Rabu, 19 Mei 2010

Ingat Mati

Serem.. mungkin itulah hal yang pertama kali muncul dalam benak kita saat mendengar frase tersebut. Bukan bermaksud untuk mengeruhkan suasana namun setidaknya, hal ini akan mengingatkan kelalaian kita selama ini. Bahwa tak selamanya kita akan terus menikmati apa yang ada dihadapan saat ini. Kita tak pernah tahu kapan kita diberi rezeki, kebahagian itu datang, dicoba dengan penyakit atau bahkan ajal sekalipun. Yang kita tahu hanyalah suatu hari nanti kita akan pulang keharibaan-Nya, cepat atau lambat.

Menjenguk orang sakit bukanlah suatu keharusan. Namun alangkah baiknya bila kita mau meluangkan waktu sejenak untuk memberi dukungan harapan bagi mereka yang kini tengah diberi cobaan penyakit. Membantu sesama tak perlu berupa materi saja namun dengan menjenguk saja dan memberinya semangat adalah bentuk lain dari bantuan yang bisa kita berikan. Mungkin esok atau lusa, kita sendiri yang akan merasakan hal serupa. Tak ada yang tahu.

Sebenarnya, datang sebentar dan memperlihatkan wajah penuh keceriaan saja sudah menjadi obat tersendiri bagi orang sakit. Seletih dan seselah apapun kita melihat keadaannya sebaiknya jangan sampai diketahuinya.

Menjenguk orang sakit ibarat sebuah teropong yang kita gunakan untuk menerawang. Dengan menjeguk, kita diajak untuk menerawang, meraba lebih jauh akan keadaan diri sendiri. Apakah selama ini sudah merawat diri dengan baik ataukah sebaliknya. Bagaimana kalau kita sendiri yang mengalami apa yang dirasakannya.

Tiga hari yang lalu, aku baru saja mengunjungi seorang sepupu yang dirawat di Rumah Sakit. Kondisinya memang cukup memprihatinkan. Tapi, hal yang membuatku lebih miris, bukanlah karena melihat kondisi fisiknya yang suah tidak berdaya melainkan karena dia sudah tidak memiliki harapan hidup dalam dirinya untuk berjuang melawan penyakit yang menyerangnya.

Tak hanya itu, orang-orang disekelilingnya pun sepertinya sudah kehilangan harapan untuk tetap bersemangat. Mungkin mereka terlalu lelah sehingga mudah berputus asa menghadapi kondisinya yang tak kunjung membaik. Jadi, bagaimana dirinya bisa memiliki harapan untuk memperjuangkan hidupnya apabila tak ada dukungan dari orang-orang disekitarnya.

Padahal harapan hidup itu sangat penting artinya bagi seseorang yang berada dalam tahap penyembuhan. Harapan yang ada, dapat menumbuhkan semangat dan keinginan untuk sembuh. Bukankah, keadaan kita saat ini sama seperti apa yang ada dalam pikiran? Dan biasanya, sugesti yang berada dalam pikiran seseorang sering kali terbukti kebenarannya.

Melihat keadaan seperti itu, aku jadi teringat pada pengalamanku sendiri beberapa tahun kebelakang. Disaat harapan hidup ini mulai menipis, tak ada hal lain yang bisa dilakukan hanya mengingat Allah, Sang pemilik hidup.

Namun ayah, Ibu dan kakak lelakiku tak pernah bosan mendampingiku siang dan malam, bersama dukungan harapan yang tak pernah putus serta doa yang terus mengalir bagi kebaikanku. Dan selama itu, tak pernah sedikit pun kulihat mereka mengeluh padahal aku yakin mereka teramat lelah. Bersyukurlah aku masih memiliki orang-orang yang tegar berada disampingku. Sudah seharusnya aku tak perlu mengeluh lagi akan setiap keadaan yang kualami selama ini.

Allah memang teramat baik, menyayangi hamba-Nya. Allah selalu memberikan pilihan terbaik untuk kita. Buktinya aku masih diberi kesempatan untuk menjalani hidup, masih memiliki kesempatan untuk memperbaiki kesalahan dimasa lalu, atau setidaknya tidak mengulang kesalahan yang sama.

Ah, siapa yang menyangka kalau sampai sekarang, kedua kaki ini masih dapat menginjak tanah dengan sempurna? Masih bisa menyapa matahari yang tersenyum cerah setiap pagi. Masih bisa melihat kilau bintang berkelip dalam temaran malam. Dan tentunya bisa bertemu dengan begitu banyak orang bersama aneka watak dan tabiatnya tersendiri. Aku sungguh beruntung. Begitu indahnya dunia, bagi siapa saja yang penuh dengan harapan….

