Tampilkan postingan dengan label My journey. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label My journey. Tampilkan semua postingan

Jumat, 10 Agustus 2012

Tak Lebih Tahu

Awalnya, aku merasa cukup beruntung menjalani kehidupan yang datar-datar saja, pengalaman yang biasa-biasa saja. Tak ada yang istimewa dalam keseharian. Bahkan lebih tepatnya, kehidupan yang kujalani hanyalah menghabiskan waktu dengan menjalani rutinitas.
Prinsip hidupku juga nggak aneh-aneh “Jangan berani mencoba, bila tak ingin terjerumus." Namun kehidupan telah mengajarkanku begitu banyak hal. Bahwa prinsip hidupku selama ini,  ternyata salah. Justru tanpa berani mencoba, kita takkan pernah punya pengalaman apa-apa. 
 Tak ada istilah bolos kuliah, pulang malam, nongkrong di mall, ikutan demo ke sana sini, serta seabrek kegiatan lainnya mampir dalam kamusku. Padahal, sederet kegiatan tersebut tak pernah absen dalam buku agenda teman-teman.
Suatu hari ada salah seorang teman nyelutuk “Hidup lu, garing amat. Emangnya, nyaman dengan semua ini? Gambar aja terasa gak matching kalo cuma item putih. Masa hidup yang cuma sekali ini gak elu warnai juga?”
“Nggak, gua bukan tukang gambar ataupun tukang lukis!” ucapku sambil melengos pergi. Diiringi tatapan kesal darinya, karena gak bisa nerusin ceramahnya kali ini.
Biarpun hatiku rada berasap, jujur kuakui kalo perkataannya memang ada benarnya. Dari bayi sampai segede gini, aku memang dibesarkan di kota kembang tercinta. Tapi kalo ditanya dimana tukang kembang, wuih pasti kelimpungan karena nggak tau. Hmm, dimana ya! Kata orang sih, di seputaran Jl. Dewi sartika, sentra bunga balubur sama daerah cihideung- lembang. Bener nggaknya, aku juga gak lebih tahu.
Dan yang paling bikin aku kelimpungan, kalau beberapa kenalan atau saudara yang tinggal diluar kota, minta diantar berkeliling kota. Tanya ini dan itu, mengenai kota kembang. Namun dari sekian banyak pertanyaan tak pernah jauh dari tempat makan, tempat belanja, tempat wisata, ataupun mesjid.
Mesjid…? Kalau bicara mengenai rumah Allah yang satu ini, aku harus kembali menutup wajah...alias malu. Biarpun, usiaku sudah melampaui seperempat abad tapi pengetahuanku mengenai mesjid-mesjid yang bertebaran di kota kembang ini tak lebih baik dari anak SD.
Semua keindahan dan kemegahan yang ada, hanya dapat aku nikmati melalui media masa serta mendengar apa kata orang. Sepertinya aku harus benar-benar mengubah prinsip hidupku ini. Kalau kita selalu menutup diri dari dunia luar selamanya. Bisa jadi, hidupku ini tak akan pernah berubah, pengalaman yang kumiliki hanya monoton saja. Tak indah dan tak berwarna, seperti kata temanku.
Aku jadi teringat salah satu firman Allah yang mengatakan kalau Allah tak akan mengubah nasib suatu kaum sebelum dia mengubah nasibnya sendiri. Jadi… aku harus mulai berubah ya… tapi harus mulai dari mana?  
 Hmm mungkin, aku harus memulainya dari hal yang dianggap paling penting yaitu Mesjid. Dari sekian banyak mesjid yang berdiri di kota kembang, ada satu tempat yang membuatku penasaran yaitu mesjid Salman – ITB. Kenapa? Informasi mengenai mesjid yang satu ini agak bersimpang siur. 
Biarpun dari namanya saja sudah terdengar seperti mesjid kampus. Tapi dari informasi yang bisa aku dapatkan kalau mesjid salman ini letaknya berada di luar kampus ITB. Lho kenapa bisa? Kali ini, aku harus membuktikan sendiri kebenarannya.
 Pokoknya, arah angkot  ke mesjid salman itu, lewat dekat rumahmu. Nanti bilang aja, minta turun di mesjid salman, katanya lagi
                Berbekalkan keingintahuan dan petunjuk tak lengkap dari seorang kenalan, aku pergi mencari keberadaan Mesjid Salman tersebut. Hingga satu waktu, angkot yang kutumpangi sudah memasuki kampus ITB tanpa terasa. Ternyata hanya menyisakan aku seorang.
“Mo, kemana neng?” sapa pak supir
“Mo ke mesjid Salman, di mana ya!” akhirnya meluncur juga pertanyaan dari mulutku.
“Mesjid Salman…? Emang ada ya, saya sih gak tahu, neng!”
“Uuh, gimana sih! Tadi waktu ditanyain mesjid Salman, ngangguk,” protesku kesal. “Yaa..udah, saya turun disini aja!  lanjutku lagi.
“Maaf ya neng! Bapak gak bisa bantu. Tapi kalo nggak salah ada sebuah mesjid besar  di depan. Coba cari tahu di sana deh!” ucap sopir itu sembari melarikan angkotnya.
Selepas angkot itu pergi, giliran aku yang bingung, dongkol, kesel dan juga sebel. Berjalan menyusuri jalanan yang sepi, sendirian. Diantara pepohonan besar yang menghiasi tiap sisinya. Kalau melihat lingkaran batangnya yang besar, pasti pepohonan untuk telah hidup lama di tempat itu. Angin kesejukan meraih punggungku.
Ah, segarnya…! rasanya, semua perasaan tak enak ini menguap begitu saja.
Hanya melaju beberapa langkah saja, kaki ini sudah tiba di depan gerbang sebuah mesjid besar. Kuputuskan untuk mampir sebentar kesana sebelum melanjutkan perjalanan.
Saat pertama kali menginjakkan kaki di halamannya, suasana familiar sudah bisa kurasakan.  Berbagai jenis kegiatan terlaksana di setiap sudutnya. Mulai dari pengajian, kajian, les privat hingga rapat.
Kalau diamati lebih jeli, mesjid ini memiliki keunikan pada bagian atapnya. Bagian atap yang bentuknya dome (kubah), menggunakan balok beton berbentuk cekung yang berprestressed dengan dihiasi kaca patri berwarna. Dan polesan terakhir terletak pada lapisan terluarnya, yang menggunakan kayu sirap. Arsitektur bangunannya, benar-benar yang unik.
Semilir angin membawa sebuah pamlet melayang ke hadapanku. Dari pamplet itu, barulah aku sadari kalau mesjid besar di depan mataku ini ternyata mesjid Salman yang selama ini aku cari. Inilah akhir dari pencarianku, yang kutemukan tanpa sengaja .
****

