Senin, 20 September 2010

Mengail Ketulusan

Kata orang, janji itu adalah utang. Janji diantara kita bertiga, aku, kamu dan DIA. Biarlah hanya kita saja yang tahu, tak perlu melibatkan orang lain. Biarpun janji itu akan selalu menjadi mimpi buruk yang akan melukai perasaanku. Tapi janji tetaplah janji, sebuah utang yang harus kupenuhi.

Kalau boleh jujur, ada perih yang menyelinap dihati saat kabar itu sampai kepadaku. Padahal aku tak pernah tahu, dimanakah tempatmu dalam hati ini. Kamu bukanlah sekadar teman biasa. Namun bukan pula seorang sahabat, seperti sebagian dari mereka yang menganggapku seperti itu. Yang aku tahu, kepedulian dan kesetiaanmu sudah tak diragukan lagi.

Kaulah yang telah mengajarkanku tentang kesederhanaan. Kau selalu menganjurkanku untuk menjadi diri sendiri, tanpa harus meniru orang lain. Kau juga yang mengajarkan akan sebuah ketulusan, tanpa harus peduli apa kata orang, tanpa harus mempermasalahkan bagaimana komentar orang.

Rasanya aku belum siap menerima kenyataan. Biarpun, aku masih bersyukur sebab kau sendiri yang menyampaikan kabar bahagia ini. Tapi yaa… mau gimana lagi? Bukankan Allah telah mengatur semua yang terjadi. DIA telah memberikan pilihan terbaik untuk kita. Karena kita tak pernah tahu, apa yang terbaik untuk kita kelak.

Bukan, bukan maksudku untuk cemburu kepadanya. Bukankah sejak awal kebersamaan ini, kita sudah sepakat untuk saling mengingatkan ketika ada yang bertindak keliru, saling menguatkan ketika ada yang terpuruk, saling menghibur ketika ada yang bersedih. Aku hanya butuh waktu untuk menerima takdir, bahwa kebersamaan itu telah berakhir. Sekarang, kau takkan pernah ada disisiku lagi. Kau takkan pernah membuatku tersenyum ceria lagi. Dan kau takkan pernah bisa hadir saat aku membutuhkanmu lagi. Andai kau tahu, mengantarkanmu pada bidadari hati adalah janji terberat yang harus aku penuhi. Bukannya aku takut kehilanganmu, justru yang kutakutkan seandainya aku tak bisa menepati janji itu. Sungguh, aku sendiri tak percaya ternyata aku sanggup melampaui semuanya. Akhirnya, janji tersebut terbayar tunai, Alhamdulillah. Mungkin inilah saatnya, ketika ketulusanku harus diuji. Kuharap ketulusan ini, akan menjadi hal berharga yang takkan pernah bisa terukur apalagi tergantikan oleh apapun. Biarlah episode kehidupan kali ini, menjadi kisah yang tak pernah ada tandingannya di dunia. Laksana sebuah cerita dari negeri dongeng. Hanya Allah lah yang berhak mengatur dan menilai semuanya…

Rabu, 26 Mei 2010

Wasiat Seekor Nyamuk

Bukan inginku menjadi seekor nyamuk. Semenjak hadir di dunia ini mahluk yang bernama manusia menyebutku begitu. Tapi mereka selalu memusuhi bangsa kami sejak jaman para leluhur hingga anak cucunya seperti aku ini.

Seandainya aku dapat memilih. Aku juga ingin di takdirkan menjadi seorang manusia seperti mereka. Mahluk Allah yang begitu sempurna penciptaan bentuknya, yang diberikan akal pikiran serta diberikan kebebasan untuk memilih jalan hidupnya. Kadang aku tak pernah mengerti kenapa Allah memberikan begitu banyak anugerah-Nya sedangkan mereka jarang sekali menyadari apalagi sampai mensyukurinya.

Memang, sebagian dari kami menyebarkan beberapa jenis penyakit seperti: Cikungunya, Demam Berdarah, Malaria, dsb. Tapi tolong diingat, hanya sebagian saja. Tidak semua bangsa kami menjadi penyebar penyakit.