Balee Bamboo, 16 Nopember 2008

Innalillahi wa inna ilahi rajiun..

Addicated for my cousin

Allahumma firlaha, warhamha waafiha wa’fuaha…

Selasa, 18 Mei 2010

Hanya kepada Allah lah, sebaik-baiknya tempat kembali

Saat ini aku benar-benar sedih. Tiba-tiba saja seorang sahabat yang amat kusayangi pergi meningggalkanku tanpa alasan yang pasti. Seandainya memang dia harus pindah ke tempat lain atau mungkin lebih dulu berpulang kepada-Nya, tentu masih bisa aku terima. Tapi disaat dia masih berada disisi namun sikapnya benar-benar berubah, seolah tak pernah mengenaliku. Sungguh, semua ini membuatku tersiksa.

Memang aku hanya seorang manusia yang tak pernah luput dari salah dan khilaf. Dan aku tak pernah menyadari apa salahku padanya. Seandainya dia mau mengatakan, tentunya aku akan merusaha memperbaiki kesalahan ini di kemudian hari. Namun kata itu pun tak pernah terucap.

Sejak dulu, aku selalu berprinsip kalau ‘Persahabatan itu nilainya lebih tinggi daripada cinta’. Benarkah begitu? Ataukah prinsip hidup seperti ini yang salah? Apa mungkin diriku terlalu egois untuk melihat cinta yang ada dihadapan mata demi mempertahankan sebuah persahabatan? sehingga sampai saat ini sudah ketiga kalinya aku gagal mempertahankan keduanya.

Peristiwa seperti ini memang sudah berulang kali terjadi. Namun tetap saja semua itu membuatku merana dan sangat tersiksa hingga kenangan pahit yang sudah ditutup rapat dalam relung hati itu kembali menyeruak dan tak dapat terbendung lagi.

Ø Kisah 1

Entah dari mana awalnya hingga kami menjadi dekat setelah memasuki kelas yang sama di tingkat akhir SMP. Aku benar-benar menaruh kepercayaan besar kepadanya.

Dan aku merasa menjadi orang yang sangat beruntung. Bagaimana tidak, aku bisa mendapatkan seorang sahabat yang cantik, pintar, pengertian dan ilmu agamanya jauh lebih dari cukup. Tidak sia-sia ayahnya yang seorang ustadz menggemblengnya siang dan malam.

Selama satu tahun berjalan kami menjalani persahabatan ini dengan indah. Secara kebetulan kami juga melanjutkan ke sekolah yang sama. Tapi ternyata aku terlalu pongah dan lupa diri dan melupakan keberadaan Allah hingga Allah menegurku.

Pada saat itu kami masih sama-sama duduk di kelas satu sekolah lanjutan atas, dimana setiap siswa diwajibkan untuk mengikuti acara ‘mentoring dhuha’. Saat itu dirinya berbisik kepadaku kira-kira seperti ini:

“Aku mau pamit, sepertinya aku mau pindah ke pesantren untuk mendalami ilmu agama.”

“Lalu aku bagaimana? Cuma kamu satu-satunya orang yang selama ini aku percaya…,”

“Kan masih ada Aming, Indah…juga teman-teman lain. sahabatmu masih banyak selain aku. Tanpa aku, hidupmu masih penuh warna.” Kilahnya.

“Hhh, kenapa semua orang menghalangi niat baikku ini!” keluhnya lagi

Akhirnya aku mengalah “Ya pergilah kalau menurutmu ini adalah keputusan terbaik, aku tidak akan menghalangimu. Aku hanya ingin menjadi sahabat terbaikmu,”

Selang beberapa minggu kemudian, dia memang tidak jadi pindah tapi entah angin apa gerangan yang membuat dirinya berubah. Tiba-tiba saja dia menjauhiku. Seandainya kami berpapasan pun dia berlaku seolah tak mengenaliku. Ya Allah apa yang salah dengan diriku, kenapa dia sampai begitu membenci aku? Itulah terakhir kalinya aku bertemu dengannya.

Perubahan sikapnya ini benar-benar membuatku terpukul. Perangaiku yang ceria secepat kilat berubah menjadi seorang yang pemurung, pendiam dan juga penyendiri. Dan sampai saat ini kebiasaan buruk itu masih melekat dan sulit untuk dihilangkan. Aku butuh waktu yang tidak sebentar untuk memulihkan suasana hati. Tapi semenjak itu aku tak pernah lagi bisa mempercayai seseorang…

juni 1995

Ø Kisah 2

Dia adalah teman masa kecilku. Sejak dulu kami tumbuh bersama. Suatu saat nanti, aku ingin datang menghadiri pernikahannya untuk melihat dia tersenyum bahagia bersanding dengan belahan jiwanya di Pelaminan. Aku ingin ikut merasakan kebahagian pada saat yang paling membahagiakan dalam hidupnya. Bukankah seorang sahabat akan selalu mendampingi dalam suka maupun duka?