Salman – ITB, 5 Januari 2006

Kamis, 02 Agustus 2012

B4 Beduk Ramadhan 1433 H


Kalau biasanya, hari-hari Ramadhanku selalu dipenuhi dengan berbagai aktifitas yang menyita waktu. Hingga akhirnya, Ramadhan pun usai tanpa terasa. Tapi kali ini, Ramadhanku terasa beda dari biasanya.
Meski sudah menginjak hari kelima Ramadhan, tak ada satu pun jadwal kegiatan yang sudah masuk dalam agendaku. Rutinitas harianku hanya sebatas mempersiapkan menu sahur dan berbuka puasa bagi kami sekeluarga.
Maka, ketika salah seorang sahabat di FlpBandung mengajakku untuk berbuka puasa bersama pada tanggal 29 Juli nanti di Saung Awi – Gegerkalong, aku setuju saja. Rasanya, sudah cukup lama aku tidak bersilaturahmi dengan mereka.
Beberapa hari berselang, aku juga mendapat info tentang sebuah acara B4 Beduk Ramadhan 1433H yang digagas oleh pak Bambang Trim. Acara ini terselenggara atas kerjasama antara Dixigraf Publishing Service, Penerbit Pandu Aksara serta toko buku Gramedia.
Sebenarnya acara tersebut sudah diadakan lebih dulu di Gramedia Depok pada tanggal 22 Juli lalu. Nah kali ini, giliran Bandung mendapatkan kesempatan yang sama di Gramedia Merdeka pada tanggal 29 Juli ini.
Waah, kesempatan emas nih! Kapan lagi ada pelatihan gratis oleh salah seorang praktisi perbukuan Nasional. Bukan hanya itu, tempat pelaksanaannya tidak begitu jauh dari rumah. Hanya cukup sekali naik angkot dan membutuhkan waktu sekitar 30 menit saja.
Tanpa berpikir panjang, aku langsung mendaftar. Apalagi jumlah pesertanya yang dibatasi hanya 40 orang. Untunglah, masih ada tempat tersisa untukku. Fuih, aku menarik nafas lega. Tapi kenapa masih ada yang terasa mengganjal di hatiku. Apa ya?
Ya Ampuun, bukannya pada tanggal segitu aku sudah membuat janji lebih dulu dengan teman-teman di FlpBandung? Ah, kenapa aku bisa jadi pelupa seperti ini? Lalu sekarang, sebaiknya aku pilih yang mana? Rasanya, kedua acara itu sama-sama penting untukku.
Hhh, apa aku menyusul saja? Selepas acara B4 BEDUK usai, aku langsung menuju ke Saung Awi. Tapi kan, jalanan sekitar daerah Setiabudhi, Cipaganti selalu macet di akhir pekan. Apalagi saat-saat menjelang waktu berbuka puasa, kemacetan sudah tidak bisa dihindari lagi pastinya.
Lagipula, jarak antara jalan Merdeka dengan daerah gegerkalong itu cukup jauh. Apa mungkin aku bisa tiba di sana hanya dalam waktu 30 menit? Rasanya sungguh mustahil. Kalau sudah begitu, lalu aku bakal berbuka puasa dimana nanti?
Palingan, aku bakal tiba di sana ketika orang lain tengah bersiap melaksanakan shalat Tarawih. Apalagi katanya, Saung Awi ini berada dalam kawasan pesantren Darut Tauhid yang terkenal. Aku langsung menutup muka.
Tak cukup sampai di situ, aku juga harus mampu memprediksi. Kira-kira, hingga jam berapa kami berada di Saung Awi? Sementara itu, aku tak bisa berlama-lama bersama mereka. Aku  harus segera pulang dan siap terjaga mulai pukul dua dini hari.
Dengan berbagai pertimbangan inilah, aku memilih ikut acara B4 BEDUK bersama pak Bambang Trim di Gramedia – Merdeka saja. Sebaiknya, aku segera meminta maaf pada teman-teman di FlpBandung.
****

