Senin, 17 Mei 2010

Sudah Istiharah, kenapa masih ragu?

Manusia tidak pernah bisa memilih, mau menjadi apa dan bagaimana cara hidupnya di dunia ini. Kita hanya bisa menerima begitu saja keadaan ini. Uniknya, dalam perjalanan hidup seseorang tak pernah lepas dari persoalan memilih dan mengambil keputusan. Kenapa? karena pada dasarnya setiap orang diberikan pilihan untuk memilih. Bahkan, saat dirinya merasa tak memiliki pilihan lain, sebenarnya ia masih tetap punya pilihan untuk tidak melalukannya.

Dalam menentukan suatu pilihan, tentunya kita ingin mendapatkan pilihan terbaik dan tak ingin salah pilih. Maka dari itu, Islam telah memberikan solusinya yaitu dengan melakukan Shalat Istiharah. Kenapa? Karena Allah Maha Tahu atas segala sesuatu, Allah Maha Tahu apa yang menjadi pilihan terbaik bagi kita.

“…Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu. Dan boleh jadi pula kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu. Allah Mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (QS. Al Baqarah, ayat 216)

Namun sebelumnya kita juga harus mengerti akan manfaat dari Istiharah itu sendiri, sehingga Istiharah yang kita lakukan itu murni karena kita benar-benar butuh dan mengharapkan keridhaan Allah untuk memilih yang terbaik, bukan karena hanya asal menjalankan saja. Adapun beberapa manfaat dari shalat Istiharah itu,diantaranya:

¨ Menetapkan Hati

Ketika keinginan sudah jelas, tentunya tujuan yang sesuai dengannya akan tampak dengan sendirinya. Namun ketika masih tersedia pilihan, barulah kita memohon petunjuk dengan Istiharah, dahulukan dengan ikhtiar sebelumnya. Ingat, jangan menyandarkan segala sesuatu pada-Nya hanya dengan mengandalkan Istiharah.

¨ Mencari Ketenangan

Salah satu cara ampuh untuk dapat ketenangan ialah menemukan dan berpegang pada yang kita percaya, yang kita cinta, yang kita yakini dapat membagi kebahagiaan dan ketenangan yang tak lain hanyalah Allah karena dia lah sumber dari segala sesuatu.

Dimana tak ada orang lain yang bisa diandalkan atau diri sendiri yang tak dapat mengatasi masalah atau seluruh dunia tak mau peduli lagi maka dalam kondisi tersebut manusia akan lebih mudah untuk menemukan Tuhannya.

¨ Mengambil Jarak dari Masalah

Dengan mengambil jarak dari masalah maka kita akan cenderung lebih obyektif untuk memandang suatu hal dari berbagai sudut pandang.

Terkadang kita menganggap kalau melakukan Shalat Istiharah itu hanya untuk urusan besar saja seperti memilih jodoh misalnya. Padahal itu adalah pemikiran seperti itu tidak tepat. Rasulullah sendiri selalu melakukan shalat Istiharah sebelum mengambil keputusan. Sebaliknya kita jarang sekali menyertakan Allah dalam setiap mengambil keputusan. Padahal dalam setiap keputusan yang kita ambil, memiliki resiko yang tidak kecil.

Namun ternyata seringkali terjadi kesalahan persepsi. Kita akan merasa cepat puas setelah melaksanakan Istiharah. Terlebih jika kita mendapatkan ketetapan hati atau mimpi akan suatu hal yang akan kita pilih. Apalagi kalau mimpi itu sesuai dengan apa yang diharapkan. Dengan penuh keyakinan, kita akan menganggap hal itu merupakan jawaban dari Allah dan pasti akan terjadi. Sehingga kita meyakini bahwa apa yang kita lakukan adalah hal yang paling benar.

Dan apabila mimpi itu tidak sesuai dengan apa yang diharapkan, kita akan buru-buru menepisnya dan berpura-pura menganggap kalau Istiharah itu tak penah dilakukan. Padahal ketetapan hati atau mimpi yang kita dapatkan setelah melakukan Istiharah itu, belum tentu kebenarannya. Karena sebenarnya hasil dari Istiharah itu, bukanlah hasil akhir dari penyelesaian suatu masalah namun merupakan awal perjuangan baru.