Selang beberapa tahun kemudian setelah lulus sekolah, kami memang jarang sekali berjumpa. Mungkin karena kesibukan masing-masing. Hingga tiba pada suatu senja:

ayah menyapaku “Kenapa tak pergi ke rumah Dewi?

“Tidak. Memangnya ada apa?” tanyaku heran

“Lho, memangnya kamu belum tahu, dia akan menikah besok. Masa kamu tidak tahu.”

Aku hanya menggelengkan kepala mengiyakan ketidaktahuanku. Ah, mungkin dia lupa!

Kabar tersebut membuatku terus berharap agar selembar undangan itu akan segera muncul di depan pintu. Semalaman aku terus menunggu namun sampai keesokan harinya, memang tak ada selembar undangan pun yang melayang di hadapanku mengenai pernikahan itu.

Hati ini terus bertanya, kenapa bisa-bisanya seorang ‘aku’ bisa luput dari pikirannya. Padahal dulu, aku selalu berada disampingnya. Lupa? Ah, sebuah tanggapan klise yang sederhana. Tapi apakah tidak ada seorang pun disekitarnya yang mengingatkan hal ini. Bukankah selama ini, aku cukup dikenal baik oleh keluarganya.

Sampai sekarang, aku masih ingat betul peristiwa malam itu. Bagaimana tidak, toh hari itu sebenarnya adalah hari Ulang Tahunku. Disaat seharusnya aku berucap syukur karena Allah masih mempercayaiku untuk hidup di dunia ini tapi semua karunia itu harus aku bayar dengan kehilangan seorang sahabat kembali.

Di hari yang paling membahagiakan, aku malah berurai air mata. Lagi-lagi kecewa, dilupakan oleh sahabatku sendiri begitu saja. Mungkin memang begitu adanya, aku sudah tidak memiliki arti apa-apa lagi baginya. Masih lekat dalam ingatan, ditemani heningnya malam, untuk pertama kalinya aku menulis sebuah puisi, suatu hal yang tak pernah kulakukan sebelumnya.

Seharusnya, ada derai tawa malam ini

Duduk melingkar bersamanya

Dalam hamparan karpet lusuh

Ditemani beberapa stoples kue

malam ini

Tawa itu telah berajak pergi

Meninggalkanku seorang diri.

Kenapa, kenapa harus malam ini

Kau torehkan luka dihati

Rasanya aku tak sanggup lagi

Jalani hidup ini seorang diri.

Tapi, putus asa itu sia-sia semata

Karena dunia takkan pernah mau peduli

Dia akan terus bergulir

Dan sang waktu akan terus berjalan

Walau aku terus menangis

hingga airmata ini mengering

takkan pernah membuat dirinya kembali

Maret 2002

Ø Kisah 3

Setiap orang yang pernah kita temui meninggalkan kesan berbeda dihati. Ada yang mengesankan, ada yang menyebalkan dan ada pula yang biasa-bisa saja. Ketika aku bertemu dengan dirinya di suatu tempat, aku sudah merasa cocok dengannya, entah mengapa. Padahal saat itu, baru pertama kalinya kami bertemu.

Dia itu baik, polos, ramah juga lucu. Ada saja ulah yang dibuatnya hingga membuatku tersenyum. Walaupun terkadang aku ikutan jengkel akan sikap polosnya itu yang tak pernah peduli, kalau ucapannya itu akan menyinggung perasaan orang lain.

Ya, tapi mau bagaimana lagi karena sifat dia memang seperti itu. Toh, setiap orang pasti memiliki kelemahan dan itulah kelemahan dia. Tapi ada satu hal yang membuatku benar-benar salut padanya yaitu tentang pandangan hidupnya yang sederhana. Pola pikirnya yang terlampau sederhana itulah yang bisa membuat dirinya selalu bisa mengatasi masalah, tanpa ada masalah. Selama aku mengenal dirinya, aku tak sekalipun melihat dirinya bersedih.

“Sudahlah. Hidup ini memang rumit, jadi jangan kau buat lebih rumit lagi. Nanti akan jadi benar-benar rumit! Nikmati saja apa adanya!” sarannya suatu waktu.

Aku begitu bahagia mendapatkan seorang sahabat seperti dirinya. Jiwaku terlena, bahwa sebenarnya dia tak kan pernah ada di sampingku selamanya. Hingga suatu hari di bulan Ramadhan, dirinya berpamitan akan pindah ke tempat yang sangat jauh.