Satu hari menjelang acara berlangsung, pak Bambang Trim masih mencari seorang moderator untuk acaranya. Dengan iming-iming, akan mendapatkan berbagai keuntungan. Diantaranya: bisa mempromosikan dirinya, mendapat posisi strategis untuk berfoto, mendapat honor serta mendapat kesempatan mengerjakan proyek bersama beliau.
Sungguh, aku begitu tergiur dengan tawarannya yang menggoda. Hanya saja, aku belum pernah menjadi seorang moderator sekalipun. Entah kenapa, tangan ini tergerak untuk segera menulis pesan singkat padanya. Benar saja, dugaanku. Beliau malah menyangka aku bersedia menjadi moderator untuk acaranya. Padahal sebenarnya, aku hanya ingin menyapa beliau saja.
Pak Bambang bilang, apa salahnya kalau dicoba. Format acaranya juga sederhana, santai saja. Ah, benar juga. Kapan lagi aku punya kesempatan langka seperti ini. Apa salahnya aku coba, itung-itung uji nyali. :D
Hingga akhirnya, waktu yang ditunggu-tunggu pun tiba. Aku tiba di tempat acara dengan hati berdebar. Bagaimana kalau acara tersebut malah jadi kacau balau gara-gara aku. Ditambah tempat acaranya yang sangat strategis, membuat nyaliku bertambah ciut.
Meski pada awalnya, hampir semua yang hadir itu perempuan, tapi lambat laun  para lelaki pun mulai berdatangan. Ruangan yang sempit pun menjadi penuh sesak hingga ke dekat pintu.
Di luar dugaan, sebagian besar para pesertanya ternyata teman-temanku di Forum Penulis Bacaan Anak. Sehingga aku tidak merasa canggung dan kaku lagi. Acara pun berlangsung dengan seru. Bahkan hingga acara hampir berakhir, masih banyak doorprize yang belum dibagikan. Semua berjalan dengan lancar, Alhamdulillah 
                                                                                          

Sabtu, 16 Juni 2012

Menjadi, Kutu Loncat!