Kita juga masih sering ragu tatkala Istiharah sudah diupayakan tapi masih saja ada keraguan dalam hati akan keputusan yang akan kita ambil. Dalam hal ini, marilah kita lihat sabda Rasulullah SAW:

“Sesungguhnya pelaku ibadah itu mengira telah menegakkan shalat (sepenuhnya). Padahal tidaklah dicatat baginya (oleh malaikat pencatat amal baik) kecuali setengah sholatnya atau sepertiga sholatnya atau seperempat sholatnya atau seperlima sholatnya atau bahkan sampai sepersepuluh sholatnya.” [HR. Ahmad dan Abu Daud].

Dari hadist tersebut, sudah sepatutnya kita sadari kalau semakin sedikit bagian dari Istiharah yang tercatat sebagai amal baik maka akan semakin jauh pula hasil dari Istiharah dari yang kita harapkan.

Nah, sebaiknya kita tak perlu khawatir apabila ragu itu masih tetap muncul. Jangan biarkan keraguan itu menyurutkan semangat yang kita miliki. Tapi berusahalah untuk memperbesar peluang keberhasilan yang kita lakukan, dengan memperbanyak ibadah dan amal sholeh. Hingga waktu yang kita miliki tidak terbuang percuma dan sia-sia. Setuju??

X X X X

* Sumber: Istiharah Cinta, M. Sodik Mustika, dkk

Gagas media, Juli 2007

Membaca akan Membuka Cakrawala

IQRA… bacalah dengan nama Tuhanmu!

Begitulah Rasulullah SAW mulai diperkenalkan dengan wahyu pertamanya melalui Malaikat Jibril. Peristiwa tersebut membuktikan bahwa membaca itu memiliki peranan penting bagi kemajuan kecerdasan seseorang.

Dengan membaca kita akan mengetahui hal-hal yang belum kita ketahui sebelumnya, dengan membaca kita akan merasakan apa yang belum pernah kita rasakan sebelumya serta dengan membaca pula kita dapat mengunjungi tempat-tempat yang belum pernah kita kunjungi sebelumnya. Maka tidaklah mengherankan apabila dengan membaca akan membuka cakrawala pengetahuan.

Lagipula kegbeliautan membaca ini tidak menyita waktu yang cukup lama serta energi yang banyak. Kegbeliautan ini bisa kita lakukan kapan dan dimana saja. Dalam keadaan santai, saat beristirahat, dalam perjalanan ataupun saat terjebak dalam kemacetan. Aktifitas ini masih dapat kita lakukan.

Sekarang cobalah kita tengok sejenak kehidupan masyarakat di negeri Sakura sana. Mereka selalu menyempatkan diri untuk membaca dalam situasi dan kondisi apapun. Disaat sedang berada dalam perjalanan di kereta, atau bahkan sambil berjalan kaki sekalipun. Kebbeliausaan seperti ini adalah hal yang lumrah. Berbeda dengan kebbeliausaan kita di Indonesbeliau. Apabila ada seseorang yang melakukan kebbeliausaan seperti itu tentunya akan dbeliaunggap sebagai orang aneh atau bahkan bisa dbeliaunggap sebagai orang sinting.

Sebutlah salah satu penyair besar Madura D Zawawi Imran. Ditengah keterbatasan sarana yang diakibatkan kemiskinan yang menderanya dan keterbelakangan kampung halaman tempat beliau dilahirkan dan dibesarkan, beliau terus berjuang.

Betapa tidak, ditengah kemiskinan wawasan, rendahnya pendidikan, tidak adanya sarana bacaan, Zawawi rela berjalan kaki berpuluh kilometer ke kota kecamatan hanya untuk bisa membaca ‘koran’ satu-satunya yang menempel pada dinding kantor kecamatan. Hal ini dilakukannya setiap hari.

Kenapa? Karena dari koran itulah satu-satunya informasi yang bisa beliau dapatkan pada masa itu. Beliau percaya “Kalau sesuatu yang diperjuangkan dengan benar-benar pasti akan ada hasilnya…,”

Benar saja, apa yang selama ini beliau perjuangkan telah membuahkan hasil. Kini, beliau tidak hanya dikenal sebagai seorang penyair melainkan sebagai seorang penulis esei yang handal, penulis opini yang piawai, budayawan yang rendah hati serta penulis ratusan buku. Dari mulai puisi, cerita anak, kumpulan esai hingga kajian agama.