Mengabdikan ilmu yang dimilikinya di sebuah tempat yang sangat terpencil di ujung timur pulau ini. Kabar yang begitu mendadak ini, benar-benar membuatku schok. Sungguh, aku belum siap menerima kepergiannya. Setiap malam aku selalu berharap agar dia membatalkan niatnya itu. Semoga ada hal lain yang mengalanginya untuk pergi.

Benar saja, Allah mengabulkan doa ini. Dia memang tak jadi pergi. Rencana keberangkatannya yang telah disusun begitu sempurna, gagal begitu saja tanpa alasan pasti. Ada hal lain yang menahannya di kota ini, tapi jelaslah bukan diri ini. Dia telah temukan hal lain yang lebih berharga selain aku.

Buktinya, seperti dalam kisah sebelumnya. Disaat pamit itu telah terucap, dalam kisaran putaran waktu yang sama, aku menemukan dirinya sebagai sosok lain. Sebuah sosok yang tak pernah aku kenal sama sekali. Dia benar-benar berubah menjadi orang lain. Andai, saat ini aku bertemu dengannya lagi, hati ini menjerit kesakitan. Tak sanggup rasanya mengingat semua kenangan bersamanya. Mungkin ada baiknya kalau aku tak pernah bertemu dengannya lagi, biarlah semua yang telah terjadi akan kusimpan dalam hati.

Sedangkan disaat yang sama, aku malah kehilangan orang lain. Orang yang selama ini tak pernah aku perdulikan keberadaannya. Akhirnya, orang itu pergi mengejar mimpinya. Mungkin, aku terlalu picik memandang kehidupan ini. Begitulah, aku telah salah memilih.

Maret 08

Penyesalan memang selalu datang terlambat. Selama ini, aku terlalu lupa diri dan Allah telah menegurku dengan mengambil mereka kembali. Aku memang sedih harus kehilangan mereka semua. Tapi itu adalah balasan setimpal dari semua perbuatanku.

Aku sering melupakan Allah dalam hari-hariku, aku hanya mengingatnya saat shalat, itu pun hanya sebagai ibadah harian untuk menggugurkan sebuah kewajiban saja. Selama ini aku terlalu lalai, lebih mementingkan manusa daripada pencipta-Nya

Padahal Allah Maha Pencemburu. Dia tidak ingin aku menduakan cinta-Nya yang begitu sempurna. Dan memang benar adanya, tanpa mereka semua ada disisiku. Kini aku kembali, mengharapkan cinta-Nya. Semoga, aku akan selalu menyimpan cinta-Nya ini dalam setiap langkah kehidupanku. Karena hanya kepada Allah lah sebaik-baiknya tempat kembali.

v

Juni 2008

Belum saatnya

Sebelum hujan kembali menderas seperti tadi siang, aku putuskan pulang lebih awal. Setelah kurasa tak ada yang tertinggal dan mengunci pintu kantor, aku bergegas menuju terminal angkutan umum.

Ternyata, tak satu pun angkutan umum yang dipenuhi penumpang. Semua kosong…, semua lengang. Mau tak mau, aku harus menunggu tentunya. Harapanku untuk pulang lebih cepat, sirna sudah! Kini, aku harus ikut menunggu. Menunggu penumpang lain, menunggu sebuah ketidakpastian, menunggu diantara lalu lalangnya orang di terminal dihiasi kepulan asap rokok yang tak ada habisnya.

Setelah sekian lama menunggu, akhirnya kotak mesin ini pun mulai melaju, menembus rapatnya rintik gerimis, membelah jalanan kota bandung. Baru beberapa menit, angkutan umum itu melaju, pak sopir mulai melambatkan kecepatan dan berhenti persis di depan sebuah perusahaan garment.

Ah, jangan disini! Duuh, kenapa harus berhenti di tempat ini, batinku

Tempat tersebut memang cukup familiar dimataku. Bagaimana tidak, tempat itu adalah perusahaan yang pernah kutinggalkan beberapa tahun silam tapi…

Ya sudahlah, kita ambil sisi positifnya saja. Mungkin pak sopir berharap mendapatkan penumpang lebih banyak disini, pikirku mencoba berbaik sangka. Aku kembali melirik jam di pergelangan tangan. Sudah pukul setengah lima sore.

Saatnya mereka pulang, bathinku lagi sambil mencoba menarik nafas dalam-dalam.

Ternyata dugaaanku tak meleset jauh. Hanya selang beberapa meter dari tempat angkot ini berhenti, teman-teman lamaku bergerombol. Tentu saja posisiku yang duduk di dekat sopir dapat terlihat dengan jelas.

“eh itu, si Ima…” pekik salah seorang diantara mereka.

Tanpa menunggu perintah, mereka sebergegas menghampiriku.