Behind Odet dan Kebun Kentang

Sepertinya, aku harus berterima kasih pada t’Evi Indriani. Banyak sekali informasi mengenai perkembangan naskah first novelku  yang ada di Tiga serangkai, berasal darinya.
Di suatu siang menjelang sore, dia kembali mengirimiku sebuah sms.
“Hai teman sebangku, naskah kita berdua, akhirnya bisa lolos juga!”
“Lolos apa? kan emang udah lolos seleksi kedua dan dilanjut hingga bab akhir. Pengumumannya seminggu lagi, kan?”
“Bukan… naskah kita lolos seleksi kedua dan akan diterbitkan.”
“Benarkah?” tanyaku lagi seakan tak percaya.
“Iya, infonya ada di facebook. Katanya sih, pemberitahuan resminya melalui via email.”
“Ooh, saya memang belum sempat membuka email dari kemarin. Makasih infonya ya!”
Tanpa membuang waktu, aku buru-buru menyalakan komputer. Lalu membuka akun email milikku. Ternyata benar, m’Windri sudah mengirimiku email kemarin, pukul 2.00 dini hari..
Dalam email tersebut menyebutkan bahwa naskah “Odet dan Ranting Ajaib” akan diterbitkan oleh tiga ananda. Salah satu lini penerbitan buku-buku anak di Tiga Serangkai.
Tak cukup sampai di situ, karena menurut rencana First Novel ini akan diterbitkan secara berseri, dimana tiap seri akan terdiri dari dua judul. Jadi, m’Windri memintaku untuk membuat kisah lanjutan dari Odet.
Aku mengangguk-angguk sendiri. Kemudian, aku melanjutkan membaca email. Ternyata ada biodata yang harus kuisi. Aku pun langsung mengisinya dengan semangat. Tapi, tiba-tiba saja mataku tertegun melihat deretan terakhirnya.
NPWP…
“Waduh, aku kan belum punya NPWP?”
Tanpa membuang waktu, aku buru-buru mengirim sms kembali pada t’Evi
“Harus pake NPWP ya? Saya belum punya NPWP eng!”
“Alhamdulillah, saya udah punya!” jawabnya.
“Eh bikin aja, cara pembuatannya gampang ko.”
“Ya tapi… sekarang kan udah jum’at sore. Paling tidak, saya harus menunggu hingga senin pagi. Betul tidak?”
“Iya juga sih!”
Aku kembali diam. Sebenarnya bukan masalah NPWP yang membuatku bingung. Tapi, bagaimana kisah Odet selanjutnya?  Meski ada sedikit kelonggaran dengan deadline, dua bulan dari sekarang, tapi tetap saja ideku masih benar-benar kosong.
****

Meski sudah dua bulan, kantor diliburkan. Aku bersikukuh bertahan di kostan. Ingin tetap fokus menyelesaikan kisah Odet selanjutnya, menjadi alasan. Karena, kupikir keadaan di kostan, jauh lebih kondisif daripada di rumah.
Semoga, masih ada sedikit harapan yang tersimpan. Kau tahu, aku tak ingin pulang dengan alasan apapun. Aku ingin buktikan, bahwa aku sanggup dan mampu bertahan di tempat ini.
Namun, bertahan hidup di tempat asing tanpa penghasilan sedikitpun, bukanlah perkara gampang. Rasanya tak mungkin, bila hanya mengandalkan uang tabungan yang seadanya. Mau tak mau, aku terpaksa harus meminjam ke sana sini untuk bertahan hidup.
Tak apalah, yang penting aku bisa belajar mandiri. Andai saja, honor itu bisa segera turun secepatnya. Pasti akan segera kututup semua utangku. Ah, kenapa aku seperti tidak ikhlas dalam menulis naskah ini?
Belum apa-apa, aku sudah mengandalkan honor, yang belum jelas berapa dan kapan turunnya. Maaf, tapi aku benar-benar membutuhkannya saat ini.
Ya Allah, kuharap ada keajaiban
Akan tetapi, apa yang kita inginkan, belum tentu sesuai dengan kenyataan. Dan semua rencana yang sudah kususun sedemikian rupa itu harus pupus di tengah jalan. Aku mendapat kabar, kalau ibuku sedang sakit di rumah. 
Tanpa harus berpikir ulang, aku langsung buru-buru pulang. Lalu, kembali tinggal di rumah untuk beberapa waktu lamanya. Tanpa peduli uang kostan yang baru saja kubayar, meski dari hasil pinjaman ke orang.
Yang ada dalam pikiranku hanya satu, ibu segera pulih dan aku kembali ke kostan. Namun, meski sudah hampir dua bulan berjalan, penyakit ibu tak kunjung sembuh. Sementara deadline kisah Odet yang kedua semakin dekat.
Menjadi kutu loncat, sudah menjadi kegiatan sehari-hari. Mulai dari mengurus ibu yang masih sakit, kembali ke naskah, lalu mengurus rumah. Kemudian kembali ke naskah lagi. Saat itu, benar-benar menguras energi
Hanya satu hal yang aku sayangkan, aku sulit sekali untuk fokus. Mungkin karena pikiranku yang bercabang-cabang atau karena kelelahan. Naskah memang sedang aku kerjakan, tapi sepertinya melenceng kemana-mana.
Ah, Ya Allah… Aku harus bagaimana??  T_T
Aku jadi teringat pada sebuah pepatah, “Di mana ada kemauan, di situ ada jalan…” 
Aku berusaha untuk tetap fokus. Berusaha, untuk tetap menulis selama aku mampu. Seperti ucapan bunda Ary Nilandary. Jika kau hanya mampu menulis selama lima menit, menulislah. Jika kau hanya mampu menulis selama setengah jam, tetap menulislah.
Tanpa sadar, aku mampu menyelesaikan kisah Odet yang kedua ini. Di saat, waktu deadline sudah mepet. Meski hingga saat ini, aku terpaksa harus meninggalkan kostan, aku tidak akan menyesal. Kesempatan mengurus ibu yang sakit, jauh lebih berarti dari segalanya... 