Saat ini dimana perkembangan jaman sudah semakin pesat, ratusan ribu media mulai dari buku, koran ataupun majalah telah menyerbu sudut-sudut pulau terkecil diseluruh pelosok tanah air. Minimal, buku-buku itu telah menyerbu perpustakaan sekolah hingga tingkat Sekolah Dasar.

Akan tetapi, dari sekian banyak media yang terbuka dan menyerbu setiap sudut itu, masih jarang yang mau memanfaatkan kesempatan ini. Apresiasi masyarakat untuk membaca masih sangat minim sekali.

Untuk ukuran generasi muda saja, hanya sebagian kecil yang masih mau melestarikan budaya membaca. Itupun sebatas hal-hal yang menghibur seperti novel atau cerita bergambar. Mereka masih menganggap kalau membaca adalah aktifitas yang sangat membosankan, tidak menarik dan kurang menantang. Padahal, apabila sudah terbiasa, mereka akan menemukan dunia lain yang belum pernah mereka kunjungi serta akan terhanyut didalamnya.

Sayang, masyarakat Indonesia masih beranggapan kalau orang yang senang membaca itu selalu diidentikkan dengan seseorang berpenampiln culun yang tidak tahu apa-apa, kurang gaul serta mengenakan kacamata tebal. Padahal tanggapan seperti ini tidak selamanya benar. Kita tidak bisa menghakimi seseorang hanya dengan melihat penampilan luarnya saja karena semua itu belum tentu terbukti kebenarannya.

Pernahkah anda mendengar, ada seorang anak penjual koran bisa mendapatkan hadiah milyaran rupiah hanya karena dirinya mampu menjawab sebuah pertanyaan yang diajukan dalam kuis yang diadakan di salah satu televisi swasta di tanah air?

Oleh sebab itu, membaca memberikan peranan yang sangat penting bagi kecerdasan seseorang. Tidak peduli asal usulnya…, tidak peduli latar belakangnya…, tidak peduli tinggi maupun rendah pendidikannya…, tapi kalau orang itu rajin membaca, tidaklah mengherankan apabila kemampuan yang dimilkinya bisa melebihi kemampuan orang yang berpendididkan sekalipun. Jadi mau sampai kapan anda masih malas untuk membaca??

v

· Sumber: Annida No.5/ XVI/ 15 Januari – 15 Pebruari 2007

Kelinciku Malang

Semua cerita ini bermula dari keinginan keponakan saya untuk memiliki binatang peliharaan di rumah. Maklumlah, namanya juga anak-anak. Hal apapun yang dimilikinya harus selalu sama dengan yang dimiliki teman-temannya. Sampai berhari-hari ia merengek minta dibelikan seekor kelinci.

Sepertinya tidak ada salahnya memelihara seekor kelinci di rumah karena kelinci itu binatang yang jinak dan lucu. Makanannya seperti wortel dan sayur mayur lainnya pun mudah didapatkan dimana-mana. Lagipula dengan hal itu, dia bisa belajar untuk berbagi dengan sesama mahluk Allah.

Dengan berbagai pertimbangan, akhirnya pada suatu sore ayahnya membelikan dia seekor anak kelinci berbulu halus dan tebal, berwarna coklat, bertubuh gempal dan bertelinga bulat. Betapa senangnya keponakan saya itu. Dengan rajin dia merawat dan mengajaknya bermain. Setiap hari, selalu saja ada tingkahnya yang membuat kami tertawa lepas. Kadang mengacak-acak tempat sampah, kadang mengedus-edus belanjaan ibu dan kadang pula sibuk di bawah meja makan saat kami sedang makan bersama. Setelah berminggu-minggu hidup bersama kami, kelinci itu iak hanya makan sayur mayur saja, melainkan memakan apa yang dimakan majikannya. Ada biscuit, nasi, pop corn, roti, tempe goreng, dsb.

Pada suatu hari, tiba-tiba saja kelinci itu menjadi murung, tidak lincah dan tak mau makan. Ia hanya tergolek lemah. Tidak ada sedikit pun makanan yang masuk ke dalam perutnya. Kami semua berupaya agar kelinci itu bisa segera pulih, tapi tetap saja upaya yang kami lakukan sia-sia. Dan esok paginya, kelinci itu kami temukan sudah tidak bernyawa lagi. Ya Allah, kami semua amat kehilangannya. Apalagi keponakan saya itu, ia terlihat sangat murung dan sedih. Kami tidak pernah menyangka kalau kelinci itu akan pergi begitu cepat.