“Ima…dah nikah belum?” tanya Yesi. Logat Padangnya yang kental, sudah menjadi ciri khas dia membuat teman-temannya tak mudah untuk melupakannya.

“Sudah bertahun-tahun tak bertemu hanya itu yang mereka tanyakan. Sungguh menyebalkan!” aku menggerutu sendiri.

Belum sempat kujawab, angkot itu kembali melaju. Untung saja!

Ah, teman-teman lamaku. Mereka tidak pernah berubah, dari tahun ke tahun tetap saja selalu mengajukan pertanyaan yang sama. Dan aku pun tetap sama, tak pernah memiliki jawaban lain.

Selepas jarak yang semakin menjauh, aku hanya tersenyum getir. Aku baru sadar kalau tahun depan usiaku sudah menginjak kepala tiga. Bukankah saat-saat itu, adalah masa-masa kritis bagi seorang perempuan yang masih menyendiri seperti aku.

Menikah…? Setiap orang pasti merindukan moment itu. Tapi menikah itu tak segampang membalikkan telapak tangan. Allah telah mengatur semuanya, ada yang memang bisa menikah dalam waktu yang cepat, tapi tak sedikit yang mendapat giliran dalam waktu yang lambat.

Tak bisa kupungkiri, ada perasaan tak nyaman dalam hati bila melihat teman atau saudara kita terlihat asyik bersama pasangan masing-masing. Sedangkan aku..? kemana-mana harus selalu sendiri. tapi mau apa lagi. Tak ada hal lain yang bisa aku lakukan. Hanya bisa bersabar, berusaha dan berdo’a. Nyaman atau tidak, aku harus tetap ikhlas menjalaninya.

Selang beberapa hari dari peristiwa itu, ada sebuah bisikan dari hati kecilku. Bisikan yang membuatku merasa lebih baik dan tetap memandang segala hal dengan lebih bijaksana

“Kenapa harus mempermasalahkan status pernikahan? Menikah itu, bukanlah menyelesaikan masalah tapi memulai permasalahan. Lihatlah orang yang ada di sekelilingmu yang telah menikah, apa mereka cukup bahagia? Tidak semua, kan? Justru dengan menikah, tanggung jawab mereka menjadi bertambah, beban hidup mereka menjadi bertambah, ujian kesabaran mereka semakin bertambah pula.

Sadarilah, saat ini kamu masih memiliki orang tua yang selalu mendampingimu. Biarpun, usia mereka sudah tak muda lagi tapi bukankah keduanya masih utuh. Semua ini anugerah bagimu dan tak semua orang memiliki kesempatan seperti ini. Jadi, manfaatkanlah waktu yang kau miliki untuk tetap berbakti pada mereka.

Urusan menikah, memang belum saatnya. Toh, seandainya sudah saatnya, Allah pasti akan memudahkan segalanya. Seperti pekerjaan yang kau jalani saat ini, tak ada seorang pun yang bisa menduganya. Yakinlah..Allah tak pernah tidur...

Beranda Azalea, penghujung Nopember 2009

Belajar dari anak-anak

Saat itu menjelang Hari Raya Idul Fitri. Saya bersama anak, hendak pergi mengunjung rumah Ibu di kampung. Waupun uang kami hanya cukup untuk ongkos saja, kami tetap memaksakan diri untuk pergi, biarlah. Kapan lagi saya bisa berkumpul dengan ibu beserta saudara lainnya.

Namanya juga anak-anak, tidak bisa dibohongi. Tak mau tahu apa kita memiliki uang atau tidak. Dalam perjalanan menuju ke terminal ia melihat ada pedagang bakso dan meminta saya untuk membelikannya. Saya coba mengalihkan perhatiannya pada hal lain. Lalu kami melalui sebuah pasar, dan anak itu meminta buah apel. Tentu saja saya tidak dapat memenuhi permintaannya lagi. Kebetulan banyak kuda tumpangan yang berkeliaran disana, lalu saya alihkan kembali perhatiannya untuk melihat kuda. Dia cukup senang, Alhamdulillah….

Akhirnya kami tiba di terminal. Namun ternyata permintaannya masih juga belum berhenti. Ketika melihat orang sedang berjualan kos bola didepan terminal, ia pun merengek menginginkan kaos itu. Tapi mau bagaiman lagi untuk kesekian kalinya saya tidak dapat memenuhi keinginannya. Saya menjadi merasa bersalah padanya.

Dengan terburu-buru, saya mengajaknya untuk segera naik kedalam bis yang akan kami tuju. Dia, saya biarkan duduk sendiri didekat kursi supir. Ia terlihat sangat senang. Apalagi banyak mobil yang berlalu lalang disana, hingga ia bisa melupakan keinginannya.

