya. Semenjak bayi, dia memang tinggal bersama kami. Hal apapun akan dia lakukan hanya demi menyenangkan anak itu. Sekalipun harus menyusahkan dirinya sendiri ataupun mengorbankan perasaan orang lain seperti aku.
Sungguh, aku tidak pernah habis pikir. Sebenarnya apa yang ada dalam kepala ibu. Apa dia tidak pernah berpikir bagaimana perasaanku. Aku juga masih anaknya, aku juga masih punya hak yang sama. Tapi kenapa dia masih memberikan perlakuan yang berbeda terhadapku? Itulah yang membuatku kecewa.
Kau tahu ibu, kalau sebenarnya semua limpahan kasih sayangmu yang berlebih itu tidak mendidik baginya. Kini dia tumbuh menjadi pribadi yang manja. Padahal kita berdua tak akan selalu menemaninya, bukan?
Aku tahu, anak itu memang tak pernah merasakan kasih sayang orang tuanya yang tinggal di luar kota. Aku juga tahu, mereka tak pernah memberikan biaya untuk anaknya sendiri. Tapi bukan begini cara mendidiknya, bu!
Aku memang seorang perempuan dan belum menikah. Namun, aku bisa merasakan bagaimana beratnya perjuangan seorang ibu. Kalau boleh jujur, aku tidak ingin berada dalam posisi ini. Membesarkan seorang anak laki-laki, tanpa sedikitpun pengalaman yang dimiliki. Tapi mau bagaimana lagi, semua ini terjadi dihadapanku.
Sementara kondisi Ayah dan Ibuku saat ini  telah renta. Mana mungkin aku hanya diam dan tidak peduli? Mau tak mau, aku harus ikut menanggung semua beban ini. Berusaha mencukupi segala kebutuhan hidupnya.
Mengorbankan begitu banyak hal demi dirinya. Termasuk menghadirkan pendidikan yang baik untuknya. Meski imbasnya, aku harus menepis segala mimpi yang pernah hadir dalam benak ini.
****

Tanpa terasa, sudah hampir belas tahun, aku menjalani semua ini. Lima belas tahun, bukanlah waktu yang sebentar. Selama itu pula, aku harus mengecek kembali perasaanku yang sebenarnya. Benar-benar tulus, ataukah hanya terpaksa?
Selama itu pula, bukanlah titik terang yang aku temui. Melainkan batu cadas yang membuatku terbentur, bahkan nyaris terpental. Anak itu putus sekolah. Bukan aku tidak kasihan padanya.
Akan tetapi, dengan penghasilanku yang seadanya. Sungguh, aku tak sanggup untuk membagi antara kebutuhan hidup serta biaya sekolahnya. Aku memang tak pernah meminta apapun darinya. Aku hanya ingin dia menjadi orang baik yang berguna.
Terkadang, aku mempertanyakan keberadaan orang tuanya, dimana letak tanggung jawab mereka selama ini? Biarpun begitu, dia tetap saja merindukan kehadiran orang tuanya.
Yaa namanya juga, anak-anak. Dia tak pernah mengerti, siapa yang salah dan siapa yang harus dipersalahkan. Aku sangat sedih, jika mengingat hal itu. Rasanya, perjuanganku selama ini tidak ada artinya sama sekali.
Aku sadar, dia bukanlah anakku. Aku tak bisa memaksanya untuk tetap berada di sampingku. Cepat atau lambat, dia pasti akan kembali pada orang tuanya. Andai tiba masanya nanti, pasti akan sangat menyakitkan bagiku.
Ketika pikiran egois itu hadir sesaat, ingin rasanya aku pergi meninggalkan mereka. Ingin rasanya, aku tak perduli lagi dengan segala hal yang berkaitan dengan anak itu. Tapi, kalau aku pergi. Lalu, bagaimana dengan ibu?
Siapa yang akan menggantikan tugasnya, mengerjakan semua pekerjaan di rumah ini? Sementara kondisi tubuhnya, sudah tak sehat lagi. Sungguh, aku tak tega untuk meninggalkannya.
****