Seminggu kemudian, ayahnya membelikan lagi penggantinya. Kali ini anak kelinci yang memiliki bulu yang putih bersih, bermata merah dan berkuping panjang. Tingkah lakunya pun lebih liar dari kelinci yang sebelumnya. Ternyata, tingkah laku seekor kelinci pun bisa berbeda. Ada yang jinak dan ada pula yang ganas.

Tapi malang, situasi yang sama terjadi kembali. Hanya dalam hitungan hari, kelinci itu tiba-tiba saja tergolek lemah, suranya melengking-lengking, tubuhnya seperti terpelanting dan beberapa saat kemudian jasadnya sudah membujur kaku.

Dari dua cerita diatas, terdapat pelajaran berharga yang dapat kita ambil. Tanpa kita sadari dari seekor kelinci pun kita tak pernah tahu kapan datangnya kematian. Kematian itu datangnya tiba-tiba, di mana dan kapan saja. Ada yang mudah dan ada pula yang sulit dalam menghadapinya. Tak seorang pun yang tahu akan semua rahasia ini. Hanya Allah lah yang Maha Mengetahui Segalanya.

Diri kita, bagaimana nasib kita di akhir penghidupan nanti? Baikkah? Atau burukkah? Tidak sedikit orang-orang baik akan berahkir dengan Suul Khotimah dan orang jahat akan berakhir dengan khusnul khotimah.

Sahabat, ada baiknya mulai saat ini kita mulai berbenah diri, memperbaiki diri sebelum kita menyesal pada akhirnya. Kita tidak pernah tahu bagimana akhir dari kehidupan kita nanti. Kematian itu bagaikan sebuah lampu minyak yang padam diterpa tiupan angin yang datang setiap saat.

Allahu alam bishowab,

v

Bandung, September 2005

Sisakan satu untukku

Mempertahankan sebuah persahabatan bukanlah perkara gampang. Apabila tidak disertai dengan perasaan saling mengerti dan saling menghargai, tentunya semua itu sulit untuk dipertahankan. Bersama saudara seiman pun, bukanlah perkara mudah. Apalagi untuk kami berdua yang memiliki keyakinan yang berbeda. Tapi syukurlah kami bisa melaluinya sampai sekarang.

Tujuh tahun, bukanlah waktu yang sebentar. Selama aku mengenalnya, dia adalah sosok sahabat yang cukup sempurna dimataku. Kenapa tidak? Dia baik, pengertian, selalu berada disampingku baik dalam suka maupun duka. Dia juga tak pernah mempermasalahkan perbedaan ini. Justru dia selalu mengingatkan aku akan pentingnya hubungan manusia dengan penciptanya.

Masih lekat dalam ingatan, empat tahun yang lalu. Disaat aku berada di tempat terasing yang sunyi, disaat semua teman-teman lain mulai meninggalkan aku, dia adalah satu-satunya orang yang tetap setia berada disampingku.

Namun, manusia memang tidak ada yang sempurna, begitulah keadaannya. Sebaik dan sesempurna apapun dirinya, dia masih saja memiliki kekurangan. Sedekat apapun hubungan ini, tetap saja kami dipisahkan oleh sebuah jurang yang bernama akidah.

Andai boleh memilih, aku juga ingin seperti orang lain yang memiliki seorang sahabat yang seakidah denganku. Tapi jalan hdupku memang seperti ini. Allah telah mengirim dirinya untuk menjadi sahabatku.

Mungkin persahabatan ini bisa diibaratkan sebagai air dan minyak, yang ditempatkan dalam dua gelas yang berbeda di mana keduanya bisa hidup berdampingan tanpa ada yang terganggu. Ya, seperti kami berdua yang tetap menjalin persahabatan walaupun berbeda keyakinan. Namun air dan minyak itu takkan pernah bisa menyatu meskipun disatukan dalam satu gelas yang sama. Begitupun hubungan dirinya dengan seseorang.

Terkadang aku merasa prihatin akan nasibnya yang selalu gagal untuk merajut kasih dengan seseorang, hanya karena semua kekasihnya memiliki keyakinan yang berbeda dengannya. Dan hal itu telah berulang kali terjadi.