Senin, 26 Maret 2012

Kepepet is The Best


Behind Odet & Ranting Ajaib

Kalau boleh jujur, sebenarnya aku mulai panik. Meski waktu tiga minggu sudah semakin berkurang, tapi otak ini masih terasa buntu. Rasanya, aku masih belum menemukan ide yang unik serta menarik.
Tapi biasanya dalam waktu yang mepet, segala hal bisa jadi inspirasi. Saat melihat ponakanku yang sedang menikmati susu coklat kesukaannya, suatu waktu. Tiba-tiba saja muncul sebuah ide, sesaat kemudian hadirlah kisah “Secangkir Susu Coklat Panas”.
Tanpa kusadari, akhirnya aku sanggup menyelesaikan bab pertama tepat waktu. Selepas itu, aku memang sengaja membiarkan draft tersebut, begitu saja. Meski sebenarnya, aku bisa saja melanjutkan kisah ini. Bukankah sudah ada outline yang sudah aku buat sebelumnya?
Sayangnya, aku masih enggan. Sepertinya, aku masih belum yakin dengan kemampuan diri sendiri. Syukur-syukur, kalau memang naskah ini masih bisa berlanjut. Jika tidak, itu sangat menyakitkan. Karena itulah, aku sengaja membiarkan naskah itu seadanya.
Beberapa minggu berselang, t’Evi Indriani salah seorang peserta workshop Yogyakarta tempo hari mengirimku sebuah sms.
“Hei teman sebangku. Selamat ya! Naskah kita berdua lolos.”
“Benarkah?” sambutku seolah tak percaya.
“Assyfa Nurhalimah – Odet & Ranting ajaib, kan?”
“Iya benar.”
“Nama itu kan, ada di urutan pertama yang lulus seleksi. Pengumumannya ada di facebook.”
Tak lama berselang, giliran m’Ale yang menyusul mengirimku sms, “syfa naskahmu lolos seleksi, tuuh!”
Kalau sudah dua orang yang memberikan kabar yang sama, berarti aku nggak mimpi. Tanpa membuang waktu, aku buru-buru membuka akun facebook, untuk memastikan.
Ternyata benar, namaku tercatat dalam daftar orang-orang yang masuk seleksi pertama. Mereka berhak melanjutkan seluruh naskah novelnya hingga rampung dalam waktu empat minggu ke depan. Haa… seleksi lagi?
Kenapa harus ada seleksi lagi sih? tempo hari saja, langkahku sudah terseok untuk menyelesaikan bab pertama. Sekarang, aku hanya diberi waktu empat minggu saja untuk menyelesaikannya sampai selesai? Apa aku sanggup bertahan hingga bab terakhir?
Meski sudah berhasil hingga sejauh ini, perasaanku masih datar-datar saja. Tak ada euphoria ataupun kebanggaan. Justru saat itu, aku malah mengurung diri di kamar tanpa tahu apa yang harus aku perbuat. Bagaimana bisa aku menyelesaikan naskah itu hingga utuh??
Ternyata kepanikanku masih terus berlanjut hingga saat itu. Dengan waktu yang semakin mepet, bukanlah ide menarik yang mengalir di kepalaku. Tapi, kepalaku benar-benar mentok, aku tak bisa berpikir sama sekali. Tiba-tiba saja, aku terkena syndrome block’s writer.
Tak ada hal lain yang bisa ku lakukan selain berdo’a dan berdo’a. Oh, aku benar-benar membutuhkan keajaiban lagi. Tak cukup sampai di situ, aku sengaja menyetop semua aktifitas luar dan mencoba fokus hanya pada naskah First Novel ini.     
Bahkan aku sengaja pasang status di facebook “Jika orang menganggapku bisa, berarti aku bisa… jika orang menganggapku sanggup berarti aku sanggup.
Setelah cukup lama aku merenung. Hingga akhirnya, pikiranku melayang pada bawang. Salah satu jenis sayuran yang paling dekat dengan keseharian kita. Meski kaya manfaat, tapi masih banyak orang yang tidak mau menyadarinya.
Kemudian, aku mulai mengumpulkan keragaman bawang dan memolesnya sedikit. Ada keluarga bawang putih yang baik hati, tinggal di dekat istana. Ada keluarga bawang merah yang paling banyak dibutuhkan penduduk, sehingga tinggal di dekat pasar.
Ada keluarga bawang daun yang tinggal di pinggir sungai. Dengan tubuhnya yang tinggi diharapkan bisa menjaga tanah di sekitar sungai agar tidak erosi. Sementara kelurga bawang bombay, tinggal di lapisan terluar negeri bawang.
Dengan tubuhnya yang tinggi besar, diharapkan mereka mampu menghalau segala jenis ancaman yang akan mengganggu ketentraman negeri bawang. Selain itu, keluarga bawang goreng yang senang mengganggu ketertiban umum, tinggal di tempat terasing.  
Entah dari mana datangnya, semua ide itu. Yang jelas, ide-ide itu mengalir begitu saja, tanpa aku sadari. Aku jadi teringat ucapan m’Ale beberapa waktu yang lalu.
“Jangan pernah takut ide kita diambil orang. Tapi, berharaplah agar kita bisa membuat ide yang lebih bagus lagi di kemudian hari.”
Hingga saat ini pun, aku masih belum percaya kalau dengan tangan inilah keluarga bawang, bisa terbang ke Tiga serangkai. But, It’s real. My dreams come true..