Hanya satu dua tetes darah yang kami hisap setiap harinya demi menyambung hidup. Padahal demi mendapatkannya kami harus meregang nyawa setiap saat. Bagaimana dengan manusia, pernahkah mereka sampai melakukan hal yang sama untuk mendapatkannya? Rasanya tidak. Tapi kenapa mereka selalu mengangggap kami sebagai sumber malapetaka yang menyebabkan kematian. Bukankah penyebab kematian itu bisa datang dari mana saja?

Apa mereka tidak pernah sadar. Dengan adanya mahluk seperti kami, mereka mau membersihkan tempat tinggalnya. Kemudian membuat pabrik obat pembasmi serangga dengan beragam jenis. Mulai dari yang dibakar, dioles atau dalam bentuk spray sekalipun. Ada juga bentuk yang paling modern yaitu dalam bentuk elektrik.

Bukankah semua itu bisa menjadi jalan agar mereka memiliki lapangan pekerjaan dan mampu menghidupi anak dan istrinya. Membuat asap di dapur tetap mengepul dan anak-anak mereka tidak sampai putus sekolah. Apa semua itu tidaklah cukup?

Andaikan aku dapat memilih, aku juga tidak ingin menjadi seekor nyamuk dan melukai manusia. Mau bagaimana lagi semua sudah menjadi hukum alam bahwa makanan seekor nyamuk itu adalah darah terutama darah manusia.

Sungguh, aku tak pernah menyesal bila ditakdirkan hidup hanya menjadi nyamuk. Seekor mahluk kecil yang hidupnya hanya sesaat. Kuharap dalam hidupanku yang sesingkat ini, bisa menjadi pengabdianku kepada sang Khaliq daripada menjadi seorang manusia yang hanya bisa berbuat kerusakan dimuka bumi serta menyia-nyiakan kesempatan yang telah diberikan-Nya. Semoga…

***

Yang Awalnya Tiada Kembali Tiada

Pada suatu hari seorang pemuda berjalan sambil tersenyum bahagia. Bukan lantaran sedang dimabuk asmara tapi karena baru saja mendapatkan kabar baik. Ada sebuah tawaran kerja untuk dirinya yang benar-benar sempurna.

Harapannya untuk mewujudkan semua impian dan cita-citanya selama ini terbuka lebar. Bukan hanya untuk dirinya saja melainkan juga untuk kedua orang tuanya serta untuk keluarganya yang lain.

Sebenarnya, banyak juga tawaran yang ia terima sebelumnya namun saatnya selalu tidak tepat atau selalu saja ada hal yang menghalangi. Tiba-tiba saja telepon genggamnya berdering.

Ada sebuah telepon yang masuk dan mengabarkan bahwa tawaran tersebut telah dibatalkan. Sudah ada orang lain yang menggantikan posisinya, hanya karena adanya sedikit kesalahpahaman antara dirinya dengan pihak perusahaan.

Astagfirullahaladzim…ucapnya dengan lunglai.

Kecewa dan putus asa tentu saja melekat dalam sanubarinya. Namun dengan sekuat tenaga dia berusaha untuk berbaik sangka kepada Allah. Ia tetap yakin kalau dibalik semua peristiwa itu akan ada hal yang lebih berharga yang akan dia terima.

Kemudian dirnya mulai menghubungi teman-temannya dan kemudian berbagi pengalaman dengan mereka. Hingga tak lama kemudian senyum sudah terkembang menghiasi wajahnya kembali. dan ia dapat beraktifitas seperti sediakala.

Adapun hikmah yang dapat kita raih dari sebuah kejadian sederhana diatas adalah:

1) Allah Maha Berkehendak atas segala sesuatu.

Sangat mudah bagi Allah untuk mengubah suatu kejadian, dari kebahagiaan menjadi kesedihan. Dalam waktu yang singkat ataupun dengan cara yang sederhana sekalipun.

2) Kita tidak bisa mengubah takdir.

Semua itu perlu kita sadari sehingga kita selalu bersiap diri untuk menghadapinya. Allah yang menguasai masa depan kita, menguasai diri kita, mengetahui semua kebutuhan kita serta hal-hal lain yang berada disekitarnya. Maka serahkan dan percayakan hidup ini hanya padanya.

3) Kesempatan yang pada awalnya tiada, kembali tiada.

Jika suatu saat Allah akan mengambilnya kembali, kenapa harus sedih, kecewa ataupun marah? Bukankah perasaan sedih hanyalah sebagian kecil hal yang berada dalam diri kita.