Tanpa disadari, ada seorang Ibu yang membawa sebuah keranjang yang dipenuhi oleh barang belanjaan dari pasar kemudian duduk tepat disebelah saya dan kami berbasa-basi. Ternyata kami menuju ke arah yang sama. Kemudian ia mengeluarkan tiga buah apel dan memberikannya kepada anak saya. Dia menerimanya dengan gembira dan memakannya dengan lahap. Sungguh saya sangat terharu karena Allah telah mengabulkan keinginan anak saya dengan jalan yang tidak pernah disangka-sangka.

Tiba dirumah, semua saudara saya sudah berkumpul untuk menemani kami. Mereka memberikan uang kepada anak saya, termasuk neneknya. Padahal seharusnya saya yang memberi pada Ibu bukan kebalikannya. Sepertinya mereka tahu kalau saya sedang mengalami kesulitan ekonomi. Semua saku baju anak saya dipenuhi uang. Dan dengan uang itu, saya dapat membelikan dia kaos bola seperti yang diidam-idamkannya beberapa hari yang lalu.

Dari peristiwa diatas kita dapat mengambil hikmah, diantaranya:

· Allah itu Ar Rohman, Ar Rohim, Rob (Pencipta dan Pemelihara)

· Allah tidak akan membiarkan kita sendirian menghadapi hidup ini

· Belajar dari anak-anak, sepeti yang dikatakan Imam Ibnu Hanifah

- Mudah memafkan dan berbaikan kembali

- percaya rezeki itu ada

- Senang berbagi

Allahu Alam bishowab,

v

Bandung 26 Nopember 2006

Bahaya membawa Berkah

Dulu, aku tak pernah menyadari betapa berartinya waktu yang kita lalui. Hidupku hanya dihabiskan untuk segala hal yang sia-sia dan tak berguna. Kadang terbersit perasaan ingin bertobat atas semua kelalaian yang telah kulakukan. Sampai, pada suatu hari setelah berwudhu aku merasa heran karena air wudhu yang kuseka itu tak kunjung berhenti dan mengering. Dan betapa paniknya aku setelah menyadari kalau yang mengalir deras itu bukanlah air melainkan darah segar dari kedua hidungku. Belakangan aku baru mengetahui kalau aku mengidap penyakit ‘Jantung’.

Semenjak peristiwa itu, tidak lama kemudian aku diterima bekerja disebuah Perusahaan Swasta sebagai karyawan kontrak dengan gaji yang cukup tinggi. Disamping aku tetap berusaha mengobati penyakit itu dengan biaya yang tidak sedikit. Aku juga belum bisa meninggalkan kebiasaan buruk seperti berhura-hura atau berfoya-foya.

Ternyata semua kemudahan dan kelapangan yang kudapatkan adalah bagian dari ujian Allah kepadaku. Sayang aku gagal menjalaninya. Hingga pada akhirnya masa kontrak kerja pun habis. Untuk memperpanjangnya, setiap karyawan harus memiliki tubuh yang sehat serta tidak mengidap menyakit apapun. Tentu saja aku dapat memenuhi semua persyaratan itu karena penyakit yang kuderita ini dan harus rela kehilangan pekerjaan tersebut.

Kali ini aku benar-benar ingin bertobat. Secara kebetulan ada salah seorang teman yang rajin mengikuti sebuah pengajian. Mulanya aku hanya ikut-ikutan tapi lama kelamaan menjadi ambil bagian didalamnya.

Alhamdulillah, tidak berapa lama kemudian, aku mendapatkan kembali sebuah pekerjaan. Walaupun hanya menjadi seorang tehnisi listrik dengan gaji yang tidak seberapa. Namun aku sangat menikmatinya. Pada suatu hari selepas sholat Dhuhur, aku masih mengenakan sandal. Biasanya saat sedang bekerja aku selalu menggunakan sepatu agar terhindar dari sengatan listrik.

Dan.. sebuah resiko yang selama ini kutakutkan pun terjadi. Tiba-tiba saja aku tersengat listrik, semua oang panik. Tapi tidak bagiku, aku malah merasa tenang dan lega. Aku kemudian dilarikan ke Rumah Sakit dan ditangani oleh tim medis. dokter yang menanganiku merasa heran dan mengatakan kalau penyakit jantung ini telah sembuh, Alhamdulillah…

Memang benar, sebesar apapun nikmat yang kita dapatkan jika kita tidak bisa bersyukur semuanya tidak akan berati. Namun, jika kita dapat bersyukur pada nikmat sekecil apapun itu akan terasa lebih berarti dan berharga.

v

Bandung 26 Desember 2006

Mengendalikan Perasaan

Jangan kau simpan cinta di hatimu

Tapi letakkan dia ditanganmu

Agar Hidupmu bahagia…

Saya adalah seorang ahwat anak bungsu dari tiga orang bersaudara. Saya dibesarkan dalam keluarga yang sederhana dan kurang mengenal agama. Pengetahuan agama yang saya miliki hanyalah sebatas dari pelajaran agama yang didapatkan di sekolah dan di tempat mengaji. Walaupun demikian, kami sekeluarga tetap menjalankan ibadah rutin seperti sholat dan puasa.