Rabu, 29 Februari 2012

Tiket Ekonomi pun, Tak Apalah


Masih lekat dalam ingatan, saat itu aku tengah membuka jejaring sosial facebook. Sekilas, aku melihat promosi workshop First Novel gratis di Salamadani. Sayang, aku tidak begitu begitu tertarik.
Alasanku sederhana saja. Selama ini aku masih belum bisa membuat cerpen yang bagus, satupun. Lalu, untuk apa ikut workshop novel segala? Hingga akhirnya, workshop tersebut, berlalu begitu saja.
Tak lama kemudian, acara yang sama kembali diadakan oleh penyelenggara yang berbeda. Kali ini, Tiga Serangkai yang mengadakan workshop First Novel gratis. Tak tanggung-tanggung, mereka mengadakan seleksi ketat di empat kota yakni Bandung, Yogyakarta, Surabaya dan Jakarta.
Siapapun yang ingin ikut workshop diharuskan mengirim sinopsis atau outline cerita untuk diseleksi. Kalau naskahnya bisa lolos, maka dia berhak ikut workshop. Jadi, tidak menutup kemungkinan bagi siapa pun yang berada di kota lain untuk berpartisipasi.
Bukan hanya itu, naskah peserta workshop juga mendapat kesempatan diterbitkan di bawah bendera Tiga Ananda. Salah satu lini penerbitan buku anak di Tiga Serangkai.
Meski demikian, aku masih tetap acuh tak acuh. Padahal Bandung menjadi kota pertama seleksi dan pabers lain yang ada di luar bandung, tengah sibuk mempersiapkan diri agar bisa lolos seleksi.
Beberapa bulan berselang, buku-buku first novel hasil workshop Bandung sudah mulai launcing. Semenjak saat itu, First novel mulai ramai dibicarakan orang. Rasa sesal mulai terasa saat melihatnya.
Andai saja aku ikut mengirim sinopsis juga, mungkin kenyataannya akan berbeda. Setidaknya, aku masih bisa ikut berharap siapa tahu ada keajaiban, lolos seleksi. Semenjak saat itu, aku bertekad untuk tidak melewatkan kesempatan berikutnya.
Maka, ketika seleksi kedua mulai diumumkan, aku langsung mengirim sebuah sinopsis.  Sebenarnya, aku juga tidak begitu yakin kalau naskah milikku ini bisa ikut bersaing dengan yang lain. Masalah lolos atau tidak, urusan nanti. Yang penting sudah berusaha ^_^
Selepas itu, aku tetap menjalankan aktifitas seperti biasa. Bukan lantaran, tidak ikut menunggu pengumuman. Tapi, karena masih tak yakin dengan kemampuan sendiri.
Apalagi kalau melihat buku-buku First Novel yang baru di launching itu. Hampir semua penulisnya, orang-orang yang sudah terbiasa menerbitkan buku. Sedangkan aku? Belum ada satu pun, buku yang kumiliki. Rasanya kata minder, sudah memenuhi kepalaku.
Kalau bisa lolos seleksi sekali pun, belum tentu aku bisa datang ke Yogyakarta dan ikut workshopnya. Apalagi waktu pelaksanaannya hampir berbarengan dengan acara launcing buku ‘Ketika Detak Jantungku Berhenti’.
Acara tersebut digagas oleh teman-teman di flp bandung untuk mengenang alm. Nurul F Huda. Salah seorang penggagas Forum Lingkar Pena yang baru saja menghembuskan nafas terakhirnya pada pertengahan Mei 2011.
Otomatis, konsentrasiku terfokus pada acara tersebut. Dengan waktu yang hanya berselang satu hari, rasanya mustahil bila aku tidak memilih salah satu diantaranya.
****