Padahal Allah masih memberi banyak kesempatan untuk mendulang pahala dengan berbagai cara, misalnya: bersyukur, berikhtiar, berikhtiar atau bertobat. Seandainya, Allah telah mencabut semua nikmat itu, kemana lagi kita minta pertolongan?

Siap tidak siap, kita tak memiliki pilihan. Hanya saja, apakah kita bisa bersyukur, ridho serta bersabar atas apa yang telah Allah tetapkan. Kita memang kehilangan tapi dibaliknya ada pahala yang jauh lebih berharga.

Seringkali manusia lupa untuk bersyukur dan merasa berat untuk bersabar. Padahal sebenarnya rasa syukur dan sabar itu akan mwngantarkan kita ke dalam indahnya kehidupan.

Allahu alam bishowab,

v

Bandung, 20 Januari 2008

Pesan Terakhir

Bicara tentang kematian, maka tidak ada satu nyawa pun yang bisa luput dari genggaman-Nya. Kematian tak hanya datang menghampiri si tua yang telah renta ataupun si sakit yang hidupnya hanya tinggal menanti hari. Namun kematian bisa saja datang kapan dan dimana saja, menyapa siapa saja. Bisa menyapa anak kecil yang masih belia ataupun si muda yang masih sehat dan enerjik. Who’s know?

Tak ada yang tahu kapan dirinya akan dijemput, hingga sudah sepantasnya apabila kita selalu bersiap sedia setiap saat. Seandainya saja manusia tahu kapan ajal akan menjemput dirinya mungkin kehidupan di dunia ini akan aman dan tentram. Tak ada penipu, tak ada koruptor, penjahat atau anak durhaka sekalipun. Hingga pada akhirnya neraka akan sepi.

Tapi, semua itu takkan pernah terjadi karena Allah telah menciptakan semua hal berpasang-pasangan. Ada siang ada malam, ada hidup ada mati, ada baik ada jahat, ada surga ada neraka dan begitulah semua berjalan hingga hari akhir.

Terkadang ada hal yang ingin disampaikan oleh seseorang menjelang kematiannya. Sayangnya, kita tidak pernah menyadari kalau semua hal itu merupakan sebuah pertanda. Seperti pengalaman kedua sahabat saya yang pernah ditinggalkan oleh orang-orang yang mereka sayangi.

· Sebutlah namanya Dzul, bukan nama sebenarnya.

Beberapa waktu yang silam, adik Dzul ini sakit keras hingga harus dirawat di Rumah Sakit. Menurut penjelasan dokter, adiknya ini menderita penyakit TB-Paru. Apalagi dia memiliki koreng pada kakinya yang tak kunjung sembuh membuat penyakit yang dideritanya menjadi semakin parah.

Selama satu bulan dirawat disana, namun kondisi adiknya ini tidak kunjung membaik. Hingga pada puncaknya ia mengalami koma selama 24 jam. Namun, keajaiban itu muncul. Tiba-tiba saja dia sadar dan kondisinya semakin hari semakin membaik hingga bisa kembali ke rumah.

Semenjak peristiwa itu, adiknya benar-benar sembuh. Ada perubahan yang signifikan pada perilaku adiknya ini. Prilakunya benar-benar berubah. Ia menjadi rajin mengerjakan shalat Tahajud, Dhuha, apalagi shalat wajib yang lima waktu tak pernah ia tinggalkan serta tentu saja mengaji. Semua pekerjaan rumah pun ia kerjakan sendiri. Tak ada kata malas, takut ataupun lelah, ia tetap ikhlas menjalaninya.

Suatu ketika, adiknya ini bercerita kalau dulu disaat dirinya koma ia bermimpi berada ditengah-tengah sebuah telaga yang luas. Ia merasa takut dan ingin pulang. Tapi ia tak tahu bagaimana caranya untuk mencapai tepian sedangkan tak ada sebuah perahu atau rakit sekalipun disana. Kemudian ia bertemu dengan seorang kakek yang mengendarai sebuah rakit. Kakek itu berpesan “..rajin-rajinlah kamu untuk sholat dan mengaji ya, nak!”. Sesudah itu ia sadar kembali dari masa kritisnya itu.