Seandainya saja dia mau mengalah dan memutuskan untuk mengucapkan ‘dua kalimah Syahadat, tentu semua itu akan terasa mudah. Sebuah keputusan yang telah ditunggu oleh sekian banyak orang termasuk aku serta kekasihnya. Sungguh, setiap saat aku selalu menanti dia akan mengucapkan hal itu. Sayangnya, sampai detik ini pun dia tidak pernah pernah mau meninggalkan keyakinannya.

Hanyalah Allah yang berhak menentukan sebuah hidayah itu dapat hadir dalam hati seseorang. Bagi Rasulullah sendiri orang yang paling dicintai Allah, orang yang do’anya paling didengarkan dan dikabulkan Allah, beliau tidak berhasil menuntun pamannya untuk mengucapkan ‘dua kalimah sahadat’ sampai diakhir hidupnya. Meskipun kita semua tahu bagaimana pengorbanannya yang habis-habisan membantu perjuangan keponakannya untuk menegakkan dien Islam.

Bagaimana dengan diriku? Andaikan boleh, aku ingin Allah menyisakan satu saja, hidayah itu untuknya. Aku ingin memberikan hadiah itu padanya. Selama ini, aku akan terus berharap, akan adanya sebuah keajaiban yang muncul. Bukankah tak ada hal yang tidak mungkin bila Allah telah berkehendak.

Ya Robbana, wahai Tuhan yang membolak-balikkan hati manusia, tunjukkanlah dia kembali ke jalan-Mu hingga dirinya dapat berkumpul bersama kami, orang-orang yang mencintainya.

v

Bandung 12 Maret 2008

Berkaca dalam kubangan lumpur

Kubangan lumpur, kotor. Begitu orang mengidentikkannya. Apalagi di musim penghujan seperti sekarang ini. Kubangan lumpur sering muncul dimana-mana. Siapa yang peduli dengan kehadirannya? Tak ada, paling hanya akan mengotori pakaian yang kita kenakan dengan cipratannya. Begitulah manusia, hanya mau menghargai suatu hal apabila hal tersebut dapat memberikan manfaat atau keuntungan bagi dirinya.

Tanpa disadari, sering kali kita melupakan kehadiran orang-orang yang berada disekitar. Apalagi kalau orang yang bersangkutan tidak pernah memberikan kontribusi sedikitpun bagi kita. Semua dianggap seolah tak pernah ada atau hanya dipandang dengan sebelah mata saja. Misalnya para Tuna Wisma/ gelandangan, Tuna Netra, Tuna Daksa, Tuna Grahita, dsb.

Dengan demikian apa bedanya kubangan lumpur itu dengan orang-orang yang berada disekitar kita. Dibalik penampilannya yang jelek, kotor dan kumal serta semua keterbatasan yang dimilikinya, mereka masih memiliki hal luar biasa yang tak pernah kita miliki.

Terkadang orang-orang terpelajar selalu merasa tinggi hati akan ilmu yang dimiliki hingga membuatnya lupa diri. Namun dirinya telah lupakan beberapa hal penting yang sangat berpengaruh dalam kehidupan. Dimana, hal-hal tersebut tak pernah bisa kita dapatkan di sekolah manapun.

Dari mereka, kita bisa banyak belajar mengenai hal-hal yang luar biasa yang tak pernah kita miliki. Dan apakah itu?

Ø Ketulusan

Sebisa mungkin, mereka selalu memberikan bantuan kepada siapa saja yang membutuhkan pertolongannya. Tulus ikhlas tanpa pandang bulu. Pernahkah kita berbuat demikian? Rasanya tidak atau mungkin belum.

Untuk memberikan bantuan kecil saja, terkadang kita sering mempertimbangkan banyak hal. Seperti: Kenal atau tidak, cantik atau tidak, berharta atau tidak.

Bukankah semua manusia itu kedudukannya sama dimata Tuhan, hanyalah keimanan dan ketakwaan yang membedakannya.

Ø Memiliki ahlaq dan budi pekerti yang luhur

Satu hal yang sering kita lupakan yaitu keramahan. Ya, keramahan selalu gratis dan tak pernah bisa diukur dengan materi. Kita tidak memerlukan biaya untuk bisa bersikap ramah kepada orang lain.