Beberapa minggu berselang, salah seorang teman pabers di Bandung mengirimku sebuah sms, tiba-tiba.
“Syfa, mau pergi bareng ke Yogya?” tanyanya.
“Hhh, ke Yogya?”
“Iya, ikut worshop First Novel Tiga Serangkai tea?”
“Saya lolos seleksi gitu?” tanyaku tak percaya.
“Ih gimana sih? Baca pengumumannya di facebook,” katanya lagi.
Tanpa membuang waktu, aku langsung membuka akun Facebook untuk memastikan. Ternyata benar, namaku terdaftar sebagai salah peserta workshop First Novel Tiga Serangkai di Yogyakarta. Alhamdulillah…
Akan tetapi, kebahagiaanku tidak bertahan lama. Kini, aku malah bimbang untuk memilih. Antara pergi ke Yogyakarta dan ikut workshop. Ataukah batal pergi dan tetap konsen pada launcing? Rasanya, kedua-duanya, sama pentingnya untukku.
Andai saja, semua berlangsung di Bandung, tentu aku tak akan kelimpungan seperti ini. Namun, jarak antara Bandung dan Yogyakarta itu terlalu jauh.
Apa mungkin aku bisa berada di dua kota dalam waktu yang relatif singkat? Rasanya mustahil. Tapi, kapan lagi aku memiliki kesempatan berharga seperti ini?
Ah, kenapa aku jadi serba salah begini!  
Untuk menuntaskan kepenasaran, aku sengaja jalan-jalan ke stasiun. Hanya untuk menanyakan tiket kereta tujuan Yogyakarta. Siapa tahu, ada tiket yang sesuai dengan kantongku agar aku bisa tetap pergi.   
Sayang sekali, tiket tujuan Yogyakarta untuk pemberangkatanku nanti sudah habis terjual. Kalau pun ada, harganya sangat melambung dan tak dapat aku jangkau. Kemudian, aku pun iseng menanyakan tiket kelas ekonomi dengan tujuan yang sama.
Ternyata harganya hanya Rp 24.000,- saja. Tanpa berpikir panjang, kuputuskan untuk membelinya. Masalah kembali ke Bandung, itu urusan nanti. Yang terpenting, aku bisa tiba di Yogya sabtu pagi dan ikut workshop.
Begitu tiba di rumah, aku langsung menyimpan tiket itu di tempat yang paling aman. Dengan tiket ini, apa sekiranya yang akan terjadi dengan hidupku, beberapa waktu ke depan? Hanyalah Allah yang tahu.
Hingga waktu pemberangkatan, aku masih tidak percaya dengan keputusan yang kubuat sendiri. Kau tau? Biarpun harganya tidak seberapa, tapi tiket itu sangat berarti bagiku. Ibarat sebuah kunci yang akan membuka harapan baru bagiku, untuk hidup lebih maju.
 Ketika tiba di stasiun Kiaracondong, para penumpang lain sudah banyak yang menunggu. Begitu pula dengan kereta yang aku tunggu, ternyata sudah penuh sesak oleh penumpang. Dari tujuh gerbong yang telah disediakan, empat diantaranya sudah dipenuhi rombongan dari Padalarang.
Kabarnya, setiap jumat malam kereta ekonomi jurusan timur sudah di sewa oleh rombongan. Andai saja, aku tahu akan begini jadinya. Tentu aku akan memilih pergi kamis malam dan menginap di sana semalam.
Hhh, kalian mungkin tahu sendiri seperti apa keadaan kereta ekonomi. Pelayanannya yang tidak memuaskan sangat berimbang dengan harga tiketnya yang murah. Ingin rasanya aku memutar langkah tapi sekarang, semua sudah kepalang basah.
Aku terpaksa ikut berdesak-desakan bersama penumpang lain. Lalu, mencoba mencari tempat yang senyaman mungkin, untuk menikmati perjalanan yang tidak sebentar ini. Sepertinya, kami tak peduli dengan keselamatan diri kami sendiri. Yang terpenting, kami bisa tiba ditempat tujuan. Seperti diriku ini, yang bertekad, harus tiba di Yogyakarta besok pagi.