Kami sekeluarga benar-benar bersyukur atas kesembuhannya ini. Namun tepat satu tahun setelah kepulangannya dari rumah sakit, dalam kondisi sehat menurut pandangan kami, ia menghembuskan nafasnya terakhirnya. Ia kembali keharibaan-Nya. Innalillahi wa inna ilaihi rajiun…

· Sebutlah namanya Kas, bukan nama sebenarnya.

Syawal 1426 H mungkin menjadi saat-saat terberat dalam hidup Kas. Disaat belum surut kesedihan yang menimpanya karena kehilangan ibunda yang tercinta. Seminggu kemudian, ayahandanya pun pergi menyusulnya. Pergi meninggalkan dirinya untuk menghadap sang Khaliq.

Kejadian itu benar-benar membuatnya sangat bersedih dan terpukul. Ia sempat mempertanyakan keadilan Allah itu ada dimana, ia benar-benar putus asa. Hingga pada hari ketiga setelah kematian ayahnya itu, diantara sadar dan tidak sadar, Kas melihat ayahnya datang dan mendekatinya. Kemudian beliau berkata “.ojo kelalen sholat ya ndo!” (..jangan lupa sholat ya, nak! =red).

Sejak saat itu, Kas segera sadar telah menyalahkan Allah atas kejadian ini. Padahal Allah Maha Tahu, semua hal yang terbaik bagi dirinya di hari esok. Kas segera bertobat, dan ia mengaku merasa takut untuk meninggalkan ibadah yang satu ini.

“Allahummaghfirli wali wali dayya warhamhuma kamaa rabbayani shogiro..”

Ya Allah, ampuni segala dosa-dosaku dan dosa ibu bapakku, kasihanilah mereka seperti mereka menyayangiku sewaktu aku masih kecil…

Tak ada hal yang istimewa dari kedua peristiwa diatas. Tapi mungkin kedua hal itu bisa kita jadikan cermin, bahwa kita tak pernah bisa menerka kapan ajal akan menjemput. Kematian adalah salah satu episode kehidupan yang harus dilalui oleh setiap mahluk yang bernyawa. Cepat atau lambat, mau tak mau, kehidupan ini pastilah akan berakhir.

Dan tentunya, peristiwa kematian ini harus bisa kita terima dengan ikhlas dan lapang dada. Karena semua hal yang berada disamping kita adalah milik Allah semata. Semua itu hanyalah titipan. Kita hanya diberi kesempatan untuk memelihara dan menjaganya dengan sebaik-baiknya. Dan jika suatu saat Allah akan mengambil milik-Nya kembali, kapanpun saatnya. Kita harus tetap ridho dan ikhlas.

Ingatlah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Sahabat, bertaubatlah atas segala kelalalaian dan kehilafan yang telah kita lalui, sebelum terlambat.

Allahu Alam Bishowab…

v

Bandung, 12 Muharam 1428 H

Senin, 24 Mei 2010

Pandanglah dengan hatimu!

Sebenarnya, apa yang kita lihat saat pertama kali membuka mata? Memandang orang yang berada dihadapan? Memandang langit-langit yang berada diatas kepala? Ataukah memandang gumpalan awan yang berarak dari balik jendela kamar?

Seperti halnya langit yang jauh dan tinggi, biasanya orang selalu memandang segala hal yang berada jauh dari hadapannya. Ia selalu membanding-bandingkan dirinya dengan orang lain yang keadaannya lebih tinggi darinya.

Ia senang mengeluh dengan posisi yang dihadapinya. Dan menganggap kalau posisi orang lain jauh lebih menyenangkan dan menguntungkan. Padahal setiap orang yang hidup di dunia ini telah dibekali masalah dengan kadar yang berbeda-beda sesuai dengan kemampuannya masing-masing.

Memang sudah menjadi sifat manusia, senang menambah-nambah serta memperburuk keadaan hingga hal sederhana pun bisa berubah menjadi rumit lalu dirinya akan menderita sendiri dibuatnya. Nah, bila keadaannya berubah menjadi rumit dan membuat dirinya menderita sendiri, untuk apa?

Seringkali kita berdecak kagum pada seseorang yang terlihat menarik perhatian. Bisa karena kemampuannya, kepandaiannya, penampilannya dan berbagai alasan lainnya. Berawal dari perasaan kagum hingga ingin menyamai atau bahkan ingin melebihi. Kita akan berusaha untuk mengejarnya walaupun tidak sesuai dengan kemampuan yang kita miliki. Dan seandainya kita tidak sanggup untuk menyamainya, kita hanya bisa meratapi nasib serta menyisakan penyesalan dalam dada.