Tapi kenapa, keramahan itu terasa berat untuk kita lakukan? Bukankah kita ini lebih berpendidikan dari mereka? Apalah artinya pendidikan tinggi ini jika ahlaq dan budi pekerti yang sederhana saja sering kita lupakan. Mereka tidak penah menaruh perasaan curiga apalagi benci terhadap orang asing yang baru dikenalnya.

Kita sendiri..? justru kebalikannya. Kita sering menilai dan menghargai seseorang hanya dengan melihat penampilan luarnya saja. Kalau orang tersebut terlihat rapi dan berharta, tentu kita akan menghargainya tanpa menaruh rasa curiga sedikit pun. Padahal mungkin saja orang itu akan bermaksud jahat. Akan tetapi, kalau orang tersebut berpenampilan kotor dan kumal, kita akan menjauhinya dengan penuh rasa curiga. Padahal mungkin saja orang itu akan memberikan keuntungan bagi kita.

Ø Semangat

Dari segi fisik dan materi kita memang masih memiliki nilai plus dari mereka. Tapi, untuk urusan semangat kidup, mereka lah ahlinya. Pernahkah kita mendengar seseorang yang mengalami kebutaan pemanen merasa stres dengan keadaannya? Tidak, justru dengan segala keistimewaan yang dimilikinya, mereka sanggup bertahan dan berusaha agar bisa sejajar dengan kita. Mereka tidak ingin dikasihani. Mereka tidak suka kalau kita memberikan perhatian yang lebih hanya karena keistimewaan yang dimilikinya.

Semangat yang mereka miliki sangat luar biasa. Dalam kamus mereka, tidak mengenal istilah bete, menyerah apalagi putus asa. Sangat berbanding terbalik dengan kita yang lebih banyak malas, godaan sedikit bete, masalah bertambah nyerah, ujung-ujungnya putus asa. Apa tidak malu dengan mereka?

Ø Tak pernah lupakan Sang Pencipta

Sesulit apapun situasi yang sedang dihadapinya. Mau kesulitan hidup yang terus menghimpit, dikejar-kejar kamtib, sampai sulitnya mencari nafkah. Umpamanya sekarang makan… besok tak tahu, besok makan…lusa tak tahu, begitu dan begitu seterusnya.

Mereka tak pernah memiliki perencanaan untuk masa depan seperti kita. Tapi mereka tak pernah mempermasalahkannya. Mereka selalu yakin kalau Tuhan akan selalu menyertai mereka dimana pun dan kapan pun. Bukankah Tuhan tidak akan membiarkan semua usaha mereka sia-sia?

Ada baiknya jika saat ini mungkin kita mulai berkaca dari kubangan lumpur yang kotor. Jangan hanya berkaca dari sebuah cermin yang jernih saja. Karena dari orang-orang sederhana seperti mereka yang dianggap jelek dan kotor lah, kita banyak mengambil pelajaran berharga.

Apalah artinya kesempurnaan fisik dan harta melimpah yang kita miliki. Tentunya semua itu akan jauh lebih bermakna lagi apabila disertai dengan ahlaq terpuji seperti saudara-saudara kita ini yang keberadaannya sering dilupakan

v

Taman Naga, penghujung Muharam 1428 H

Kapan, aku di Jemput Pulang?

Dalam sebuah pelatihan SSQ di Bandung, KH. Fahmi Basya memberikan sebuah pertanyaan singkat kepada para peserta “Jika anda diberi kesempatan, kira-kira berapa lama lagi anda ingin hidup di dunia ini?” Sebuah pertanyaan yang sederhana tapi cukup membingungkan untuk dijawab.

“Hmm, berapa ya? Kalau sekarang, suami dan anak-anak masih membutuhkan saya. Tapi kalau nanti, pasti teman-teman saya sudah lebih dulu pergi...,” kilah seorang ibu sambil menghtung jari jemarinya yang sudah tak lentik.

Dan tentunya jawaban dari para peserta lainnya cukup beragam. Ada yang menjawab 10, 20 dan bahkan ada yang menyebut 100 tahun lagi seperti kata Chairil Anwar, seorang Pujangga. Nah, seandainya memang Allah mengabulkan keinginan tersebut, apa yang akan dilakukan? Apakah dapat menjamin kebahagiaa seseorang? Jawabnya belum tentu.