Kau tahu, aku ingin menangis saat ini. Benar-benar ingin menangis. Bukan lantaran sedang merindukanmu. Tapi karena aku merasa sedih dengan hidup yang kujalani ini. Terkadang, aku berpikir sampai kapan akan terus terjebak di dalam lingkaran seperti ini?
Biarpun aku sadar betul, kalau semua ini adalah kenyataan hidup yang harus kuhadapi. Tapi, aku hanya manusia biasa, aku juga ingin mewujudkan impian dan masa depanku sendiri.
 Oh, dimanakah orang yang benar-benar tulus menerima dan menyayangiku. Orang yang bisa menjadi tempat sandaran saat aku lelah, orang yang bisa menghiburku saat aku sedih, orang yang pertama aku ingat bila aku sedang bahagia. 
Meski aku tak pernah tahu, kapan tiba saatnya. Namun, aku tak akan pernah berhenti berharap dan menunggu orang itu datang menjemputku. Entahlah, siapa dirinya. Yang jelas, orang itu bukanlah dirimu.
Saat ini, kau telah memiliki labuhan hati yang lain. Sudah saatnya, aku melupakanmu dan menghapus jejak langkahmu. Tapi kau bukan hanya sekedar seorang kekasih. Kaulah orang yang paling aku percaya selama ini.
Ketika aku bilang tidak apa-apa saat kau pergi meninggalkanku. Sungguh, aku  hanya berpura-pura mengatakannya agar kau merasa tenang dan tidak menghawatirkan aku. Ternyata, hidupku terasa berantakan setelahnya.
Di saat hatiku sedang sedih dan terluka seperti ini, tak ada lagi orang yang menghiburku. Kini, tak ada tempat lain yang bisa aku datangi. Sungguh, aku benar-benar membutuhkanmu saat ini.
Andai hidup ini boleh memilih, tentu aku akan memilihmu untuk menemaniku hingga ujung usia. Tapi ternyata, pilihanku salah. Kemana lagi, aku harus mencari pengganti dirimu? Sementara aku, bukanlah orang yang pandai mengejar seseorang.
Aku juga tak pandai membuat seseorang jatuh hati padaku. Aku tak cantik, juga tak berharta. Aku tak memiliki kelebihan apa-apa. Apalagi keahlian seperti mereka.Sungguh, aku tak punya hal yang bisa aku banggakan. Lalu, aku bisa apa? Sementara segala daya upaya telah aku coba. Kencan buta, pernah. Dikenalkan orang sering malah. Tapi semua tak pernah ada yang bertahan lama.
Aku jadi curiga, apa mungkin ada yang salah dengan diriku ini? Mungkin aku pernah melukai perasaan seseorang, tanpa sadar? Atau mungkin, aku terkena hukuman karma, akibat perbuatanku di masa lalu? Tapi setahuku, agamaku mengajarkan kami agar tidak berburuk sangka pada siapapun.
Belakangan ini, beberapa pikiran buruk memang seringkali menghantuiku. Mungkin, gara-gara aku sering termenung sendiri. Kira-kira, apa yang akan terjadi pada diriku ini dua atau tiga tahun mendatang? Bagaimana bila saat itu aku masih tetap sendiri?
Ah, semoga saja ketakutanku ini tidak pernah terbukti.
***


Bandung, Penghujung Juni 2012

Senin, 09 April 2012

Biarkan Apa Adanya

“Seberapa lama kau mengenalku. Aku takkan berubah, hanya karena statusku yang berubah.”

Hingga kini, pesan singkat itu masih sengaja kusimpan di inbox ponselku. Meski sudah bertahun-tahun berlalu, aku masih terharu jika tak sengaja membacanya. Ah semoga kau benar-benar tulus mengatakannya. Bukan lantaran tak ingin membuatku terluka.
Sejak dulu, kau memang tak pernah tahan melihatku bersedih. Kau selalu berusaha  untuk membuatku tersenyum kembali. Tapi tidak untuk kali ini, keputusanmu yang begitu mendadak, tetap saja membuatku bersedih.
Kau tau, kau adalah orang yang paling berarti dalam hidupku. Aku juga tahu, kau akan pergi meninggalkanku cepat atau lambat. Tapi sungguh, aku tak pernah menyangka kau akan pergi secepat ini. Salahkah aku, bila tak  mampu membendung air mata yang telah jatuh lebih dulu?
Jangan pergi, tetap tinggallah di sini bersamaku!
Ingin rasanya aku mengatakannya saat itu, sayang lidah ini terasa kelu. Tak ada sedikitpun alasan untuk menahanmu di sini. Aku tahu betul, seperti apa impianmu selama ini. Aku akan selalu mendukung apapun keputusanmu, meski harus melukai perasaanku.
Sekalipun engkau akan memilih orang lain selain diriku. Itu adalah konsekuensi yang harus aku terima dalam kebersamaan kita. Siapa sangka, kalau hal ini akan menjadi kenyataan. Sungguh aku tidak mampu berpikir apapun. Lambat laun, tangisku pecah juga.
Bagiku, kau jauh lebih berharga daripada kekasihku. Selama ini, ketulusanmu sudah jelas terbukti. Ketulusanmu, tak akan pernah bisa tergantikan oleh apapun. Kurasa, semua telah berakhir sampai disini. 
Kini, telah ada orang lain yang menggantikan tempatku di sisimu. Orang yang lebih berhak menyayangi dan merindukanmu daripada aku. Tapi kau adalah kau, dengan semua keunikan yang ada dalam dirimu.
Jujur kuakui, kalau aku memang sengaja menghindar di awal usia pernikahanmu. Alasannya? Karena aku tak ingin menjadi pihak ketiga diantara kalian. Tapi, kau tak ingin kehilanganku begitu saja, bukan?
Hingga akhirnya, kau mengirimiku sebuah pesan singkat seperti itu. Kau juga pasti tak ingin, ukhuwah yang telah susah payah kita retas bersama bisa hancur seketika. Hanya karena keegoan yang hadir sesaat.
Kurasa, itulah pilihan terbaik untuk kita. Tetap meretas tali ukhuwah, dengan jalan hidup kita masing-masing. Bagaimana pun, nurani takkan pernah bisa dibohogi. Allah Maha Tahu, apa yang tampak dan tersembunyi.
****