Ah, kenapa aku tak bisa seperti dia?

Kenapa bisa muncul pertanyaan seperti itu? Karena kita selalu memandang pada orang-orang yang berada diatas kita. Kita selalu memandang dan melihat segala hal dari luarnya saja. Padahal penampilan luar itu seringkali menipu.

Seandainya saja kita mau memandangnya dari sisi hati, tentunya kita akan merasa lebih beruntung. Masih banyak orang lain di luar sana yang keadaannya jauh lebih buruk dari kita. Dimana keberuntungan tak pernah mau mendekatinya apalagi sampai berkenan singgah dihadapannya. Apa jadinya kita seandainya kita berada dalam posisi mereka?

Ah, tak terbayangkan!

Sekarang, pernahkah kita melirik sejenak diri sendiri? Apa kita sudah berusaha untuk bersabar atas semua kesulitan yang tengah kita hadapi? Dan apa kita sudah berusaha untuk bersyukur atas semua kemudahan yang telah kita dapatkan selama ini? Semua berbalik pada pribadi masing-masing. Bukankah Allah SWT telah menciptakan manusia dengan segala kelebihan dan keunikannya tersendiri?

Terus memandang pada hal yang lebih jauh bisa membuat mata ini lelah. Ada baiknya mulai saat ini kita bisa jeli untuk memandang keadaan di sekitar atau bisa menggali potensi diri yang dimiliki. Hingga diri ini tak pernah merasa dirugikan apalagi sampai dihinggapi rasa iri dan dengki. Rasakan dan nikmati hidup kita sendiri. Tentunya hidup ini akan jauh lebih bahagia. Nah, sekarang semua pilihan ada ditangan kita. Terserah mau memilih yang mana?

v

Bandung 27 Muharam 1428 H

8: 32 am

Malin Kundang Milenium

Siapa yang tidak kenal dengan kisah ini. Kisah tentang seorang anak yang dikutuk menjadi batu karena durhaka terhadap ibunya. Dan, tidak semata-mata Allah memperlihatkannya kepada kita agar peristiwa itu bisa kita jadikan cerminan hingga takkan terulang lagi di masa yang akan datang.

Sayangnya di masa kini kisah Malin Kundang ini hanya menjadi sebuah cerita yang disebarkan secara turun menurun sebagai dongeng pengantar tidur belaka. Ataupun sebagai bagian kurikulum yang harus diajarkan kepada anak didik di sekolah. Bukan untuk diambil hikmahnya dan dijadikan pelajaran dalam kehidupan.

Dalam sebuah hadist, Abu Hurairah r.a berkata, “Telah datang kepada Rasulullah saw seorang laki-laki lalu bertanya “Ya Rasulullah, siapa orang yang patut kita hormati?” Rasul menjawab” Ibumu!” Dia bertanya lagi ,”kemudian siapa?” Rasulul menjawab ” Ibumu!” Dia bertanya lagi ,”kemudian siapa?” Rasulul menjawab ” Ibumu!” Dia bertanya lagi ,”kemudian siapa? “Ayahmu,” (HR. Bukhari dan Muslim)

Demikian pentingnya kedudukan seorang Ibu dimata Rasulullah hingga Rasulullah sendiri sampai menyebutkannya beberapa kali. Bagaimanapun keadaan anaknya itu, sempurna atau tidak fisiknya, menjadi orang baik ataupun menjadi orang jahat sekalipun, pengorbanan dan kasih sayangnya selalu tulus, tak pernah berbalas dan tak ada habisnya sepanjang masa.

Setiap orang pasti memiliki Ibu. Dan sekarang, dimanakah dirinya? Apakah kita sudah bisa membahagiakannya atau hanya membuat hatinya terluka dan bersedih? Seringkali kita selalu menyia-nyiakan kesempatan untuk menemaninya namun setelah terlambat hanya menyisakan penyesalan yang tiada bertepi. Tak ada hal yang bisa diubah hanya dengan sebuah penyesalan.