Hhh, puasa! Sebenarnya saya merasa enggan untuk menjalaninya karena harus menahan menahan rasa haus dan lapar seharian penuh, tak tanggung-tanggung satu bulan lamanya lagi! Mungkin karena posisi saya sebagai anak bungsu hingga sifat manja ini sulit dihilangkan .

Lambat laun, saya baru mengetahui kalau sebenarnya puasa itu bukan hanya menahan rasa lapar dan haus saja melainkan mengendalikan hati, pandangan dan juga pikiran kita dari hawa nafsu. Ah kalau begitu puasa itu berat, juga! Tapi tentu saja saya tetap menjalani ibadah puasa ini.

Bulan Ramadhan selalu saya nanti, sebab aktifitas apapun yang kita jalani akan berbuah pahala yang berlipat ganda dari Allah Taala. Lagipula hanya dalam Ramadhan lah saya bisa bertemu kembali dengan teman-teman lama yang sudah lama tak bertemu. Kami saling berbagi cerita pengalaman di kampus atau hanya bercanda saja.

Dalam bulan Ramadhan pula saya pernah memiliki kenangan dengan seseorang. Dia salah seorang teman saya juga. Hanya saja dikarenakan ketampanan dan kepintarannya, banyak orang yang menaruh rasa kagum dan simpatik kepadanya terutama teman-teman akhwat. Dan saat itu, saya malah mendapatkan perhatian lebih darinya. Entah kenapa…

Entah kenapa, dia malah memberikan perhatiannya kepada saya. Mungkin, saya terlihat berbeda dari teman-teman yang lain. Atau ada sesuatu hal dalam diri ini yang menarik perhatiannya, barangkali. Tapi apapun alasannya, saya merasa biasa-biasa saja dan tak memiliki keistimewaan apapun.

Mulanya saya merasa senang dan bangga. Tapi saya tidak ingin mengganti cinta Allah yang hakiki dengan cinta manusia yang palsu. Lambat laun suasana yang ada menjadi tidak menyenangkan. Teman-teman akhwat satu persatu mulai menjauhi dan meninggalkan saya begitu saja. Apakah kedekatan saya dengan ikhwan ini tidak berkenan dihati mereka? Daripada saya harus kehilangan teman-teman lebih baik saya sendiri yang mundur dan mulai menjauh. Sayangnya, mungkin langkah yang saya ambil ini terlalu terburu-buru, hingga terjadi kesalah pahaman antara saya dan dia. Saya pasrah.

Kata orang, perasaan itu tidak dapat dibeli atau pula dipaksakan. Setiap kali bulan Ramadhan datang, semua kenangan itu selalu datang menghampiri. Sekeras apapun usaha yang saya lakukan untuk menghapusnya namun, kenangan itu tak pernah mau pergi. Mungkin hanya dengan kesungguhan hati dan waktu yang terus berjalan saya bisa melupakan semua kenangan itu.

Ramadhan kali ini? Tentu saja saya bertemu kembali dengannya. Namun ada yang lain dari biasanya. Karena aku telah berbaikan dengannya. Kami berdua sadar kalau rasa cinta itu adalah fitrah dari Allah untuk setiap insan yang ada didunia ini. Hanya saja yang menjadi masalah adalah bagaimana cara mereka untuk meyikapi rasa cinta yang ada. Kuncinya, ingat janji kita kepada Allah yang sering kita ucapkan setiap hari “…Inna sholati wa nusuki wa mahyaya wa mamati lillahi robbul alamin …sesungguhnya sholatku, ibadahku, hidup dan matiku hanyalah milik Allah semata.” Semua perasaan yang ada kami serahkan kembali hanya kepada Allah karena berasal dari-NYA semua perasaan ini hadir dan akan kembali kepada-NYA pula.

Andaikan suatu hari nanti kami memang berjodoh tentu Allah akan menyatukan kami dengan cara yang tak pernah kami duga. Tapi walaupun tidak, ukhuwah ini akan tetap terjalin seutuhnya.

Cinta… jangan membuat kita terlena. Justru dengan hadirnya rasa cinta akan menjadi sumber inspirasi bagi kita semua.