Sebuah fakta menyebutkan, pada tahun 2005 ada seorang wanita yang merayakan Ulang Tahunnya yang ke-135. Hampir semua orang turut berbahagia dan berdecak kagum padanya. Mereka bertanya, apa resep yang digunakan nenek itu hingga dirinya mampu mempertahankan stamina dalam usia selanjut itu?

Namun apakah benar nenek itu memang sedang berbahagia? Ternyata tidak. Biarpun Allah telah memberikan semua kelebihan itu, tapi dirinya tidak pernah merasa bahagia apalagi sampai menikmati semua itu. Kenapa? Karena tidak satu pun orang yang dikenalnya ada disisinya. Suami, sudah lama meninggal. Anak-anak, sudah lebih dulu meninggal. Teman-temannya, apalagi. Jadi untuk apa memiliki umur yang panjang apabila tidak barokah dan hanya menambah dosa saja?

“Allah menciptakan kamu kemudian mewafatkan kamu dan diantara kamu ada yang dikembalkan kepada umur yang paling lemah (pikun) supaya dia tidak mengetahui lagi sesuatu pun yang pernah diketahuinya. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Kuasa.” (Q.S A-Nahl, 16: ayat 70)

Kisah tersebut mengingatkan saya pada salah seorang kenalan. Dia adalah seorang nenek yang memiliki enam orang putera dengan cucu dan cicit yang tidak terhitung jumlahnya. Dia mengaku pernah mengalami pahit getirnya hidup pada masa penjajahan Belanda dan Jepang. Selepas masa kemerdekaan dan dalam keadaan serba kekurangan, bersama almarhum suaminya mereka berusaha membesarkan dan mendidik semua puteranya.

Saat ini mungkin ia bisa bernafas lega karena semua anaknya telah dewasa dan masing-masing sudah membentuk keluarga yang mapan. Banyak orang yang memuji akan keberhasilannya. Tapi dirinya tidak bahagia. Dia masih merasa tidak nyaman dengan kehidupannya. Kenapa? Karena tidak ada satu pun dari anak cucunya yang peduli dengan kehadirannya. Keberadaanya sudah dianggap tiada, apalagi kalau sudah benar-benar tiada

Mungkin juga, sebagian dari mereka ada yang berharap agar nenek itu segera meninggal dunia dan harta warisnya yang tersebar dimana-mana akan segera dibagikan pada anak cucunya. Tapi Allah berkehendak lain, dari tahun ke tahun, dari masa ke masa, kondisi nenek itu tetap sehat, paling hanya sedikit masuk angin atau flu biasa. Padahal orang-orang yang sebaya dengannya telah lama meninggalkannya, termasuk juga suaminya. Dan bahkan orang-orang yang usianya jauh dibawahnya juga telah lebih dulu meninggalkannya.

Apalah artinya hidup lebih lama apabila keberadaannya sudah tidak diterima lagi oleh orang-orang yang ada disisinya? Itu semua sungguh merupakan penderitaan yang luar biasa. Semua hal yang ia kumpulkan selama puluhan tahun ternyata tidak bisa membantunya, walau hanya ditukar dengan sebuah senyuman bahagia. Semua kenikmatan itu sudah tidak berguna lagi di dunia ini, apalagi diakhirat nanti?

Kini, nenek itu hanya bisa diam sambil duduk terpaku menatap langit, bathinnya terus bergelut dengan sebuah tanya “kapan aku dijemput pulang?

v

Malam Ahad, 18 Rabiul Akhir 1429 H

Persahabatan itu Anugerah Allah Untukku

Sejak duduk dibangku SMP aku memiliki seorang teman sebangku. Ternyata ia berbeda keyakinan denganku. Walaupun begitu aku tetap senang berteman dengannya karena orangnya baik, ramah dan supel serta tak pernah pandang bulu dalam pergaulan. Ia juga selalu memberi saran dan solusi akan masalah yang tengah kuhadapi saat itu.

Menurutku, perbedaan agama bukanlah penghalang bagi terwujudnya suatu persahabatan. Asalkan kita bisa saling menghormati dan menghargai keyakinan kita masing-masing. Aku masih berpegang teguh pada firman Allah SWT dalam penggalan terakhir surat Al Kafiruun yang berbunyi “lakum dinukum waliyadin… untukku agamaku dan untukmu agamamu.”