Sayangnya, selama ini kita sebagai anaknya hanya bisa berlaku egois terhadapnya. Semua anjuran dan nasehat yang diberikannya selalu kita tanggapi dengan komentar negatif. Padahal beliau hanya bermaksud melindungi dan ingin memberikan hal terbaik bagi anaknya.

Kita selalu berceloteh ‘Ibu sih, gak pernah bisa ngertiin keinginan anak muda!’.

Beliau juga pernah muda, beliau juga pasti pernah merasakan apa yang sedang kita rasakan saat ini. Andai saja kita tahu, kalau sebenarnya beliau bisa mengerti keinginan kita walaupun dengan caranya sendiri.

Kita, anaknya selalu menuntut dirinya agar menjadi sosok sempurna dimata kita. Padahal seorang Ibu hanyalah manusia biasa yang tidak sempurna. Seandainya ibu kita adalah sosok yang membanggakan tentunya akan dihargai dan juga dihormati serta mungkin takkan menimbulkan persoalan. Namun, seandainya sosok itu tak pernah sesuai dengan apa yang kita harapkan, mungkin akan menimbulkan persoalan.

Di jaman milenium seperti saat ini, tak jarang seorang anak yang akan pergi mengadu nasib tak pernah lupa untuk meminta do’a restunya sebelum pergi. Padahal tanpa diminta pun, beliau selau mendoakan anaknya siang dan malam. Tapi, apa jadinya saat anak itu telah berhasil?

Disaat ibunya datang jauh-jauh hanya untuk menemui anaknya dan melepaskan rindu yang tertahan selama bertahun-tahun. Anak itu berpura-pura tidak mengenalnya. Dia malu mengakui sosok wanita kampung yang udik dengan penampilannya yang sederhana itu sebagai ibunya.

Padahal hati kecilnya merasa miris dan tak tega untuk melakukannya. Entah apa alasannya, apa untuk menutupi masa lalunya atau untuk menyelamatkan popularitas dan kedudukannya. Dia tetap memilih untuk membohongi semua orang.

Jadi apa bedanya prilaku anak itu dengan tokoh Malin Kundang dalam cerita. Sudah sepatutnya dia bersyukur karena Allah masih menyayangi hambanya dengan tak mengutuknya menjadi batu, meskipun mungkin saja prilakunya jauh lebih buruk lagi dari prilaku Malin Kundang.

Memang dari segi fisik, dirinya masih berwujud seorang manusia tapi pastilah Allah telah mengeraskan hatinya layaknya sebuah batu. Sepertinya, hal itu jauh lebih berat daripada kutukan Malin Kundang. Sebuah batu besar pun bisa pecah ataupun berbekas apabila terus ditempa air atau benda keras lainnya yang terus menghantamnya. Namun keras dan membatunya hati seorang manusia, hanya Allahlah yang bisa mengubahnya.

Sadarilah! Meskipun prilaku dan sikap seorang Ibu itu tak pernah berkenan dihati kita. Beliau tetaplah Ibu yang telah mengandung kita selama 9 bulan, yang telah melahirkan kita dengan mempertaruhkan nyawanya serta yang membesarkan kita dengan penuh kasih sayang hingga kita dapat mengenyam keberhasilan sampai sejauh ini. Tanpa kehadirannya, takkan pernah ada seorang Arsitek, Astronot, Dokter, Guru, Pilot, dan bahkan seorang Presiden sekalipun

Nah, bagi sahabat yang saat ini merasa Ibunya masih berada disampingnya, cepatlah meminta maaf dan segera berbakti padanya dengan apapun caranya. Andai kita tahu, berbakti padanya itu tak hanya dengan memberikan sejumlah materi saja namun dengan berprilaku yang dapat menyenangkan hatinya hingga tidak membuatnya bersedih. Hal itu juga lebih baik! Ayolah, mumpung belum terlambat!

Selama matahari masih terbit di ufuk timur, Allah masih membukakan pintu ampunan yang selebar-lebarnya. Masih banyak waktu untuk memperbaiki kehilafan yng telah kita lakukan pada Ibu. Tak ada kata terlambat untuk melakukan sebuah kebaikan. Dan seandainya Ibu kita sudah tak ada disamping kita lagi, masih banyak waktu bagi kita untuk mendo’akannya agar Allah memberikan tempat sebaik-baiknya disisi-Nya. Karena DIA maha Mendengar dan Maha Melihat, DIA pasti mengabulkan do’a kita semua.