Allahu Alam Bishowab,

v

Bandung 18 Oktober 2005

Embun dan Ramadhan


Ibarat setetes embun yang muncul di setiap pagi, membawa rona harapan dalam relung jiwa begitupun hadirnya Ramadhan dalam sejengkal hidup manusia. Embun dan Ramadhan adalah dua hal yang tak pernah berkaitan namun bagaimana pun kedua hal tersebut memang memiliki banyak kesamaan, yaitu keberadaannya sering dianggap tiada.

Apalah artinya kehidupan didunia ini tanpa hadirnya setetes embun. Apakah pepohonan bisa tumbuh dan berkembang sempurna? Bagaimana tanaman dapat bertunas, berbunga atau bahkan sampai berbuah?

Siapa yang tidak tahu embun? Semua orang pasti tahu. Namun kebanyakan, rasanya tak pernah mau peduli atau mungkin hanya sebagian kecil dari mereka yang masih peduli dengan kehadirannya. Kenapa? Karena begitulah manusia, hanya mau peduli pada hal-hal yang nampak jelas akan memberi keuntungan bagi dirinya sendiri sehingga memperlakukan semua itu layaknya benda berharga. Seandainya dia memang tidak membutuhkan hal tersebut maka kehadirannya seolah tak pernah nampak ada dihadapannya.

Sekarang, bagaimana dengan Ramadhan? Sepertinya tak ada bedanya dengan embun. Bukan, bermaksud untuk merendahkan moment istimewa ini. Moment dimana begitu banyak tawaran Allah bagi manusia yang ingin berlomba-lomba mengumpulkan amalan kebaikan. Hanya saja banyak manusia yang sering melupakannya.

Ramadhan hadir dalam setiap jengkal kehidupan manusia. Dimana Ramadhan berfungsi sebagai penyeimbang antara dosa dan kesalahan dengan amal sholeh yang telah dilakukan oleh seorang manusia. Seandainya saja dosa dan kesalahan itu dapat terlihat mungkin kita akan banyak menemukan pemandangan aneh yang berkeliaran disekitar kita.

Tapi dengan “Rahman-Nya” Allah masih mau menutupi semua dosa dan kesalahan yang pernah kita perbuat. Hingga manusia bisa berbuat semaunya seolah dirinya tak pernah berbuat apa-apa. Disini, Ramadhan dihadirkan agar manusia mau bertobat, berusaha untuk memperbaiki diri.

Manusia memang selalu mengagung-agungkan bulan Ramadhan. Jauh-jauh hari sebelumnya, mereka selalu merindukan hadirnya. Mereka berseru “Ya Rabbana, tolong pertemukan kami kembali dengan Ramadhan berikutnya..,”

Namun apa jadinya saat Ramadhan itu datang menghampiri mereka? Banyak diantara manusia yang tidak peduli. Mereka menjalani semua ini hanya sebatas meluluhkan kewajiban tanpa disertai kesungguhan dalam hati akan makna Ramadhan itu sendiri. Yang lebih miris lagi, ada yang hanya menganggap kalau moment Ramadhan adalah sebuah tradisi turun temurun yang sudah berlangsung selama ratusan tahun.

Sayang sekali, manusia sering kali tak dapat melepaskan diri dari tuntunan kehidupan. Manusia lebih banyak takut pada atasan daripada takut pada pencipta-Nya hingga dirinya mampu meninggalkan semua tawaran yang telah dijanjikan Allah. Bukankah rezeki-Nya itu terhampar luas seluas langit dan bumi. Apakah semua itu belum cukup untuk menjamin kehidupan dirinya maupun keluarganya?

Namun disaat Ramadhan itu mulai pergi meninggalkannya. Barulah muncul perasaan menyesal. Sadar akan kekhilafannya selama ini, telah menyia-nyiakan kesempatan yang ada. Padahal dirinya sendiri tahu kalau penyesalan itu tak pernah datang lebih dulu.

Ada baiknya kalau kita berusaha untuk menghargai waktu dan memanfaatkan setiap kesempatan yang kita miliki. Dalam hal ini, tak ada salahnya untuk memaksakan diri. Memaksakan diri pada awalnya memang akan terasa sulit tapi lama kelamaan akan terbiasa bahkan menjadi kebiasaan. Janganlah pernah risau apabila dimasa lalu kita masih banyak melakukan kesalahan. Yang terpenting, mulai saat ini dan nanti kita berusaha untuk melakukan perbaikan diri.

Kesempatan tak pernah hadir dua kali. Ramadhan yang kita lalui kali ini hanya berlalu sekali, takkan dapat terulang, takkan dapat terganti dan juga takkan dapat berbeli. Belum tentu kita bisa menikmati semua jaminan Allah ini di tahun depan.

Wallahu Alam Bishowab,

*

Bilik bamboo, 28 Syawal 1429 H