Dia selalu mengingatkanku untuk segera melaksanakan sholat lima waktu. Menurutnya kita harus menjalankan keyakinan kita ini dengan sepenuh hati. Aku masih ingat betul kebiasaannya yang senang mendengarkan kumandang adzan, walaupun ia tak mengerti artinya namun apapun aktifitas yang dilakukannya akan ia hentikan untuk menyimaknya. Katanya suara itu membuat hatinya terasa sejuk dan damai. Kita..? seringkali kita tak pernah menghiraukannya atau barangkali malah mengeluh karena tontonan tivi yang lagi seru tertunda oleh adzan tsb. Apabila menghadapi hidangan dia tidak pernah lupa untuk berdoa dengan khusuk tapi kita sendiri? Seringkali kita menyepelekan hal seperti itu. Bahkan dengan mudahnya kita beralasan lupa walau hanya mengucap ‘bismilah’ saja. Padahal Islam telah mengajarkan kita semua tentang adab dan tata cara makan, bukan?

Menginjak bangku SMA, karena sesuatu hal akhirnya kami harus berpisah karena memasuki sekolah yang berbeda. Tapi persahabatan ini tetap terbina. Di sekolah yang baru, aku belajar mendalami Islam dan mulai menggunakan JILBAB. Mulanya aku sempat ragu kalau sahabatku yang satu ini tak akan menerima keadaanku yang sekarang. Ternyata dugaanku meleset, ia malah menjadi orang pertama yang mendukungku untuk melalui semua ini. Dan akupun tetap mempertahankan persahabatan ini.

Mungkin, orang lain menganggap kalau pilihanku ini salah. Selama ini dia tidak pernah merugikanku bahkan ia menjadi jalan agar aku selalu mengingat-NYA. Aku selalu berdoa agar Allah memberikan hidayah untuknya. Namun apa mau dikata karena hidayah Allah hanya diperuntukkan bagi orang yag dikehendaki-Nya tapi tidak untuk dirinya.

Pada suatu hari, dia datang berkunjung ke rumah bersama seseorang. Ternyata mereka akan segera melangsungkan pernikahan dalam waktu dekat. Mereka berharap agar aku bisa menghadirinya. Sayang, aku tak dapat menghadirinya. Sejak itu cukup lama aku tak pernah mendengar kabarnya lagi. Mungkin dia marah, karena aku tidak menghadiri pesta pernikahannya. Biarlah, toh sekarang sudah ada orang yang tepat untuk menggantikan posisiku. Hingga dia takkan bersedih bila kutinggalkan.

Di tempatku bekerja, aku juga menemukan seorang teman baru yang ternyata berbeda keyakinan kembali. Ia sangat menghormati ajaran Islam. Menurutnya ibadah itu tidak boleh ditunda-tunda. ‘tak ada orang yang bisa saya percaya sepenuhnya selain teteh, walaupun keyakinan kami memang sama tetap saj’, begitulah penuturanya.Dia selalu mengadu dan mengeluh akan semua masalah yang dihadapinya.

Biarpun aku sudah tak bekerja lagi disana dan frekuensi pertemuan kami yang semakin jarang pun, ia selalu datang ke rumah untuk mengunjungiku. Hingga suatu saat aku sampai terbaring lemah beberapa minggu lamanya di RS yang tempatnya sangat terpencil, dialah orang pertama yang datang mengunjungiku dan memberiku semangat untuk tetap berjuang melawan penyakit yang tengah kuderita. Begitulah sampai sekarang pun, kekeluargaan ini masih tetap terjalin baik.

Terkadang aku merasa bimbang menghadapi situasi seperti ini. Mau sampai kapan semua ini akan aku jalani? Ya Allah seandainya saja aku tiba-tiba menjauh darinya tentu dia akan merasa kecewa dan sakit hati. Mungkin sebaiknya aku harus menjaga jarak dengannya. Biarlah waktu yang menyelesaikan segalanya, tanpa ada pihak yang merasa disakiti.

Entah kenapa aku dipercaya Allah untuk menjalaninya. Menyesal…? Tidak, aku tak pernah menyesali semua ini. Tidak semua orang dipercaya untuk menjalani pengalaman hidup seperti ini. Bagiku semua ini adalah karunia Allah untukku. Semoga saja, suatu hari nanti aku bisa menemukan sahabat sejati yang benar-benar seakidah denganku….( Amien)

v

Bandung, 24 Agustus 2005