X

Bandung 23 Desember’ 07

Just for my Mommy

Kamis, 20 Mei 2010

Kerudung cantik

Perasaan iri dan dengki selalu hadir menghiasi kehidupan manusia. Disadari atau tidak, perasaan tak nyaman itu muncul saat melihat orang lain selangkah lebih maju dari kita. Tak ada salahnya memang, semua itu manusiawi tapi jika kita biarkan terlalu lama bersemayam dalam hati, malah akan mencelakakan diri sendiri.

Selain itu, hal ini bisa menyebabkan kita jauh dari Allah karena terbakar perasaan dengki itu sendiri. Padahal orang yang kita maksud tak tahu menahu akan kedengkian itu. Dirinya malah lebih menikmati keberhasilannya.

Perasaan itu muncul dengan berbagai alasan, misal: iri seorang bawahan pada atasannya, iri kepada tetangga, irinya seorang perempuan ketika melihat orang lain tampil lebih cantik dari dirinya atau bahkan iri kepada saudara sendiri. Seperti pengalamanku berikut ini:

Di awal tahun sembilan puluhan, jilbab dan kerudung masih menjadi suatu hal yang masih langka. Tapi sekarang semua itu tersebar dimana-mana layaknya jamur dimusim penghujan.

Dengan beragam bentuk, hiasan maupun ukuran. Mulai dari hiasan bordir, sulaman, monte hingga motif lainnya. Aku sering memperhatikan orang lain yang mengenakan kerudung-kerudung cantik itu jika kebetulan mereka melintas didepanku.

Hhh, seandainya aku bisa mengenakan kerudung semacam itu, mungkin aku bisa tampil cantik seperti mereka, anganku.

Namun Ibu selalu mengingatkan aku bahwa kecantikan seorang perempuan bukan hanya berasal dari penampilan luarnya saja melainkan kecantikan yang terpancar dari dalam diri itu sendiri seperti budi pekerti, keramahan, sopan santun, dan masih banyak lagi hal lainnya.

Aku masih ingat. Saat itu menjelang Hari Raya Idul Fitri tahun lalu. Salah seorang kakak perempuan yang tinggal di luar kota datang dengan sekarung keluhan. Kehabisan uang untuk ongkos mudik dan membelikan pakaian baru untuk anak-anaknya hingga tak bisa membeli untuk diri sendiri, tak sempat membawa oleh-oleh, dan masih banyak lagi alasan lainnya.

Tepat di hari Idul Fitri, ia masih bisa mengenakan satu stel pakaian muslim lengkap dengan kerudung cantiknya. Daripada penasaran, aku memberanikan diri untuk bertanya kepadanya

“Lho, katanya gak bisa beli baju baru?”

“Ini sih, barang cicilan! kebetulan ada langganan yang menawari,”

Aku hanya bisa menelan ludah ketika mendengar jawabnnya itu, sambil meliriknya sesekali. Kuakui kalau baju dan kerudung itu sangat menawan hati tapi tak ada hal yang dapat kulakukan.

Idul Fitri kali ini, untuk kesekian kalinya aku masih menganggur. Jangankan memikirkan membeli baju baru, melihat Ibu bisa memasak dan menyediakan hidangan bagi kami sekeluarga, sudah cukup bagiku.

Menurutku dia cukup beruntung, walaupun mencicil toh ia masih bisa mengenakan baju baru. Tapi aku…, untuk mencicilnya saja tak punya. Jadi segera saja kutepis semua harapan untuk punya baju baru di hari yang fitri ini.

Beberapa minggu kemudian ada salah seorang teman lama yang datang berkunjung dan menghadiahkanku sebuah kerudung cantik. Warnanya pun sama persis, hanya saja kerudung itu jauh lebih sederhana bila dibandingkan dengan kerudung milik kakakku itu. Tapi aku tetap bersyukur dan merasa kalau kerudungku jauh lebih cantik. Ternyata Allah Maha Adil.

Ah, untuk apa menyimpan perasaan iri dan dengki di hati ini. jika kita mau bersabar, kesabaran itu tak akan sia-sia karena Allah akan menggantinya dengan hal yang lebih baik tanpa kita duga sebelumnya.

Allahu Alam Bishowab,

v

Bandung, 15 Maret 2007