Tak cukup sampai di situ, karena para pedagang asongan memaksa masuk ke sela-sela gerbong yang panas dan pengap untuk menjajakan dagangannya. Apa mereka tidak mengerti, kalau hanya untuk bergerakpun, para penumpang kesulitan.
Setelah terjebak dalam kondisi seperti ini selama hampir 10jam, akhirnya kereta yg aku tumpangi tiba juga di stasiun lempuyangan. Sementara waktu yang tersisa 90 hanya menit saja. karena itu, aku putuskan untuk langsung menuju tempat acara yakni hotel Grand Palace dengan taksi
Tiba di tempat acara, belum ada seorang peserta pun yang hadir di tempat acara. Saat aku hubungi mba Windri, rupanya dia bersama tim dari Tiga Serangkai masih dalam perjalanan menuju Yogyakarta.
Ah rupanya, aku kepagian. Sambil menunggu peserta lain yang datang, aku sengaja melepas lelah di lobi. Keadaan di tempat ini, sungguh berbanding terbalik dengan keadaan dalam kereta api tadi. Tak lama berselang, datanglah mba Sapto Rini, mba Yuniar Khaerani, teh Evi Indriani, teh Nia Haryanto, mba Asri Andarini dan yang lain. 
Setelah tim dari Tiga Serangkai datang, maka acara workshop itu pun segera di mulai. Beberapa orang diantara peserta, diminta mempresentasikan naskah yang ditulisnya. Aku langsung merinding mendengarnya. Bagaimana tidak, Ide mereka bener-bener unik dan fresh.Sementara ideku sendiri? rasanya terlalu klise. 
Untung saja, m’Windri masih memberi kesempatan bagi yang ingin terus melanjutkan konsep atau mau mengubahnya. Saking seru acaranya, hingga waktu berjalan tanpa terasa. Seperti rasa kantuk yang nyaris tak aku rasakan meski tak tidur semalaman. Menjelang ashar, acara workshop itu harus berakhir. 
 Sebenarnya, hati ini masih ingin berlama-lama di kota gudeg, agar bisa menikmati suasana malam di Malioboro, yang sudah melegenda. Sayangnya, aku harus segera kembali ke Bandung karena acara launcing buku yang sudah kami persiapkan akan berlangsung esok paginya. 
Akan tetapi, untuk menuntaskan kepenasaran, aku mampir dan berkeliling sebentar di pasar Beninghardjo. Hanya sekedar melihat-lihat koleksi batiknya dan membeli sedikit oleh-oleh untuk keluarga di rumah.  Setelah cukup lelah berkeliling, aku sengaja memilih naik bis menuju terminal. (Kapan lagi, naik bis di Yogyakarta, moment langka ^_^) 
Selain harganya yang murah meriah, bis yang aku maksud juga biasa melintas di depan pasar Beninghardjo. Sehingga aku tak perlu kerepotan membawa barang bawaan. Maka ketika bisnya datang, aku segera  memilih bangku terdepan, agar dapat melihat pemandangan dengan lebih leluasa.  
 Mungkin hanya itulah, satu-satunya kesempatan yang kumiliki. Melihat penduduk Yogyakarta yang baru pulang beraktifitas, dari balik jendela. Entah itu anak-anak yang baru pulang sekolah, ataupun para pekerja yang sedang mencari nafkah untuk keluarganya.
 Sebuah pemandangan yang membuat mataku benar-benar terpesona. Di sini, tak ada kemacetan. Apalagi asap kendaraan yang menyesakkan dada. Sebagian besar penduduknya, lebih senang mengayuh sepeda daripada membayar cicilan motor keluaran terbaru.

Meski hari sudah semakin sore, tapi matahari masih tetap bersinar cerah. Bis terus melaju perlahan menyusuri jalanan kota.  Secara tidak langsung, aku masih bisa menikmati suasana Yogyakarta, tepat seperti yang kuharapkan. Meski hanya sepintas, namun aku cukup merasa puas.
Di luar dugaan, ternyata bis tersebut membawaku  melintasi beberapa tempat penting yang sebenarnya ingin aku kunjungi. Sungguh, aku merasa sangat beruntung...