Hari ini. Masih di sudut yang sama, aku masih menanti orang yang sama. Lama sudah,  aku menunggumu. Kaki ini pun, sudah terasa pegal dan kesemutan. Meski demikian, aku takkan beranjak pulang hingga kau datang.
Rasanya, baru kemarin kau pamit. Tapi ternyata, sudah hampir tiga tahun kau pergi. Kau memang tak pernah berjanji untuk kembali. Karena aku, tak pernah memintamu untuk mengatakannya.
Meski sudah lama berlalu, kejadian tersebut masih tetap terbayang di pelupuk mata. Sore itu, usai gerhana matahari, kita duduk bersama merangkai cita-cita. Kau tahu, sebenarnya aku berharap ada kalimat lain akan meluncur dari mulutmu.
Sayangnya tidak. Kupikir, kau memang lebih bijak menyikapi hal seperti ini daripada aku. Tapi rupanya, kebenaran harus tetap terungkap. Setelah sekian lama terpendam, akhirnya aku baru tahu kalau sebenarnya kau juga mengharapkan hal yang sama.
Sungguh, aku tak pernah mengiranya sama sekali. Aku ragu kalau semua ini hanya anganku saja. Aku terlalu takut untuk kehilanganmu. Aku khawatir, suasana nyaman ini akan berubah menjadi kacau
Mungkin selama ini, aku terlalu polos untuk menyadari semua gesture yang ada. Aku baru sadar betapa berartinya dirimu, saat kau sudah tak ada di sisi. Sudahlah tak perlu kita sesalkan lagi, semua telah berakhir. Biarkan semua ketulusan ini menjadi harta berharga bagi kita. Biarkan semua berlalu apa adanya dan tetap menjadi rahasia di hati kita, selamanya.
****
Jalan Braga, April 2012

Rabu, 10 November 2010

The Koster part 1

Ketika putaran waktu terus merambat semakin jauh. Terkadang, kita tak pernah sadar apa yang telah kita lakukan dalam hidup ini. Padahal dalam setiap jejaknya akan terus berpacu dengan waktu.Demikian pula dengan episode kehidupan yang baru saja aku jalani saat ini.

Tanpa terasa, sudah hampir tiga perempat tahun, aku belajar hidup jauh dari orang tua. Ibarat bayi merah yang baru mengenal dunia, aku juga baru mengenal betapa kerasnya kehidupan diluar sana.

Sebuah keputusan berat yang tak pernah aku rencanakan sebelumnya. Apalagi sampai membayangkannya. Tapi… inilah kenyataannya. Aku harus hidup jauh dari orang-orang yang aku sayangi.

Kalau boleh memilih, aku ingin tetap berada di rumah, Menemani mereka hingga ujung usianya. Tak tega rasanya, membiarkan tubuhnya yang telah renta bersimbah peluh. Tapi, apa mau dikata bila tak seorang pun, yang mengharapkan aku kembali.

Sungguh, aku tidak pernah memiliki pilihan lain. Yang tersisa hanyalah segudang tanya memenuhi kepala, tanpa ada satupun penjelasan yang dapat aku pahami. Kenapa dia lebih memilihnya daripada aku? Kenapa dia lebih rela menyiksa dirinya sendiri hanya demi kebahagiaannya?

Padahal, aku perjuangkan segala hal hanya untuk membuatnya bahagia. Apakah dia tak pernah sadar, kalau semua itu sangat melukai perasaanku. Aku hanya ingin mendapatkan hakku kembali yang sering dia lupakan. Disini, aku hidup seorang diri, mencoba bertahan dalam segala keterbatasan, berusaha untuk tegar biarpun tetap rapuh.

Tak ada yang bisa kujadikan sandaran kecuali Allah. DIA lah yang telah menciptakanku, DIA pula yang telah mengatur kehidupanku. Aku yakin, DIA takkan pernah membuatku terlunta. Karena DIA tak pernah tidur seperti kita. Tapi… aku hanya manusia biasa. Dimana dalam satu titik jenuh, perasaan kecewa itu akan berbalik menjadi rindu. Ah, seandainya…, kalau saja…, tentu takkan begini

Entahlah, kenapa banyak butir-butir keluh yang menggenang di hatiku! Bukan mendidikku untuk lebih bersikap bijaksana, Astagfirullah…

Istana Abu, 10 Nopember 2010